Optimistis atau Pesimistis Menghadapi Normal Baru, Ada di Tangan Kita

Rabu, 17 Juni 2020 - 06:02 WIB
loading...
Optimistis atau Pesimistis Menghadapi Normal Baru, Ada di Tangan Kita
Muhamad Ali, Pemerhati Human Capital. Foto/Dok. Pribadi
A A A
Muhamad Ali
Pemerhati Human Capital

OPTIMISME itu menular. Efek penularannya juga dahsyat. Jika kita dikelilingi orang-orang yang optimistis, hidup dan bekerja di lingkungan yang berisi orang-orang optimistis, kita akan tertular semangat itu dan bisa mengubah sikap kita dalam menghadapi sesuatu.

Masalahnya, pesimisme itu juga punya daya tular. Efek penularannya pun justru lebih dahsyat dibanding optimisme. Daya rusaknya luar biasa. Ia bisa menghancurkan mimpi-mimpi atau cita-cita seseorang dalam sekejap.

Sebuah riset pernah mengungkapkan fakta bahwa pesimisme itu menular 2-4 kali lebih cepat dibandingkan optimisme. Dan dalam suatu lingkungan posisi sikap individual itu sangat tergantung pada suasana di lingkungannya.

Lingkungan memengaruhi lebih dari tiga per empat sikap seseorang. Artinya, independensi sikap itu lebih banyak dibentuk oleh lingkungan daripada oleh pandangan-pandangan personal.

Pandemi Covid-19 juga disikapi dengan dua sudut pandang tadi: optimistis dan pesimistis. Namun, sejauh kita menerima informasi dan berita-berita dari media massa dan percakapan di media sosial maupun grup-grup percakapan, berita-berita negatif yang memantik rasa pesimis jauh lebih banyak ketimbang berita-berita positif yang menimbulkan harapan dan optimisme.

Berita tentang kematian yang ditayangkan setiap hari menakutkan semua orang. Kematian, memang menjadi momok yang paling dihindari. Runyamnya, kita tidak bisa mengingkari bahwa tiap hari berita yang kita terima tentang kematian itu masih terus bertambah. Korban yang terkena virus juga terus meningkat.

Lalu, bagaimana kita keluar dari jebakan pesimisme yang sudah sedemikian parah melingkupi kita dan hidup kita dalam 24 jam melalui ponsel atau gawai pintar tersebut? Pernahkah kita mengamati dan melihat berita-berita kematian itu dari sudut pandang yang berbeda?

Benar bahwa tiap hari orang mati karena virus itu terus bertambah. Tapi, fakta bahwa orang yang terpapar virus dan kemudian sembuh juga ada.

Pernahkah juga kita mendalami angka-angka atau cerita-cerita tentang kesembuhan pasien tersebut sehingga kita menjadi lebih sadar bahwa orang-orang yang berhasil sembuh tersebut salah satunya adalah karena ada semangat positif dan optimisme dalam diri mereka?
Halaman :
Komentar
Copyright © 2023 SINDOnews.com
read/ rendering in 0.2933 seconds (11.97#12.26)