Pendidikan di Masa Covid-19

loading...
Pendidikan di Masa Covid-19
Pendidikan di Masa Covid-19
Setiap 2 Mei kita memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas). Ini adalah hari yang sangat bersejarah karena pada tanggal itulah lahir tokoh pendidikan, Ki Hajar Dewantara, sosok revolusioner yang memperjuangkan pendidikan bagi bangsa pribumi di Tanah Air.

Kehadirannya tokoh pendidikan yang lahir pada 1889 itu membawa angin segar bagi dunia pendidikan yang kala itu hanya menjadi hak eksklusif bangsa penjajah Belanda dan golongan bangsawan. Berkat keberadaan sekolah Perguruan Taman Siswa yang didirikan oleh Ki Hajar Dewantara itu pula akses warga pribumi untuk belajar menjadi lebih terbuka.

Selain memperingati hari Pendidikan Nasional, pada 2 Mei tahun ini juga bertepatan dengan bulan ke-14 bagi virus korona (Covid-19) menginfeksi jutaan warga di Tanah Air. Tanpa mengurangi makna Hari Pendidikan Nasional, perhatian besar tampaknya harus diberikan pada virus asal China yang hingga kini masih betah di Indonesia.

Di masa pandemi ini harus diakui bahwa dunia pendidikan kita mendapat tantangan sangat berat. Model sistem pembelajaran jarak jauh (PJJ) yang dijalani siswa jauh dari efektif. Ada banyak kehilangan yang dirasakan para guru dan siswa di masa pandemi ini.

Efektivitas belajar pun menjadi pertanyaan besar. Apalagi tidak semua penyelenggara pendidikan menyediakan kurikulum khusus yang adaptif di masa Covid-19. Imbasnya,siswa pun terjebak dalam rutinitas yang membosankan karena hanya menghadapi model pelajaran yang itu-itu saja.



Kendati angka penyebaran Covid-19 sudah menurun ke kisaran 4.500-5.000an per hari, jauh di bawah puncaknya di atas 12.000an pada akhir tahun lalu, bukan berarti kita bisa bebas ke mana-mana. Kondisi ini juga membuat sejumlah daerah mulai memberlakukan sekolah tatap muka, meski masih terbatas.

Akan tetapi, mesti diingat bahwa Covid-19 belum sepenuhnya hilang. Data Satuan Tugas Penanganan Covid-19 menyebutkan, hingga Sabtu (1/5/2021) total sebanyak 1,67 juta terkonfirmasi positif, 1,52 juta orang dinyatakan sembuh dan 45.652 orang meninggal dunia.

Melihat deretan angka di atas, sungguh bukan sesuatu yang menggembirakan karena setelah melewati setahun lebih sejak kasus pertama Covid-19 diumumkan pada 2 Maret 2020, ternyata jumlah orang yang terkena korona masih saja ada. Bahkan, kini lokasi penyebarannya seolah tak lagi mengenal kluster, dengan kata lain sudah menyebar rata. Rumah, perkantoran, pasar, pusat perbelanjaan, hingga tempat ibadah kini bisa menjadi kluster penyebaran korona.

Maka, tak ada pilihan lain bagi kita untuk tetap menjaga protokol kesehatan seketat mungkin serta menjaga kondisi tubuh untuk tetap fit dan sehat. Namun, untuk urusan menegakkan protokol kesehatan sepertinya masih banyak tantangannya. Terutama di tempat-tempat keramaian seperti pusat perbelanjaan, fasilitas umum, dan tempat-tempat makan yang kini justru terlihat longgar menerapkan protokol kesehatan dengan menjaga jarak.

Kondisi ini bisa jadi karena kini masyarakat maupun pengelola usaha kini sudah sangat yakin bahwa Covid-19 mulai hilang seiring gencarnya program vaksinasi. Data pemerintah menyebutkan, vaksinasi di seluruh Indonesia sampai akhir pekan lalu telah dilaksanakan terhadap 12,4 juta orang dari target sasaran tahap pertama 40 juta orang. Adapun secara keseluruhan, program vaksinasi diharapkan bisa menjangkau 180 juta orang dari total 270 juta populasi masyarakat Indonesia.



Program vaksinasi ini memang menjadi andalan pemerintah di masa pandemi. Yang teranyar, untuk menambah stok vaksin di Tanah Air, pada Jumat (30/4) lalu pemerintah kembali mendatangkan 6 juta dosis vaksin dari Sinovac dalam bentukbulk(curah) serta 482.400 dosis vaksin jadi (vial) dari Sinopharm, China. Jutaan vaksin tersebut diharapkan semakin mempercepat program vaksinasi yang targetnya bisa selesai hingga Juni tahun depan.

Berbagai upaya tersebut tentu saja diharapkan dapat mengurangi laju penyebaran Covid-19 sehingga pada akhirnya semua sektor yang terdampak bisa kembali aktif dan berkontribusi pada pemulihan ekonomi nasional yang sempat terpuruk.

Akan tetapi, hendaknya kita juga bisa belajar dari India yang saat ini sedang memasuki puncak penyebaran Covid-19 gelombang kedua. Jangan sampai merasa aman, kita lengah dan bisa bebas beraktivitas tanpa menerapkan protokol kesehatan yang ketat.
(war)
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top