Hari Bakti Dokter Indonesia dan Penggalangan Dana Pendidikan

Jum'at, 17 Mei 2024 - 15:36 WIB
loading...
A A A
Sebenarnya ide pembebasan jasa medik 2008 itu sedikit banyaknya terinspirasi oleh gerakan penggalangan dana pendidikan yang dimotori dr. Wahidin Soediro Hoesodo menjelang berdirinya perhimpunan Boedi Oetomo, 20 Mei 1908.

Mengapa Perlu Dana Pendidikan?


Ketika orang-orang desa sudah mampu membiayai pengeluaran untuk membeli pakaiaan, makan, dan perjalanan pulang pergi ke sekolah bagi anak-anaknya maka mereka tidak lagi merasa puas dengan pendidikan anak di desanya ataupun desa terdekat, yang hanya mengandalkan guru-guru partikelir. Mereka kemudian tergerak untuk mengirim anaknya bersekolah ke kota, yang menurutnya memiliki lembaga pendidikan yang lebih baik.

Dalam perjalanan menuju ke kota, kadang anaknya harus berjalan kaki sangat jauh. Ada kalanya naik kereta api, kapal laut, dan seterusnya. Selama menempuh pendidikan di kota, anaknya dititipkan kepada sanak keluarga atau kepada seorang kenalan.

Baca Juga: Paradigma Kepemimpinan Nasional: Mewujudkan Asa Masyarakat Indonesia Sehat Berdaulat

Mereka yang pegawai negeri (ambtenaar) lebih suka menyekolahkan anaknya di sekolah kelas satu dibanding di sekolah kelas dua. Dan bila keuangannya mengizinkan mereka mengusahakan agar anaknya dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi. Bahkan, ada pula yang menyuruh anaknya mengikuti pelajaran bahasa Belanda pada guru-guru bangsa Eropa atau mengkuti kursus-kursus kecakapan dan keterampilan lainnya.

Beberapa wedana (kapala distrik) dan asisten wedana (kepala sub-distrik) rela mengeluarkan biaya yang sangat tinggi untuk kos (penginapan dan makan) anaknya pada orang Eropa. Dengan harapan anaknya mendapat keuntungan berada di lingkungan orang-orang Eropa. Walau tidak sedikit pula yang kecewa sebab apa yang diharapkan ternyata tidak terpenuhi.

Sekalipun ada anak-anak Boemipoetra yang memiliki kesempatan seperti di atas, namun jumlahnya sangat terbatas. Kebanyakan orang tua betapa pun besar hasratnya untuk meningkatkan pendidikan anaknya, selalu saja terkendala, sebab biaya yang diperlukan terbilang sangat tinggi. Untuk menitip anak di kota saja memerlukan biaya antara f.20,- dan f.25- setiap bulannya.

Atas dasar itulah sehingga muncul pemikiran untuk menggalang dana pendidikan guna membantu anak-anak Boemipoetra yang berbakat dan berkeinginan untuk maju, namun orang tuanya tidak mampu menanggung biaya untuk menyekolahkan anaknya.

Dokter Wahidin Motor Propaganda Dana Pendidikan


Dalam artikel yang ditulis J.E. Jasper berjudul, “Van Een Studiefonds Voor Inlanders” (Arti Dana Pendidikan bagi Boemipoetra), yang dialihbahasakan oleh Ny. Ratna S. Soetardijo, disebutkan bahwa pemikiran awal dana pendidikan untuk membantu anak-anak Boemipoetra, yang orang tuanya tidak mampu itu berasal dari Raden Ajeng Kartini. Namun, gagasan putri bangsawan Jawa ini masih samar-samar sebab beliau sudah meninggal saat usianya masih terlalu muda.

Artikel yang terangkum di dalam buku “Cahaya di Kegelapan” ini pun mengatakan, meski Raden Ajeng Kartini meninggal dalam usia terlalu muda, dana pendidikan yang digagasnya tidaklah berhenti di tengah jalan. Gagasan tersebut kemudian dilanjutkan oleh tiga orang Jawa dari kalangan kaum Ningrat, yakni Pengeran Notodiredjo dari Pakoealaman Yogyakarta, Raden Mas Tirto Adhi Soerjo, pengeran Pulau Bacan, redaktur harian “Sinar Matahari”, dan Mas Soediro Hoesodo, redaktur harian Jawa “Retnodoemilah”.

Pengeran Notodiredjo yang berpendidikan sekolah de hoogere burgerschool (Sekolah Menengah lima tahun) Batavia, dikenal sangat maju cita-citanya dalam mengembangkan kesenian dan kerajinan di daerahnya, yang akan dipilih menjadi ketua perhimpunan dalam rangka menyelenggarakan dana pendidikan ini. Sementara, dr. Wahidin akan berkelana ke Keresidenan Banten dan seluruh Pulau Jawa atas biayanya sendiri.

Mengapa Wahidin yang harus berkeliling? Karena Wahidin adalah orang kaya raya. Dan, di kalangan orang Jawa ia sudah dikenal tindak tanduknya, terampil dan sederhana, serta pergaulannya menyenangkan baik dengan orang-orang Eropa maupun orang Jawa sendiri. Beliau juga seorang dokter yang masyhur dan disegani karena kecakapan dan kesopanannya. Alasan lain, karena Wahidin memiliki pameo, ”Pendidikan bagi orang Jawa yang harus tetap merasa dirinya sebagai orang Jawa.”
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Terbitkan SE Pengendalian...
Terbitkan SE Pengendalian Gratifikasi SPMB, KPK Soroti Calon Siswa Titipan
Andrie Yunus Belum Bisa...
Andrie Yunus Belum Bisa Hadiri Persidangan karena Risiko Infeksi
Ketum IDI Dorong Peningkatan...
Ketum IDI Dorong Peningkatan Anggaran Kesehatan
Ketum IDI Prediksi 5-10...
Ketum IDI Prediksi 5-10 Tahun Mendatang Terjadi Pengangguran Intelektual Dokter
Ferdy Sambo Kuliah S2...
Ferdy Sambo Kuliah S2 di Lapas Cibinong, Ini Penjelasan Ditjen Pemasyarakatan
Ekonomi Digital dan...
Ekonomi Digital dan Pendidikan: Peluang Besar atau Ancaman Baru?
Siapa Adam Hamawy? Dokter...
Siapa Adam Hamawy? Dokter Bedah AS yang Pernah Bertugas di Gaza dan Terpiih sebagai Anggota Kongres
Dari Pulau Terpencil...
Dari Pulau Terpencil ke Dunia yang Lebih Luas, PNM Bangun Ruang Literasi untuk Anak Rinca
Pendidikan Dinilai Kunci...
Pendidikan Dinilai Kunci Pelestarian Budaya, Yulius Aho Salurkan Beasiswa
Rekomendasi
Jarak Tempuh Mobil Listrik...
Jarak Tempuh Mobil Listrik Volvo XC60 Kini Bertambah Tiga Kali Lipat
Pakar Ingatkan Galon...
Pakar Ingatkan Galon Guna Ulang Jangan Dipakai Lebih dari Setahun
Samakah 1 Muharram dengan...
Samakah 1 Muharram dengan 1 Suro? Simak Penjelasannya di Sini!
Berita Terkini
KPK Tahan 2 Tersangka...
KPK Tahan 2 Tersangka Kasus Kuota Haji
HUT ke-80, SPS: Fondasi...
HUT ke-80, SPS: Fondasi Pers Nasional Terletak pada Integritas, Profesionalisme, dan Kepentingan Publik
Delegasi Indonesia Soroti...
Delegasi Indonesia Soroti Kerja Paksa Myanmar dan Krisis Rohingya di Sidang ILO Jenewa
Demi Framing, Pengamat...
Demi Framing, Pengamat Menilai Jusuf Hamka Catut Nama Mbak Tutut dan TPI ke Polemik CMNP dengan MNC Asia
Panja RUU Polri Sepakati...
Panja RUU Polri Sepakati Usia Pensiun Polisi, Jenderal Bintang 4 Bisa 61 Tahun
Eks Waka BGN Sony Sonjaya...
Eks Waka BGN Sony Sonjaya Ajukan JC, Sebut 20 Nama Besar Diduga Terlibat Korupsi
Infografis
Piala Dunia 2026: Panggung...
Piala Dunia 2026: Panggung Terakhir Messi-Ronaldo dan Lahirnya Era Baru
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved