Membaca Arah Baru Fleksibilitas Fiskal Indonesia
Kamis, 09 Juli 2026 - 17:42 WIB
loading...
Perdana Wahyu Santosa, Profesor Ekonomi, Dekan FEB Universitas YARSI, dan Direktur Riset GREAT Institute. Foto: Istimewa
A
A
A
Perdana Wahyu Santosa
Profesor Ekonomi, Dekan FEB Universitas YARSI, dan Direktur Riset GREAT Institute
KEBIJAKAN fiskal kerap diibaratkan sebagai kemudi utama dalam lambung kapal besar bernama ekonomi nasional. Ketika badai ketidakpastian global berembus kencang dan gejolak geopolitik dunia tak kunjung mereda, seorang nahkoda yang bijak tentu tahu kapan harus memperketat kendali dan kapan harus memberikan ruang gerak agar kapal bisa melaju lebih lincah menembus ombak.
Maka langkah Pemerintah Indonesia yang memilih arah kebijakan fiskal ekspansif dengan memberikan fleksibilitas tambahan pada struktur Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara harus dibaca dalam kerangka kepemimpinan ekonomi yang adaptif, berani, dan visioner ini. Di tengah derasnya diskursus publik mengenai batas disiplin anggaran, kelonggaran fiskal yang terukur bukanlah pertanda kelemahan manajemen, melainkan sebuah respons taktis yang sangat rasional untuk melindungi momentum pertumbuhan domestik serta memastikan program-program strategis prioritas nasional dapat berjalan berkesinambungan tanpa hambatan birokrasi yang berbelit-belit.
Akar dari pilihan kebijakan fiskal ekspansif ini berhulu pada peran krusial APBN yang tidak sekadar berfungsi sebagai alat pencatat penerimaan dan pengeluaran negara, melainkan sebagai perisai utama penahan guncangan sekaligus mesin penggerak transformasi struktural. Kita tidak boleh menutup mata terhadap fakta bahwa daya beli masyarakat harus terus dirawat dengan insentif yang tepat dan kapasitas operasional dunia usaha perlu diakselerasi secara konsisten pasca-pandemi.
Melalui ruang fiskal yang lebih dinamis dan elastis, pemerintah memiliki amunisi yang memadai untuk melakukan intervensi ekonomi yang tepat sasaran, inklusif, dan berkeadilan. Skema pelonggaran ini memberikan jaminan bahwa agenda besar menuju Indonesia Emas tidak akan tersandera oleh rigiditas aturan anggaran yang terlalu kaku, asalkan instrumen penopangnya dikelola secara profesional dan transparan.
Profesor Ekonomi, Dekan FEB Universitas YARSI, dan Direktur Riset GREAT Institute
KEBIJAKAN fiskal kerap diibaratkan sebagai kemudi utama dalam lambung kapal besar bernama ekonomi nasional. Ketika badai ketidakpastian global berembus kencang dan gejolak geopolitik dunia tak kunjung mereda, seorang nahkoda yang bijak tentu tahu kapan harus memperketat kendali dan kapan harus memberikan ruang gerak agar kapal bisa melaju lebih lincah menembus ombak.
Maka langkah Pemerintah Indonesia yang memilih arah kebijakan fiskal ekspansif dengan memberikan fleksibilitas tambahan pada struktur Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara harus dibaca dalam kerangka kepemimpinan ekonomi yang adaptif, berani, dan visioner ini. Di tengah derasnya diskursus publik mengenai batas disiplin anggaran, kelonggaran fiskal yang terukur bukanlah pertanda kelemahan manajemen, melainkan sebuah respons taktis yang sangat rasional untuk melindungi momentum pertumbuhan domestik serta memastikan program-program strategis prioritas nasional dapat berjalan berkesinambungan tanpa hambatan birokrasi yang berbelit-belit.
Akar dari pilihan kebijakan fiskal ekspansif ini berhulu pada peran krusial APBN yang tidak sekadar berfungsi sebagai alat pencatat penerimaan dan pengeluaran negara, melainkan sebagai perisai utama penahan guncangan sekaligus mesin penggerak transformasi struktural. Kita tidak boleh menutup mata terhadap fakta bahwa daya beli masyarakat harus terus dirawat dengan insentif yang tepat dan kapasitas operasional dunia usaha perlu diakselerasi secara konsisten pasca-pandemi.
Melalui ruang fiskal yang lebih dinamis dan elastis, pemerintah memiliki amunisi yang memadai untuk melakukan intervensi ekonomi yang tepat sasaran, inklusif, dan berkeadilan. Skema pelonggaran ini memberikan jaminan bahwa agenda besar menuju Indonesia Emas tidak akan tersandera oleh rigiditas aturan anggaran yang terlalu kaku, asalkan instrumen penopangnya dikelola secara profesional dan transparan.
Lihat Juga :