Haji dan Humanisme

Minggu, 09 Juli 2023 - 10:21 WIB
loading...
A A A
Henry Chambert-Lloir dalam triloginya Naik Haji di Masa Silam (2013), menukil cerita-cerita orang yang berangkat haji mulai dari Abad Pertengahan (sekitar abad XV M) hingga masa Orde Baru. Terlihat, betapa orang-orang yang naik haji menghadapi kerumitan tersendiri pada setiap kurun waktu.

Di zaman Wali Songo, berangkat haji senantiasa dinisbatkan dengan kegiatan pelayaran rempah antar benua, di mana para jamaah haji menghadapi kesulitan saat kapal layar harus bertarung melawan ombak.

Memasuki periode kolonial Hindia Belanda, para jamaah haji diuji kesabarannya, dikarenakan meraka kerap mendapat tekanan-tekanan secara sosial dan politik. Saat itu, orang yang pergi haji harus dipastikan tidak membawa motif untuk menentang kebijakan Pemerintah Kulit Putih.

Setelah mereka pulang ibadah tahunan ini, gerak-gerik mereka senantiasa diperhatikan, bahkan kerapkali dituduh sebagai sosok yang gemar menyulut kekisruhan sosial yang membahayakan kepentingan Kompeni. Memasuki era Kemerdekaan Indonesia, rintangan jamaah haji juga tidak kalah hebat.

Mereka dihadapkan pada pilihan hidup atau mati, dikarenakan kondisi keamanan dalam negeri dan luar negeri yang masih tidak menentu, akibat adanya revolusi yang dilakukan banyak anak negeri di Asia Tenggara dalam usaha menjungkalkan pengaruh pemerintahan Eropa di daerahnya.

Saat mereka di kapal uap, kesulitan pun belum berhenti. Wabah penyakit mematikan seperti cacar, pes dan Flu Spanyol senantiasa siap melumpuhkan tubuh mereka, sehingga membuat perjalanan haji tidak ubahnya sebagai perjalanan menuju kematian.

Kilasan-kilasan kisah haji di masa silam di atas, dalam porsi dan varian yang beragam, agaknya masih hidup di benak para orang tua yang pernah berhaji. Mereka akan senang membagikan kisahnya pada teman sebaya, anak, cucu hingga kenalan mereka tentang hal tersebut.

Haji merupakan prestasi tersendiri bagi seorang muslim. Meraih haji yang mabrur, memang tidak selalu dihubungkan dengan berapa banyak uang yang dikeluarkan, melainkan ditentukan pula oleh kesiapan diri dan kebesaran jiwa untuk menerima segala bentuk tantangan yang dihadapi.

Menjadi pemandangan yang sering dijumpai, saat seorang tokoh agama tempatan mengisahkan pengalaman dalam menunaikan ibadah haji. Di antara jamaah yang mendengarkan, ada yang berlatarbelakang lansia.

Dari garis wajahnya, samar-samar terlihat, asa yang masih terus diperjuangan. Ia menyimak keterangan pengalaman haji dengan seksama, menandakan ia mempunyai harapan bahwa kelak dirinya akan dapat berangkat haji.

Penggambaran di atas tentu bukanlah menjadi sajian imajiner semata. Hal tersebut adalah realita yang dapat ditengok di pengajian-pengajian kecil maupun besar di sekitar Ibu Kota, bahkan juga di kampung-kampung kecil di wilayah urban. Pongahnya gedung yang semakin meninggi, tidak menggerus niat sebagian umat muslim untuk berhaji.

Jikapun di tahun ini belum berkesempatan berangkat haji, maka mereka akan senantiasa menunggu dengan kesabaran dan senantiasa memperbaiki perangai dan sikap mereka sehari-hari, agar jika tiba masanya, mereka telah menjadi tamu yang layak datang dan bertetirah di Rumah Tuhan.

Melayani Tamu Allah


Dalam sejumlah penggal pemberitaan, haji tahun ini menunjukkan totalitas para panitia haji dalam bekerja. Mereka tidak gentar menerjang teriknya matahari Arab Saudi untuk memberikan pelayanan terbaik pada jamaah haji, khususnya para lansia.

Terlihat beberapa pemandangan yang membuat hati terenyuh, seperti adanya cuplikan para panitia haji yang menggotong jamaah haji lansia untuk berangkat ke suatu tempat yang tentunya berkenaan dengan satu dari mata rantai ritual dalam haji. Jika ritual itu tidak dilakukan oleh seorang jamaah haji, maka berpotensi ibadah hajinya tidak sempurna dari sudut pandang syariat Islam.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Bahaya Romantisasi Oligarki...
Bahaya Romantisasi Oligarki Putih
Ketika Bumi Berhenti...
Ketika Bumi Berhenti Bersabar
Kemenhaj Serahkan Paket...
Kemenhaj Serahkan Paket Daging Dam Jemaah Haji Indonesia untuk Rakyat Palestina
Rupiah, IHSG, dan Krisis...
Rupiah, IHSG, dan Krisis Kepercayaan
PP 20/2026: Menambah...
PP 20/2026: Menambah Penerimaan Negara atau Menambah Beban UMKM?
Ujian Kapasitas Negara,...
Ujian Kapasitas Negara, Bukan Sekadar Kasus Korupsi
Jemaah asal Tuban Bagikan...
Jemaah asal Tuban Bagikan Pentingnya JKN untuk Perjalanan Ibadah Haji yang Tenang
Syarat Istithaah Sukses...
Syarat Istithaah Sukses Tekan Angka Jemaah Haji Indonesia Sakit Pascaarmuzna
15.086 Jemaah Haji Reguler...
15.086 Jemaah Haji Reguler dan 7.547 Haji Khusus Telah Tiba di Indonesia
Rekomendasi
Youth ESG Maritime 2026...
Youth ESG Maritime 2026 Dorong Generasi Muda Ciptakan Solusi Nyata bagi Krisis Lingkungan Laut
Timnas Indonesia Sikat...
Timnas Indonesia Sikat Oman 2-0 di Babak Pertama FIFA Matchday
Link Live Streaming...
Link Live Streaming Timnas Indonesia vs Oman di FIFA Matchday
Berita Terkini
KontraS Kritik Tuntutan...
KontraS Kritik Tuntutan 2,5 Tahun Penjara untuk Terdakwa Penyiraman Andrie Yunus
Revisi UU Polri, Menteri...
Revisi UU Polri, Menteri Pigai Usulkan Sejumlah Jabatan Utama Bisa Diisi Sipil
Film Pesta Babi Bergeser...
Film Pesta Babi Bergeser dari Kritik Sosial Jadi Instrumen Kampanye Disintegrasi Papua
KPK Angkut Moge, Mobil...
KPK Angkut Moge, Mobil Mewah, dan Sepeda usai Geledah Rumah Silmy Karim
Ancam 6 Juta Tenaga...
Ancam 6 Juta Tenaga Kerja, Wacana Kemasan Polos Harus Dibatalkan
DPR Minta KAI Bereskan...
DPR Minta KAI Bereskan Dulu Konektivitas Sebelum Bangun Jalur Kereta Aceh-Lampung
Infografis
Trionda, Bola Robotik...
Trionda, Bola Robotik Piala Dunia 2026 yang Punya Baterai dan Sensor VAR
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved