Haji dan Humanisme
Minggu, 09 Juli 2023 - 10:21 WIB
loading...
A
A
A
Membopong tubuh seorang lansia tentu bukan pekerjaan yang mudah. Kerapkali keletihan segera menyergap tubuh para petugas haji, dikarenakan sebelumnya mereka telah melakukan pekerjaan yang mungkin menguras tenaga dan pemikiran mereka.
Ini bukan hanya sekadar gimik, melainkan adalah realita yang umum ditemukan sepanjang penyelenggaraan haji, bahkan di tahun-tahun sebelumnya. Tentu, ini adalah sesuatu yang perlu diapresiasi, dikarenakan semakin menandakskan profesionalitas para panitia haji yang senantiasa sigap memecahkan segenap masalah, bahkan yang muncul tanpa terduga sebelumnya.
Di samping profesionalisme pelayanan haji, terdapat sisi kemanusiaan yang dapat dituai dari petikan kejadian di atas. Bekerja, dalam perspektif Islam, adalah ladang amal bagi pelakunya. Menuntaskan suatu pekerjaan merupakan suatu prestasi yang layak diapresiasi, terlebih jika aktivitasnya berkenaan dengan kemanusiaan.
Membantu orang yang kesulitan adalah contoh dari laku humanis yang paling sederhana. Melakukannya secara kolektif, adalah suatu penampilan yang menyejukkan dan berpotensi menyebarkan energi positif bagi rekan-rekannya yang lain untuk senantiasa memberikan pelayanan prima bagi para jamaah haji.
Setidaknya, terdapat tiga poin penting perlu menjadi perhatian kita bersama dalam penigkatan pelayanan tamu Allah yang akan terus bertambahnya jamaah haji lansia.
Pertama, pengetahuan haji dan kondisi geografis Arab untuk pelayanan jamaah haji lansia. Tidak bisa dipungkiri, perbedaan kebutuhan jamaah haji muda dan tua. Fakta ini hendaknya ditangkap sebagai bahan pemikiran untuk menyadarkan konsep haji dan wilayah Arab yang beda bagi mereka.
Kerja fisik dan kekuatan mengelola emosi menjadi tumpuan setiap jamaah. Maka sisi ini perlu terus menjadi perhatian pra-keberangkatan melalui manasik secara visual dari ciri-ciri tempat yang akan dituju.
Kedua, pelayanan medis untuk mengantisipasi keadaan cuaca di Arab Saudi. Cobaan alami bagi para jamaah haji usia lanjut adalah kondisi iklim dan cuaca di Tanah Suci. Keadaan yang panas dapat membuat tubuh mereka melemah. Pun, saat malam tiba, keadaan yang dingin dapat menciptakan rasa ketidaknyamanan tersendiri.
Pada kondisi tersebut, tindakan medis prima menjadi kebutuhan penting. Pengaplikasian alat-alat pendukung dengan teknologi terbaru menjadi kebutuhan para tenaga medis agar lebih efektif dan efisien pelayanan.
Ketiga, pengembangan layanan komunikasi. Jamaah haji lansia biasanya masih terbatas dalam hal mengakses alat komunikasi kekinian. Kebiasaan di daerah asal masih menjadi penghalang untuk adaptasi di Arab sebagai daerah yang baru. Model sistem komunikasi yang lebih relevan untuk menjangkau kepentingan komunikasi para jamaah haji lansia saat di Tanah Suci.
Sepintas, hal ini mungkin terlihat sederhana, mengingat penggunaan gawai sudah semakin lazim di masyarakat. Namun, bagi lansia komunikasi simbolik tampaknya masih lebih mudah dipahami, apalagi tanah Arab model geografisnya jauh beda dengan Indonesia.
Ketiga pemikiran di atas agaknya dapat menjadi pilar penting dalam pelayanan haji di masa depan yang lebih baik. Tentu saja, diperlukan kerja sama yang sinergis di antara semua pihak, termasuk dari jamaah haji sendiri, untuk menyukseskan setiap bentuk layanan haji. Dukungan dan partisipasi semua pihak adalah kunci penting dalam memperkuat pelayanan haji ke depan.
Ini bukan hanya sekadar gimik, melainkan adalah realita yang umum ditemukan sepanjang penyelenggaraan haji, bahkan di tahun-tahun sebelumnya. Tentu, ini adalah sesuatu yang perlu diapresiasi, dikarenakan semakin menandakskan profesionalitas para panitia haji yang senantiasa sigap memecahkan segenap masalah, bahkan yang muncul tanpa terduga sebelumnya.
Di samping profesionalisme pelayanan haji, terdapat sisi kemanusiaan yang dapat dituai dari petikan kejadian di atas. Bekerja, dalam perspektif Islam, adalah ladang amal bagi pelakunya. Menuntaskan suatu pekerjaan merupakan suatu prestasi yang layak diapresiasi, terlebih jika aktivitasnya berkenaan dengan kemanusiaan.
Membantu orang yang kesulitan adalah contoh dari laku humanis yang paling sederhana. Melakukannya secara kolektif, adalah suatu penampilan yang menyejukkan dan berpotensi menyebarkan energi positif bagi rekan-rekannya yang lain untuk senantiasa memberikan pelayanan prima bagi para jamaah haji.
Setidaknya, terdapat tiga poin penting perlu menjadi perhatian kita bersama dalam penigkatan pelayanan tamu Allah yang akan terus bertambahnya jamaah haji lansia.
Pertama, pengetahuan haji dan kondisi geografis Arab untuk pelayanan jamaah haji lansia. Tidak bisa dipungkiri, perbedaan kebutuhan jamaah haji muda dan tua. Fakta ini hendaknya ditangkap sebagai bahan pemikiran untuk menyadarkan konsep haji dan wilayah Arab yang beda bagi mereka.
Kerja fisik dan kekuatan mengelola emosi menjadi tumpuan setiap jamaah. Maka sisi ini perlu terus menjadi perhatian pra-keberangkatan melalui manasik secara visual dari ciri-ciri tempat yang akan dituju.
Kedua, pelayanan medis untuk mengantisipasi keadaan cuaca di Arab Saudi. Cobaan alami bagi para jamaah haji usia lanjut adalah kondisi iklim dan cuaca di Tanah Suci. Keadaan yang panas dapat membuat tubuh mereka melemah. Pun, saat malam tiba, keadaan yang dingin dapat menciptakan rasa ketidaknyamanan tersendiri.
Pada kondisi tersebut, tindakan medis prima menjadi kebutuhan penting. Pengaplikasian alat-alat pendukung dengan teknologi terbaru menjadi kebutuhan para tenaga medis agar lebih efektif dan efisien pelayanan.
Ketiga, pengembangan layanan komunikasi. Jamaah haji lansia biasanya masih terbatas dalam hal mengakses alat komunikasi kekinian. Kebiasaan di daerah asal masih menjadi penghalang untuk adaptasi di Arab sebagai daerah yang baru. Model sistem komunikasi yang lebih relevan untuk menjangkau kepentingan komunikasi para jamaah haji lansia saat di Tanah Suci.
Sepintas, hal ini mungkin terlihat sederhana, mengingat penggunaan gawai sudah semakin lazim di masyarakat. Namun, bagi lansia komunikasi simbolik tampaknya masih lebih mudah dipahami, apalagi tanah Arab model geografisnya jauh beda dengan Indonesia.
Ketiga pemikiran di atas agaknya dapat menjadi pilar penting dalam pelayanan haji di masa depan yang lebih baik. Tentu saja, diperlukan kerja sama yang sinergis di antara semua pihak, termasuk dari jamaah haji sendiri, untuk menyukseskan setiap bentuk layanan haji. Dukungan dan partisipasi semua pihak adalah kunci penting dalam memperkuat pelayanan haji ke depan.
(rca)