Dokter Reisa Ajak Daerah Berlomba Jadi Wilayah Zona Hijau COVID-19
Senin, 06 Juli 2020 - 16:56 WIB
loading...
Dokter Reisa Broto Asmoro mengatakan, tim pakar Gugus Tugas terus memantau perubahan peta zona risiko daerah administrasi di tingkat kabupaten dan kota. FOTO/DOK.BNPB
A
A
A
JAKARTA - Tim Komunikasi Publik Gugus Tugas Nasional Percepatan Penanganan COVID-19 , Reisa Broto Asmoro mengatakan, tim pakar Gugus Tugas terus memantau perubahan peta zona risiko daerah administrasi di tingkat kabupaten dan kota dalam sistem integrasi data yang berguna untuk monitoring dan evaluasi yakni Bersatu Lawan Covid atau BLC.
Pemetaan zona dilambangkan dengan warna hijau, kuning, orange dan merah. Reisa mengatakan yang harus dipahami adalah kategorisasi warna tersebut mewakili pencapaian indikator epidemiologi dan data kesehatan masyarakat.
"Dan pencapaian tersebut tidak pernah karena upaya sendiri-sendiri, harus upaya kolektif gotong-royong, bersama-sama," kata Reisa di Media Center Gugus Tugas Nasional Percepatan Penanganan COVID-19 Graha Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Jakarta, Senin (6/7/2020).(Baca juga: Bertambah Lagi 1.209 Kasus, Positif Covid-19 Mencapai 64.958 Orang )
Reisa menjelaskan, misalnya warna hijau adalah wilayah administrasi yang tidak terdapat atau tidak ada kasus baru. "Berarti pemimpin dan masyarakat berhasil disiplin menerapkan protokol kesehatan dan memutus rantai penularan," katanya.
Namun, kata Reisa, perubahan atau dinamika zonasi kabupaten kota sangat tinggi. "Bisa saja sebuah wilayah berpindah dari zona risiko rendah menjadi zona risiko tinggi, biasanya apabila ada yang tidak lagi disiplin menerapkan protokol kesehatan," katanya.
Reisa mengatakan, pekan lalu, sebanyak 53 kabupaten/kota dengan risiko kenaikan kasus yang tinggi, 177 kabupaten/kota dengan resiko sedang, 185 kabupaten/kota dengan risiko rendah, dan 99 kabupaten/kota tidak terdampak atau tidak ada kasus baru. "Tentunya angka-angka ini berubah-ubah dan data terkini akan diumumkan oleh Tim Pakar Tugas minggu ini," katanya.(Baca juga: Lampaui Rata-rata Global, Angka Kematian COVID-19 di Tanah Air Mencapai 3.241 Orang )
Reisa pun mengatakan, berita baiknya berdasarkan data yang dihimpun oleh tim pakar perubahan peta zonasi risiko rendah dan tidak terdampak meningkat tajam. "Per 31 Mei 2020 jumlahnya 46,7% dari setengah kabupaten/kota di Indonesia. Namun per 28 Juni 2020 ada di tingkat 55,25%," katanya.
Pemetaan zona dilambangkan dengan warna hijau, kuning, orange dan merah. Reisa mengatakan yang harus dipahami adalah kategorisasi warna tersebut mewakili pencapaian indikator epidemiologi dan data kesehatan masyarakat.
"Dan pencapaian tersebut tidak pernah karena upaya sendiri-sendiri, harus upaya kolektif gotong-royong, bersama-sama," kata Reisa di Media Center Gugus Tugas Nasional Percepatan Penanganan COVID-19 Graha Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Jakarta, Senin (6/7/2020).(Baca juga: Bertambah Lagi 1.209 Kasus, Positif Covid-19 Mencapai 64.958 Orang )
Reisa menjelaskan, misalnya warna hijau adalah wilayah administrasi yang tidak terdapat atau tidak ada kasus baru. "Berarti pemimpin dan masyarakat berhasil disiplin menerapkan protokol kesehatan dan memutus rantai penularan," katanya.
Namun, kata Reisa, perubahan atau dinamika zonasi kabupaten kota sangat tinggi. "Bisa saja sebuah wilayah berpindah dari zona risiko rendah menjadi zona risiko tinggi, biasanya apabila ada yang tidak lagi disiplin menerapkan protokol kesehatan," katanya.
Reisa mengatakan, pekan lalu, sebanyak 53 kabupaten/kota dengan risiko kenaikan kasus yang tinggi, 177 kabupaten/kota dengan resiko sedang, 185 kabupaten/kota dengan risiko rendah, dan 99 kabupaten/kota tidak terdampak atau tidak ada kasus baru. "Tentunya angka-angka ini berubah-ubah dan data terkini akan diumumkan oleh Tim Pakar Tugas minggu ini," katanya.(Baca juga: Lampaui Rata-rata Global, Angka Kematian COVID-19 di Tanah Air Mencapai 3.241 Orang )
Reisa pun mengatakan, berita baiknya berdasarkan data yang dihimpun oleh tim pakar perubahan peta zonasi risiko rendah dan tidak terdampak meningkat tajam. "Per 31 Mei 2020 jumlahnya 46,7% dari setengah kabupaten/kota di Indonesia. Namun per 28 Juni 2020 ada di tingkat 55,25%," katanya.
Lihat Juga :