APBN di Tengah Bayang-Bayang Risiko Global
Rabu, 08 Juni 2022 - 07:32 WIB
loading...
Wahyu Utomo dan Risyaf Fahreza (Foto: Ist)
A
A
A
Wahyu Utomo, Plt. Kepala Pusat Kebijakan APBN, Badan Kebijakan Fiskal, Kemenkeu
Risyaf Fahreza, Analis Kebijakan, Badan Kebijakan Fiskal, Kemenkeu
AWAN hitam kembali membayangi perekonomian global. Beberapa negara mengalami tekanan ekonomi cukup kuat. Tak tanggung-tanggung, negara sebesar Amerika Serikat (AS) mulai kembali mengalami kontraksi ekonomi. Dalam laporan yang dirilis oleh U.S. Bureau of Economic Analysis, pertumbuhan ekonomi AS pada kuartal I-2022 tumbuh sebesar minus 1,5% secara quarter-on-quarter. Capaian tersebut menandai kontraksi pertama yang terjadi dalam tujuh kuartal terakhir di perekonomian AS.
Kondisi demikian tidak hanya terjadi di AS, sejumlah negara besar lainnya juga sedang menghadapi situasi perekonomian yang tidak menentu. Contoh lainnya adalah Jerman, di mana negara tersebut saat ini sedang menghadapi tekanan inflasi tertinggi dalam sejarahnya. Pun kawasan Eropa secara umum juga sedang menghadapi ancaman krisis energi dan pangan yang berakibat pada kenaikan inflasi ke rekor tertinggi.
Semakin eskalatifnya ketidakpastian ekonomi global pada dasarnya dipicu oleh beberapa hal. Pertama, global supply disruption yang mendorong tingginya laju inflasi di sejumlah negara maju. Kedua, konflik Rusia dan Ukraina yang turut mengerek kenaikan harga komoditas, terutama komoditas pangan dan energi. Ketiga, pengetatan kebijakan moneter di sejumlah negara maju yang berimplikasi pada kenaikan cost of fund.
Di tengah kondisi ekonomi global yang tidak menentu, kondisi fundamental ekonomi Indonesia relatif masih cukup kuat. Inflasi Indonesia pada Mei masih terkendali di level 3,55% secara year-on-year (yoy). Selanjutnya, seiring dengan situasi pandemi Covid-19 yang semakin terkendali, aktivitas ekonomi terus menunjukkan tren pemulihan yang kuat. Pada kuartal I-2022, perekonomian Indonesia tercatat tumbuh sebesar 5,01% secara yoy. Capaian tersebut merupakan salah satu yang terbaik di kawasan.
Risyaf Fahreza, Analis Kebijakan, Badan Kebijakan Fiskal, Kemenkeu
AWAN hitam kembali membayangi perekonomian global. Beberapa negara mengalami tekanan ekonomi cukup kuat. Tak tanggung-tanggung, negara sebesar Amerika Serikat (AS) mulai kembali mengalami kontraksi ekonomi. Dalam laporan yang dirilis oleh U.S. Bureau of Economic Analysis, pertumbuhan ekonomi AS pada kuartal I-2022 tumbuh sebesar minus 1,5% secara quarter-on-quarter. Capaian tersebut menandai kontraksi pertama yang terjadi dalam tujuh kuartal terakhir di perekonomian AS.
Kondisi demikian tidak hanya terjadi di AS, sejumlah negara besar lainnya juga sedang menghadapi situasi perekonomian yang tidak menentu. Contoh lainnya adalah Jerman, di mana negara tersebut saat ini sedang menghadapi tekanan inflasi tertinggi dalam sejarahnya. Pun kawasan Eropa secara umum juga sedang menghadapi ancaman krisis energi dan pangan yang berakibat pada kenaikan inflasi ke rekor tertinggi.
Semakin eskalatifnya ketidakpastian ekonomi global pada dasarnya dipicu oleh beberapa hal. Pertama, global supply disruption yang mendorong tingginya laju inflasi di sejumlah negara maju. Kedua, konflik Rusia dan Ukraina yang turut mengerek kenaikan harga komoditas, terutama komoditas pangan dan energi. Ketiga, pengetatan kebijakan moneter di sejumlah negara maju yang berimplikasi pada kenaikan cost of fund.
Di tengah kondisi ekonomi global yang tidak menentu, kondisi fundamental ekonomi Indonesia relatif masih cukup kuat. Inflasi Indonesia pada Mei masih terkendali di level 3,55% secara year-on-year (yoy). Selanjutnya, seiring dengan situasi pandemi Covid-19 yang semakin terkendali, aktivitas ekonomi terus menunjukkan tren pemulihan yang kuat. Pada kuartal I-2022, perekonomian Indonesia tercatat tumbuh sebesar 5,01% secara yoy. Capaian tersebut merupakan salah satu yang terbaik di kawasan.