Mewaspadai Dampak dari Amerika Serikat
Kamis, 11 Juni 2020 - 04:36 WIB
loading...
A
A
A
Ambil contoh krisis ekonomi global yang terjadi pada 2008. Yang dipicu oleh krisis ekonomi di AS lalu menyebar ke negara-negara lain di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Krisis ekonomi AS disebabkan ada dorongan untuk konsumsi yang berlebihan. Rakyat AS dikenal hidup dalam konsumerisme di luar batas kemampuan pendapatan yang diterimanya. Mereka hidup dalam utang untuk pembiayaan belanja dan kredit perumahan. Akibat itu, lembaga keuangan yang memberikan kredit perumahan kolaps karena debitur gagal membayar cicilan.
Runtuhnya perusahaan-perusahaan finansial tersebut mengakibatkan bursa saham Wall Street menjadi tak berdaya, perusahaan-perusahaan besar seperti Lehman Brothers dan Goldman Sachs tak sanggup bertahan. Krisis tersebut terus merambat ke sektor riil dan nonkeuangan di seluruh dunia.
Daya beli masyarakat AS yang dikenal sebagai konsumen terbesar atas produk-produk dari berbagai negara di seluruh dunia anjlok. Penurunan daya beli tersebut berpengaruh terhadap impor AS. Akibat itu, negara pengekspor di seluruh dunia terkena imbasnya, terutama negara-negara yang mengandalkan ekspornya ke Amerika Serikat.
Meski tak ada kasus serupa yang terjadi tahun ini, namun pandemi Covid-19 membuat Pemerintah AS harus menambah utang. Tak tanggung-tanggung, surat utang (bond ) yang diterbitkan nilainya sekitar USD3 triliun. Utang itu akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan anggaran penanggulangan Covid-19, termasuk pendanaan kesehatan dan paket kebijakan ekonomi.
Tentu tak bisa dibayangkan apabila terjadi gagal bayar terhadap surat utang yang diterbitkan tersebut. Dampaknya tak hanya dirasakan oleh publik AS, tetapi juga dunia. Ditambah lagi, defisit anggaran AS sudah mencapai USD738 miliar pada April lalu, menunjukkan bahwa sebenarnya ekonomi AS tidak sedang baik-baik saja. Karena itu, Pemerintah Indonesia, selain berfokus pada penanganan pandemi, juga tetap menyiapkan langkah antisipatif terhadap kemungkinan dampak negatif dari situasi di AS.
Runtuhnya perusahaan-perusahaan finansial tersebut mengakibatkan bursa saham Wall Street menjadi tak berdaya, perusahaan-perusahaan besar seperti Lehman Brothers dan Goldman Sachs tak sanggup bertahan. Krisis tersebut terus merambat ke sektor riil dan nonkeuangan di seluruh dunia.
Daya beli masyarakat AS yang dikenal sebagai konsumen terbesar atas produk-produk dari berbagai negara di seluruh dunia anjlok. Penurunan daya beli tersebut berpengaruh terhadap impor AS. Akibat itu, negara pengekspor di seluruh dunia terkena imbasnya, terutama negara-negara yang mengandalkan ekspornya ke Amerika Serikat.
Meski tak ada kasus serupa yang terjadi tahun ini, namun pandemi Covid-19 membuat Pemerintah AS harus menambah utang. Tak tanggung-tanggung, surat utang (bond ) yang diterbitkan nilainya sekitar USD3 triliun. Utang itu akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan anggaran penanggulangan Covid-19, termasuk pendanaan kesehatan dan paket kebijakan ekonomi.
Tentu tak bisa dibayangkan apabila terjadi gagal bayar terhadap surat utang yang diterbitkan tersebut. Dampaknya tak hanya dirasakan oleh publik AS, tetapi juga dunia. Ditambah lagi, defisit anggaran AS sudah mencapai USD738 miliar pada April lalu, menunjukkan bahwa sebenarnya ekonomi AS tidak sedang baik-baik saja. Karena itu, Pemerintah Indonesia, selain berfokus pada penanganan pandemi, juga tetap menyiapkan langkah antisipatif terhadap kemungkinan dampak negatif dari situasi di AS.
(mpw)
Lihat Juga :