Imbal Hasil Obligasi
Selasa, 08 Juni 2021 - 01:25 WIB
loading...
A
A
A
Obligasi sebagai Alternatif Pembiayaan
Kebutuhan pembiayaan APBN mendorong pemerintah mengembangkan berbagai alternatif sumber pembiayaan. Sebagai upaya mengurangi ketergantungan terhadap pinjaman asing, pemerintah menerbitkan Surat Berharga Negara dalam bentuk Surat Utang Negara (SUN) dan Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) atau Sukuk. Penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) dan Sukuk menjadi salah satu penopang pembiayaan negara dan kini difokuskan untuk mendorong pemulihan ekonomi nasional. Pembiayaan APBN melalui SBN merupakan upaya pemerintah untuk tetap menjalankan kebijakan fiskal yang kredibel, disiplin, sustainable, dan independen di tengah situasi perekonomian global yang masih volatile.
Pada perkembangannya, prospek surat utang RI hingga kini masih potensial dan menarik minat investor. Tingginya imbal hasil yang ditawarkan oleh surat utang RI tak dipungkiri menjadi daya tarik dibanding dengan negara lain di kawasan dengan peringkat layak investasi, yakni BBB. Data asianbondsonline pada awal 2020 menunjukkan bahwa surat utang denominasi rupiah tenor 10 tahun menawarkan imbal hasil tertinggi, yakni sebesar 6,93%. Kemudian, disusul Filipina dengan imbal hasil 4,68%; Malaysia 3,28%; Vietnam 3,11 dan China 3,08%. Sementara itu, data indeks obligasi pemerintah tiga negara di Asia (A3GBI) yang tercatat PT Penilai Harga Efek Indonesia pada 2020 menawarkan return sebesar 0,87% yang ditopang oleh obligasi denominasi rupiah dengan return tertinggi yakni 1,32%. Kemudian, diikuti obligasi denominasi ringgit sebesar 0,67% dan obligasi denominasi Baht sebesar 0,61%.
Posisi imbal hasil obligasi Indonesia yang terlalu tinggi tersebut perlu terus didorong untuk dapat menuju level yang lebih ideal. Imbal hasil obligasi Indonesia yang terlalu tinggi di masa mendatang dapat meningkatkan biaya di APBN serta menurunkan fungsi intermediasi perbankan terhadap sektor riil dan menyebabkan ekonomi biaya tinggi di pasar obligasi korporasi. Perusahaan-perusahaan yang akan menerbitkan obligasi harus mematok imbal hasil tinggi agar diserap pasar. Fakta menunjukkan bahwa saat ini terdapat kecenderungan berbagai bank di Tanah Air lebih memilih menempatkan dananya di SBN daripada menyalurkannya sebagai kredit kepada sektor riil dan masyarakat. Dana yang ditempatkan perbankan di SBN per 18 September 2020 melonjak 97% menjadi Rp 1.224,60 triliun dibanding pada 2 Januari 2020 sebesar Rp 622,20 triliun.
Penyesuaian Tingkat Bunga Obligasi
Kebutuhan pembiayaan APBN mendorong pemerintah mengembangkan berbagai alternatif sumber pembiayaan. Sebagai upaya mengurangi ketergantungan terhadap pinjaman asing, pemerintah menerbitkan Surat Berharga Negara dalam bentuk Surat Utang Negara (SUN) dan Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) atau Sukuk. Penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) dan Sukuk menjadi salah satu penopang pembiayaan negara dan kini difokuskan untuk mendorong pemulihan ekonomi nasional. Pembiayaan APBN melalui SBN merupakan upaya pemerintah untuk tetap menjalankan kebijakan fiskal yang kredibel, disiplin, sustainable, dan independen di tengah situasi perekonomian global yang masih volatile.
Pada perkembangannya, prospek surat utang RI hingga kini masih potensial dan menarik minat investor. Tingginya imbal hasil yang ditawarkan oleh surat utang RI tak dipungkiri menjadi daya tarik dibanding dengan negara lain di kawasan dengan peringkat layak investasi, yakni BBB. Data asianbondsonline pada awal 2020 menunjukkan bahwa surat utang denominasi rupiah tenor 10 tahun menawarkan imbal hasil tertinggi, yakni sebesar 6,93%. Kemudian, disusul Filipina dengan imbal hasil 4,68%; Malaysia 3,28%; Vietnam 3,11 dan China 3,08%. Sementara itu, data indeks obligasi pemerintah tiga negara di Asia (A3GBI) yang tercatat PT Penilai Harga Efek Indonesia pada 2020 menawarkan return sebesar 0,87% yang ditopang oleh obligasi denominasi rupiah dengan return tertinggi yakni 1,32%. Kemudian, diikuti obligasi denominasi ringgit sebesar 0,67% dan obligasi denominasi Baht sebesar 0,61%.
Posisi imbal hasil obligasi Indonesia yang terlalu tinggi tersebut perlu terus didorong untuk dapat menuju level yang lebih ideal. Imbal hasil obligasi Indonesia yang terlalu tinggi di masa mendatang dapat meningkatkan biaya di APBN serta menurunkan fungsi intermediasi perbankan terhadap sektor riil dan menyebabkan ekonomi biaya tinggi di pasar obligasi korporasi. Perusahaan-perusahaan yang akan menerbitkan obligasi harus mematok imbal hasil tinggi agar diserap pasar. Fakta menunjukkan bahwa saat ini terdapat kecenderungan berbagai bank di Tanah Air lebih memilih menempatkan dananya di SBN daripada menyalurkannya sebagai kredit kepada sektor riil dan masyarakat. Dana yang ditempatkan perbankan di SBN per 18 September 2020 melonjak 97% menjadi Rp 1.224,60 triliun dibanding pada 2 Januari 2020 sebesar Rp 622,20 triliun.
Penyesuaian Tingkat Bunga Obligasi
Lihat Juga :