Tiga Mazhab Pandemi
Rabu, 02 Maret 2022 - 16:03 WIB
loading...
A
A
A
Hal yang menarik adalah, masyarakat yang masuk dalam kategori pertama ini biasanya cenderung tidak terlalu antusias dalam menyambut program vaksinasi yang dilakukan oleh banyak negara di dunia. Mungkin karena pada dasarnya kelompok ini sudah tidak terlalu percaya terhadap Covid-19, maka ketidakpercayaan yang sama juga diberlakukan untuk upaya pencegahan ataupun perlindungan seperti vaksinasi. Alih-alih mau beli vaksin (andai vaksinasi jadi diperjual-belikan), bahkan sebagian pihak tetap tidak mau untuk mengikuti vaksinasi walaupun dibayar dengan “imbalan-imbalan” tertentu.
Kedua, mazhab progresif. Berbeda dengan kelompok konservatif, kelompok progresif sangat percaya terhadap keberadaan Covid-19. Kelompok ini kerap melakukan segala daya dan upaya untuk menjaga diri dan orang lain agar tidak tertular oleh virus yang masih diupayakan obatnya ini. Sebagai turunannya, kelompok ini sangat patuh terhadap protokol kesehatan; mulai dari tidak keluar rumah, menghindari kerumunan masyarakat, rajin mencuci tangan dan hal-hal lainnya. Pun demikian, kelompok ini sangat positif dalam menghadapi program vaksinasi pemerintah sebagai upaya pencegahan dan perlindungan dari Covid-19. Andai pemerintah tetap memberlakukan vaksinasi berbayar, kelompok ini mungkin akan membelinya.
Neo-Progresif
Dalam beberapa waktu terakhir, muncul mazhab ketiga, yang penulis sebut sebagai kelompok Neo-Progresif. Kelompok ini sebenarnya berawal dari kelompok progresif yang sangat percaya terhadap keberadaan Covid-19, taat terhadap protokol kesehatan dan mendukung program vaksinasi pemerintah. Namun kemunculan varian Omicron yang menurut para ahli tidak menimbulkan dampak yang serius layaknya varian Delta atau Alfa telah membuat kelompok ini “nyempal” dari kelompok progresif pada umumnya. Lebih daripada itu semua, kelompok Neo-Progresif ini justru bersikap layaknya kelompok konservatif.
Sebagaimana sikap kelompok konservatif, kelompok Neo-Progresif saat ini cenderung lebih rileks dalam menghadapi Covid-19, khususnya varian Omicron. Kelompok ini mendukung agar protokol kesehatan mulai dilonggarkan, mulai dari pewajiban masker hingga larangan berkumpul. Dalam hemat penulis, aksi-aksi konvoi kebebasan yang belakangan marak terjadi di negara-negara Eropa (sebagaimana telah disampaikan di atas) merupakan bagian dari kelompok Neo-Progresif.
Ke depan, hampir bisa dipastikan akan semakin banyak kelompok masyarakat yang bersuara atau bahkan beraksi seperti dilakukan oleh kelompok Neo-Progresif, termasuk di Indonesia. Terlebih lagi selama ini memang banyak kelompok konservatif di Indonesia yang suaranya menjadi sama dengan suara kelompok Neo-Progresif sekarang.
Kedua, mazhab progresif. Berbeda dengan kelompok konservatif, kelompok progresif sangat percaya terhadap keberadaan Covid-19. Kelompok ini kerap melakukan segala daya dan upaya untuk menjaga diri dan orang lain agar tidak tertular oleh virus yang masih diupayakan obatnya ini. Sebagai turunannya, kelompok ini sangat patuh terhadap protokol kesehatan; mulai dari tidak keluar rumah, menghindari kerumunan masyarakat, rajin mencuci tangan dan hal-hal lainnya. Pun demikian, kelompok ini sangat positif dalam menghadapi program vaksinasi pemerintah sebagai upaya pencegahan dan perlindungan dari Covid-19. Andai pemerintah tetap memberlakukan vaksinasi berbayar, kelompok ini mungkin akan membelinya.
Neo-Progresif
Dalam beberapa waktu terakhir, muncul mazhab ketiga, yang penulis sebut sebagai kelompok Neo-Progresif. Kelompok ini sebenarnya berawal dari kelompok progresif yang sangat percaya terhadap keberadaan Covid-19, taat terhadap protokol kesehatan dan mendukung program vaksinasi pemerintah. Namun kemunculan varian Omicron yang menurut para ahli tidak menimbulkan dampak yang serius layaknya varian Delta atau Alfa telah membuat kelompok ini “nyempal” dari kelompok progresif pada umumnya. Lebih daripada itu semua, kelompok Neo-Progresif ini justru bersikap layaknya kelompok konservatif.
Sebagaimana sikap kelompok konservatif, kelompok Neo-Progresif saat ini cenderung lebih rileks dalam menghadapi Covid-19, khususnya varian Omicron. Kelompok ini mendukung agar protokol kesehatan mulai dilonggarkan, mulai dari pewajiban masker hingga larangan berkumpul. Dalam hemat penulis, aksi-aksi konvoi kebebasan yang belakangan marak terjadi di negara-negara Eropa (sebagaimana telah disampaikan di atas) merupakan bagian dari kelompok Neo-Progresif.
Ke depan, hampir bisa dipastikan akan semakin banyak kelompok masyarakat yang bersuara atau bahkan beraksi seperti dilakukan oleh kelompok Neo-Progresif, termasuk di Indonesia. Terlebih lagi selama ini memang banyak kelompok konservatif di Indonesia yang suaranya menjadi sama dengan suara kelompok Neo-Progresif sekarang.
Lihat Juga :