Seleksi Hakim MK Diwarnai Manuver Politik, Berpotensi Lahirkan Hakim Boneka
Jum'at, 30 Januari 2026 - 17:55 WIB
loading...
A
A
A
Zainal juga menyinggung dinamika pergantian inosentius yang disebut sarat manuver politik. "Saya sih berharap begini, kita kan tahu semuanya inosentius diganti dengan sedemikian rupa. Saya kira ini ujian juga bagi Inosentius karena yang beredar di belakang bahwa katanya Inosentius akan diberikan jabatan penghibur dan lain-lain sebagainya."
"Nah, saya kira ini ujian juga bagi kapasitas orang-orang yang kita harapkan bisa melakukan perbaikan. Dia disingkirkan, tapi kemudian ditawarkan jabatan lain, lalu kemudian ya saya tidak tahu mau diambil atau tidak. Tapi menurut saya itu menunjukkan juga kualitas Inosentius kalau kemudian bermain di isu take and give macam itu atau dealing-dealing politik macam itu."
Zainal mengungkapkan, intervensi politik juga terjadi dalam proses seleksi hakim. Ia menegaskan, kondisi tersebut berpotensi melahirkan hakim boneka. "Ini sedang berusaha dirusak proses seleksinya supaya menghasilkan dua hakim boneka. Hakim boneka ini adalah hakim yang bisa dipermainkan oleh politisi, hakim yang kemudian akan bisa menjalankan pesanan politik, hakim yang kemudian akan menjadi pelaksana dari keinginan politik yang akan dimasukkan melalui proses-proses hukum."
Zainal pun mengajak publik untuk melakukan perlawanan demi menjaga independensi MK. Zainal menegaskan posisi MK sebagai benteng terakhir demokrasi. “Saya berharap betul mudah-mudahan, proses kesetimbangan itu mudah-mudahan tercipta. Atau paling tidak, menurut saya harus tetap dilakukan perlawanan terhadap kemungkinan membawa hakim-hakim boneka.”
“Mahkamah Konstitusi itu salah satu benteng terakhir kalau kita mau jujur. Pasca-reformasi kita punya banyak lembaga juara (champion), yang satu per satu itu mulai diruntuhkan, satu per satu mulai dijinakkan, didomestikasi. MK pernah juga mengalami pasang surut, dan sekarang menurut saya dia sedang pasang. Jangan sampai tindakan politik memaksa dia untuk surut seperti lembaga-lembaga lain yang sudah mengalami surut terlebih dahulu,” pungkasnya.
"Nah, saya kira ini ujian juga bagi kapasitas orang-orang yang kita harapkan bisa melakukan perbaikan. Dia disingkirkan, tapi kemudian ditawarkan jabatan lain, lalu kemudian ya saya tidak tahu mau diambil atau tidak. Tapi menurut saya itu menunjukkan juga kualitas Inosentius kalau kemudian bermain di isu take and give macam itu atau dealing-dealing politik macam itu."
Zainal mengungkapkan, intervensi politik juga terjadi dalam proses seleksi hakim. Ia menegaskan, kondisi tersebut berpotensi melahirkan hakim boneka. "Ini sedang berusaha dirusak proses seleksinya supaya menghasilkan dua hakim boneka. Hakim boneka ini adalah hakim yang bisa dipermainkan oleh politisi, hakim yang kemudian akan bisa menjalankan pesanan politik, hakim yang kemudian akan menjadi pelaksana dari keinginan politik yang akan dimasukkan melalui proses-proses hukum."
Zainal pun mengajak publik untuk melakukan perlawanan demi menjaga independensi MK. Zainal menegaskan posisi MK sebagai benteng terakhir demokrasi. “Saya berharap betul mudah-mudahan, proses kesetimbangan itu mudah-mudahan tercipta. Atau paling tidak, menurut saya harus tetap dilakukan perlawanan terhadap kemungkinan membawa hakim-hakim boneka.”
“Mahkamah Konstitusi itu salah satu benteng terakhir kalau kita mau jujur. Pasca-reformasi kita punya banyak lembaga juara (champion), yang satu per satu itu mulai diruntuhkan, satu per satu mulai dijinakkan, didomestikasi. MK pernah juga mengalami pasang surut, dan sekarang menurut saya dia sedang pasang. Jangan sampai tindakan politik memaksa dia untuk surut seperti lembaga-lembaga lain yang sudah mengalami surut terlebih dahulu,” pungkasnya.
(rca)
Lihat Juga :