Selamat Datang 2022, Tahun Kebaikan
Sabtu, 01 Januari 2022 - 09:25 WIB
loading...
Pergantian malam Tahun Baru 2022 di Palembang. Foto/MPI
A
A
A
TAHUN 2021 telah kita lewati. Beragam cerita suka dan duka telah dilalui. Sebagai bangsa Indonesia, 2021 adalah tahun tahun berat. Sebagaimana dialami hampir seluruh bangsa di dunia. Pandemi Covid-19 yang menyebar dari Kota Wuhan, China pada akhir 2019 lalu hingga kini masih menghantui dunia.
Wabah yang dikenal sebagai virus Corona ini benar benar menunjukkan betapa manusia itu mahkluk yang sangat lemah. Tapi ketika merasa sudah menguasai segala hal, manusia menjadi sombong dan lupa diri bahwa dia hanyalah makhluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa.
Kesombongan tertinggi manusia adalah ketika mereka merasa dirinya sama dengan Tuhan dengan kemampuan menciptakan segala hal dengan teknologi paling canggih yang belum pernah diciptakan manusia sebelumnya. Peradaban maju dan modern yang semua terhubung secara digital dianggap sebagai puncak pencapaian karya manusia.
Semua bangsa berlomba menuju ke sana. Siapa yang paling cepat, paling kuat, paling berkuasa dan paling kaya akan mendikte perjalanan dunia sesuai kemauannya. Di sinilah keserakahan dan kesombongan mencapai puncaknya. Seolah olah takdir dunia ini mereka bisa atur sesuai kepentingan dan nafsunya.
Tapi apa yang terjadi justru sebaliknya. Semakin tinggi peradaban versi manusia yang serakah dan sombong itu semakin menujukkan titik lemahnya. Dunia tidak semakin baik, teratur, makmur, bahagia, sejahtera seperti yang mereka inginkan. Justru bencana-bencana akibat ulah manusia datang silih berganti dalam kurun waktu lima tahun terakhir ini. Kelaparan, penyiksaan, pembunuhan, kekurangan pangan, penindasan, peperangan, berbagai macam bentuk kejahatan marak dan subur.
Wabah yang dikenal sebagai virus Corona ini benar benar menunjukkan betapa manusia itu mahkluk yang sangat lemah. Tapi ketika merasa sudah menguasai segala hal, manusia menjadi sombong dan lupa diri bahwa dia hanyalah makhluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa.
Kesombongan tertinggi manusia adalah ketika mereka merasa dirinya sama dengan Tuhan dengan kemampuan menciptakan segala hal dengan teknologi paling canggih yang belum pernah diciptakan manusia sebelumnya. Peradaban maju dan modern yang semua terhubung secara digital dianggap sebagai puncak pencapaian karya manusia.
Semua bangsa berlomba menuju ke sana. Siapa yang paling cepat, paling kuat, paling berkuasa dan paling kaya akan mendikte perjalanan dunia sesuai kemauannya. Di sinilah keserakahan dan kesombongan mencapai puncaknya. Seolah olah takdir dunia ini mereka bisa atur sesuai kepentingan dan nafsunya.
Tapi apa yang terjadi justru sebaliknya. Semakin tinggi peradaban versi manusia yang serakah dan sombong itu semakin menujukkan titik lemahnya. Dunia tidak semakin baik, teratur, makmur, bahagia, sejahtera seperti yang mereka inginkan. Justru bencana-bencana akibat ulah manusia datang silih berganti dalam kurun waktu lima tahun terakhir ini. Kelaparan, penyiksaan, pembunuhan, kekurangan pangan, penindasan, peperangan, berbagai macam bentuk kejahatan marak dan subur.
Lihat Juga :