alexametrics

Jangan Jemawa, Korona Makin Dekat dengan Kita

loading...
Jangan Jemawa, Korona Makin Dekat dengan Kita
Publik melawan Corona.Foto/Dok Okezone
A+ A-
Pelonggaran kebijakan penanganan Covid-19 seperti rencana pembukaan mal, pasar, pertokoan, hingga sekolah dalam waktu dekat membuat banyak masyarakat kaget, penuh harap, sekaligus waswas. Dalam perspektif ekonomi, kebijakan itu bisa dipahami karena didasari asumsi untuk menggerakkan keuangan. Ketika aktivitas ekonomi bergerak lagi, ancaman pengangguran dan kemiskinan yang berpotensi menjadi masalah besar bangsa ini harapannya bisa dihindari.

Namun, asumsi ini tak cukup menjawab kekhawatiran publik. Di tengah penanganan Covid-19 yang belum tuntas, kebijakan ini memang cenderung kontraproduktif. Kita lihat, hingga kemarin, penambahan kasus positif baru terus terjadi. Tak hanya di wilayah Jakarta dan sekitarnya, tren kenaikan juga tampak di berbagai daerah. Demikian di level global, kurva peningkatan kasus juga masih menanjak hingga menembus 4,8 juta orang.

Dengan fakta ini, sejatinya, Covid-19 di Indonesia belum tuntas. Data yang muncul di publik pun hakikatnya belum mampu memotret situasi yang terjadi sesungguhnya. Apakah rapid test selama ini sudah menjangkau seluruh penduduk Indonesia? Jangankan seluruh penduduk yang jumlahnya hampir 270 juta jiwa, 10% dari total itu pun belum terjangkau.



Ini artinya apa? Semua pihak masih meraba-raba. Kapan puncak pandemi ini bakal terjadi pun, semua juga masih berbasis prediksi. Jawa Timur, misalnya, Gugus Tugas Percepatan Penanganan (GTPP) Covid-19 setempat memperkirakan puncak pandemi terjadi Juni nanti. Kisaran jumlah kasus yang diperkirakan mencapai 4.000. Keyakinan itu muncul karena saat ini kasus sudah mencapai sekitar 2.000-an. Demikian hitung-hitungan Gugus Tugas dengan segala asumsi yang ada. Namun, sejauh mana tes cepat ini sudah dilakukan, juga masih menyisakan pertanyaan. Belum lagi melihat rencana pemerintah menciptakan kehidupan dengan new normal style dalam waktu dekat, tampaknya prediksi itu perlu direvisi.

Ikhtiar new normal l ewat kebijakan pelonggaran seperti membuka aktivitas lagi fasilitas umum, sekali lagi, adalah menjadi strategi demi memberi nyawa kembali kehidupan yang sempat mati suri. Dalam konteks ideal, semestinya pelonggaran hanya bisa dilakukan jika antivirus sudah ditemukan dan berhasil menyembuhkan. Atau, setidaknya, kasus ini benar-benar teratasi dengan penurunan jumlah korban meninggal secara signifikan.

Kini, pelonggaran sebagian telah berjalan seperti di sektor transportasi. Jika pelonggaran lebih besar benar akan dimulai 1 Juni nanti, yang perlu ditekankan adalah pentingnya saling menjaga diri dan lingkungan terdekat. Pesan ini penting karena tanpa kesadaran pribadi lebih dini, potensi ledakan kasus bisa saja terjadi. Pemerintah memang memiliki asumsi bahwa penduduk di bawah usia 45 tahun lebih kuat sehingga dianjurkan bekerja normal. Namun, siapa yang bisa menjamin bahwa golongan ini tak bisa terpapar ganasnya Covid-19? Siapa pula bisa menjamin, golongan ini bisa aware terhadap lingkungan terdekatnya seperti kala sampai rumah atau bertemu dengan kerabatnya.

Siapa pula yang bisa menjamin bahwa saat pasar dan mal dibuka, ada standar dan prosedur tegas yang berpatokan pada protokol kesehatan Covid-19. Lebih-lebih ketika pada 15 Juni nanti saat sekolah beroperasi kembali, siapa yang bisa menjamin anak-anak kita bisa tidak akan tertular virus ini. Apakah mereka dengan segala ‘naluri kebebasannya’ sudah memiliki kesadaran tinggi menjaga kesehatan? Apakah keyakinan bahwa herd immunity akan terbentuk dalam situasi ini benar-benar sudah terukur? Semuanya masih keyakinan semu yang belum teruji empirik.

Dengan fakta ini, sejatinya, ketika new normal diberlakukan, virus-virus korona sangat mungkin makin dekat dengan kita. Di tengah kondisi ini, tidak ada strategi jitu yang lebih baik kecuali menguatkan imunitas diri secara berkelanjutan. Masing-masing dari diri kita jangan jemawa, tapi harus memiliki kesadaran tinggi bahwa virus ini belum berhenti dan masih menjadi ancaman bersama.
(zil)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak