Pertarungan Final Prancis Vs Jerman Berebut Kapal Selam Indonesia
Senin, 20 November 2023 - 05:07 WIB
loading...
Ilustrasi: Masyudi/SINDOnews
A
A
A
KAPAL selam apakah yang bakal diakuisi Indonesia? Hingga kini, belum ada keputusan resmi apakah Kementerian Pertahanan (Kemhan) membeli kapal selam made in Prancis atau Jerman. Namun hampir dipastikan, kedua negara produsen alutsista kelas kakap dunia itu memasuki putaran terakhir dan bertarung keras mendapatkan kontrak efektif pembangunan kapal selam.
baca juga: Dilarang Sembarangan Membeli Kapal Selam
Persaingan dua perusahaan yang mewakili dua negara utama benua biru --yakni Naval Group Prancis versus Thyssen-Krupp Marine Systems (tkMS) Jerman—jelang tahun terakhir Minimum Essential Force (MEF) 2019-2024 berakhir terasa sengit. Teranyar, Naval Group bahkan memperbaharui proposal kapal selam jenis Scorpene untuk Indonesia akan menggunakan full lithitum-ion batteries (LIB). Dengan demikian, kapal selam jenis Scorpene Evolved ini akan memiliki endurance paling lama dibanding varian Scorpene sebelumnya.
Berdasar berbagai informasi, Scorpene Evolved mampu menyelam selama 80 hari- 78 di antaranya dalam posisi menyelam, dengan jangkauan operasional lebih dari 8.000 mil laut, memiliki lower indiscretion rate, dan mampu mempertahankan kecepatan tertinggi lebih lama. Kapasitas ini dimiliki karena LIB bisa menyimpan dan menyalurkan lebih banyak energi dengan waktu pengisian lebih singkat dibandingkan baterai timbal-asam (lead-acid batteries).
Sebelum Scorpene Evolved, Naval Group mengajukan kapal selam kelas Riachuelo. Kapal selam jenis ini merupakan modifikasi dari kelas Scorpene, dengan ukuran lebih panjang, memiliki jarak patrol dua kali lipat, fungsi multiguna untuk operasi di samudra maupun perairan dangkal. Karena itu, Riachuelo bisa diandalkan untuk berbagai misi seperti perang anti-permukaan dan anti-kapal selam, operasi khusus, dan kegiatan intelijen.
Mengapa Naval Group tiba-tiba mengubah proposalnya? Tak lain karena ketatnya persaingan dengan tkMS. Pabrikan tersebut sudah tentu ingin memenangkan tender dengan memberikan penawaran terbaik, termasuk jenis dengan teknologi teranyar. Di sisi lain, manuver ini dikeluarkan tak lama setelah KSAL Laksamana TNI Muhammad Ali mengunjungi galangan produsen Kapal Selam tkMS yang bermarkas di Kiel, Jerman, (25/09).
Pada kesempatan itu, KSAL dan rombongan menerima penjelasan tentang produksi submarine 212/214, pengenalan sejumlah perkembangan jeroan kapaal selam seperti terpedo SUT, konfigurasi sistem senjata, serta sensor pada produk kapal selam yang telah dan sedang dibangun. Secara psikologis, kondisi tersebut membuat was-was Naval Group, karena bisa memupuskan berbagai pendekatan yang selama telah dilakukan.
Sebelumnya, perwakilan tkMS pernah datang ke Jakarta dan bertemu langsung dengan Menhan Prabowo Subianto dan Menteri BUMN Erik Thohir untuk menyerahkan proposal kapal selam Diesel-Listrik (SSK) tipe 214. tkKMS juga pernah menawarkan produk terdahulunya, yakni kapal selam diesel HWD tipe 212. Tentu kepada pihak Indonesia tkMS tidak perlu berbusa-busa untuk meyakinkan otoritas Indonesia untuk menjelaskan kehandalan salah satu kapal selam canggih bertipe hybrid itu.
Dari sejumlah informasi, Tipe 214 menggabungkan desain tipe 209 dan tipe 212A yang telah lahir sebelumnya. Penggabungan ini memberi solusi penghematan biaya operasional signifikan dan menjadi opsi terbaik untuk digunakan bagi angkatan laut global.Selain ekonomis, kapal sepanjang dapaat memuat 8 tabung senjata, menyelam di kedalaman laut hingga 400 meter (1.300 kaki).
baca juga: Kemhan Boyong Kapal Selam Penyelamat dari Inggris
Dengan teknologi fuel cell air-independent propulsion (AIP) system terbaru ini, tipe 214 ini teruji meningkatkan ketahanan saat berada di kedalaman laut, mampu beroperasi hingga 84 hari, dan bisa mengurangi risiko terdeteksi dengan dukungan upgrade dari kapabilitas sonar. Selain itu, tipe 214 fleksibel untuk dioperasikan di perairan pesisir mapun laut lepas.
Untuk persenjataan yang ditentengnya juga tidak kaleng-kaleng, bisa membawa torpedo, rudal, dan ranjau. Kecanggihan inilah yang menarik Korea Selatan Turki, Yunani, dan Israel untuk menjadikannya sebagai tulang punggung armada lautnya.
Selain kecanggihan dan kemampuan battle proven, apa lagi yang ditawarkan tkMS? Perusahaan tersebut ternyata telah menegaskan tidak akan memberikan transfer of technology (ToT) seperti halnya telah ditawarkan Naval Group. Di injury time pertarungan, mereka hanya berani menawarkan penurunan harga untuk pembelian unit ke empat.
Untuk diketahui, proyeksi kekuatan TNI AL pada 2025–2045 menempatkan pengadaan kapal selam sebagai prioritas. Menhan Prabowo Subianto beberapa saat setelah musibah KRI Nanggala-402 mengatakan akan menambah 3 kapal selam baru. Namun sesuai target MEF III, TNI AL harus memiliki total 12 kapal selam. Dengan begitu, perlu ada penambahan 8 kapal selam baru.
baca juga: Dilarang Sembarangan Membeli Kapal Selam
Persaingan dua perusahaan yang mewakili dua negara utama benua biru --yakni Naval Group Prancis versus Thyssen-Krupp Marine Systems (tkMS) Jerman—jelang tahun terakhir Minimum Essential Force (MEF) 2019-2024 berakhir terasa sengit. Teranyar, Naval Group bahkan memperbaharui proposal kapal selam jenis Scorpene untuk Indonesia akan menggunakan full lithitum-ion batteries (LIB). Dengan demikian, kapal selam jenis Scorpene Evolved ini akan memiliki endurance paling lama dibanding varian Scorpene sebelumnya.
Berdasar berbagai informasi, Scorpene Evolved mampu menyelam selama 80 hari- 78 di antaranya dalam posisi menyelam, dengan jangkauan operasional lebih dari 8.000 mil laut, memiliki lower indiscretion rate, dan mampu mempertahankan kecepatan tertinggi lebih lama. Kapasitas ini dimiliki karena LIB bisa menyimpan dan menyalurkan lebih banyak energi dengan waktu pengisian lebih singkat dibandingkan baterai timbal-asam (lead-acid batteries).
Sebelum Scorpene Evolved, Naval Group mengajukan kapal selam kelas Riachuelo. Kapal selam jenis ini merupakan modifikasi dari kelas Scorpene, dengan ukuran lebih panjang, memiliki jarak patrol dua kali lipat, fungsi multiguna untuk operasi di samudra maupun perairan dangkal. Karena itu, Riachuelo bisa diandalkan untuk berbagai misi seperti perang anti-permukaan dan anti-kapal selam, operasi khusus, dan kegiatan intelijen.
Mengapa Naval Group tiba-tiba mengubah proposalnya? Tak lain karena ketatnya persaingan dengan tkMS. Pabrikan tersebut sudah tentu ingin memenangkan tender dengan memberikan penawaran terbaik, termasuk jenis dengan teknologi teranyar. Di sisi lain, manuver ini dikeluarkan tak lama setelah KSAL Laksamana TNI Muhammad Ali mengunjungi galangan produsen Kapal Selam tkMS yang bermarkas di Kiel, Jerman, (25/09).
Pada kesempatan itu, KSAL dan rombongan menerima penjelasan tentang produksi submarine 212/214, pengenalan sejumlah perkembangan jeroan kapaal selam seperti terpedo SUT, konfigurasi sistem senjata, serta sensor pada produk kapal selam yang telah dan sedang dibangun. Secara psikologis, kondisi tersebut membuat was-was Naval Group, karena bisa memupuskan berbagai pendekatan yang selama telah dilakukan.
Sebelumnya, perwakilan tkMS pernah datang ke Jakarta dan bertemu langsung dengan Menhan Prabowo Subianto dan Menteri BUMN Erik Thohir untuk menyerahkan proposal kapal selam Diesel-Listrik (SSK) tipe 214. tkKMS juga pernah menawarkan produk terdahulunya, yakni kapal selam diesel HWD tipe 212. Tentu kepada pihak Indonesia tkMS tidak perlu berbusa-busa untuk meyakinkan otoritas Indonesia untuk menjelaskan kehandalan salah satu kapal selam canggih bertipe hybrid itu.
Dari sejumlah informasi, Tipe 214 menggabungkan desain tipe 209 dan tipe 212A yang telah lahir sebelumnya. Penggabungan ini memberi solusi penghematan biaya operasional signifikan dan menjadi opsi terbaik untuk digunakan bagi angkatan laut global.Selain ekonomis, kapal sepanjang dapaat memuat 8 tabung senjata, menyelam di kedalaman laut hingga 400 meter (1.300 kaki).
baca juga: Kemhan Boyong Kapal Selam Penyelamat dari Inggris
Dengan teknologi fuel cell air-independent propulsion (AIP) system terbaru ini, tipe 214 ini teruji meningkatkan ketahanan saat berada di kedalaman laut, mampu beroperasi hingga 84 hari, dan bisa mengurangi risiko terdeteksi dengan dukungan upgrade dari kapabilitas sonar. Selain itu, tipe 214 fleksibel untuk dioperasikan di perairan pesisir mapun laut lepas.
Untuk persenjataan yang ditentengnya juga tidak kaleng-kaleng, bisa membawa torpedo, rudal, dan ranjau. Kecanggihan inilah yang menarik Korea Selatan Turki, Yunani, dan Israel untuk menjadikannya sebagai tulang punggung armada lautnya.
Selain kecanggihan dan kemampuan battle proven, apa lagi yang ditawarkan tkMS? Perusahaan tersebut ternyata telah menegaskan tidak akan memberikan transfer of technology (ToT) seperti halnya telah ditawarkan Naval Group. Di injury time pertarungan, mereka hanya berani menawarkan penurunan harga untuk pembelian unit ke empat.
Untuk diketahui, proyeksi kekuatan TNI AL pada 2025–2045 menempatkan pengadaan kapal selam sebagai prioritas. Menhan Prabowo Subianto beberapa saat setelah musibah KRI Nanggala-402 mengatakan akan menambah 3 kapal selam baru. Namun sesuai target MEF III, TNI AL harus memiliki total 12 kapal selam. Dengan begitu, perlu ada penambahan 8 kapal selam baru.
Lihat Juga :