Kebugaran Orang Indonesia Rendah
Senin, 31 Januari 2022 - 11:00 WIB
loading...
A
A
A
Apa yang dilakukan untuk mencapai target? Menurut Suyadi, Kemenpora sudah bertemu dengan Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi (Kemendikbud Ristek). Pihaknya mendorong Kemendikbud Ristek melakukan langkah bersama mengubah kurikulum. Diharapkana kurikulum menjadi relevan dengan keinginan meningkatkan aktivitas atau gerak anak siswa? “Misalnya apakah senam kesegaran jasmani (SKJ) perlu didorong kembali, atau apa perlu dimodifikasi? Ataukah perlu penambahan jam pelajaran olahraga, atau senam sebelum sekolah, itu sedang kami bicarakan dengan Kemendikbud secara intensif,” paparnya.
Perlunya Fasilitas Olahraga
Untuk memperbaiki tingkat partisipasi olahraga masyarakat, Profesor Analisis Kebijakan Pembangunan Olahraga FKOR Universitas Sebelas Maret Surakarta, Agus Kristiyanto menjelaskan, ada empat hal yang perlu dilakukan. Pertama adalah membangun literasi fisik. Literasi fisik dapat diartikan sebagai motivasi, kepercayaan diri, dan pengetahuan untuk menghargai dan bertanggung jawab atas keterlibatan dalam aktivitas fisik. Orang yang memahami literasi juga akan mengetahui manfaat dari berolaharaga.
“Orang yang tahu manfaat latihan fisik dan berusaha dapat manfaatnya, pasti akan partisipatif dibanding yang tidak’ ujar Agus saat dihubungi Sabtu (29/1).
Lagkah kedua adalah mengubah mindset tentang kebugaran. Selama ini orang mengira ketika dirinya merasa tidak ada gangguan kesehatan maka dia tidak perlu lagi mengupayakan kebugaran. Langkah ketiga, kepemilikan waktu. Untuk mewujudkan partisipasi berolahraga itu butuh waktu yang khusus. Mindset masyarakat kita, kata Agus, masih perlu terliterasi.
“Misalnya sering merasa bahwa berolahraga itu waktunya harus pagi, olahraga harus dua jam waktunya.Padahal kan tidak harus seperti itu,” ujar pakar olahraga yang juga terlibat sebagai Tim Penyusun Sport Develpoment Index 2021.
Tak kalah meningkatkan kesdaran berolahraga adalah menyediakan infrastruktur olahraga. Infrastruktur ini terutama yang berhubungan dengan lingkungan sekitar, misalnya ketersediaan trotoar. Menurutnya orang membutuhkan ruang terbuka, untuk bisa mengembangkan latihan fisik secara cukup.
“Selain trotoar, misalnya pemerintah bisa sediakan alun-alun, atau lokasi car freeday,” sarannya.
Saat ini ruang terbuka berolahraga disebutnya masih kurang, yakni baru setengah dari yang seharusnya. Dari ukuran Unesco, ruang terbuka yang dibutuhkan untuk aktif berolaharaga, adalah tiga setengah meter persegi per jiwa. Infrastruktur olahraga menurut Agus itu tidak harus secara khusus disediakan, tapi bisa terintegrasi dengan penyediaan ruang-ruang yang lainnya, misalnya tempat parkir.
“Tempat parkir itu jangan didekatkan dengan gedung utama, artinya bahwa pemilik mobil atau motor tetap ada kesempatan untuk berjalan kaki,” katanya.
Pandemi Bukan Penyebab Utama
Direktur Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Imran Agus Nurali menilai hasil survei SDI 2021 tersebut memang menggambarkan kondisi masyarakat Indonesia yang cenderung kurang beraktivitas fisik atau berolahraga. Hasil tersebut disebutnya tidak berbeda jauh dengan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 yang dilakukan Kemenkes. Kajian Kemenkes juga menunjukkan adanya peningkatan masyarakat Indonesia yang kurang beraktivitas fisik dibandingkan riset sebelumnya pada 2013.
Kondisi pandemi Covid-19 tidak selayaknya jadi alasan. Itu bukan faktor utama yang menyebabkan masyarakat tidak bisa bergerak. Kebijakan pemerintah di masa pandemi, menurut Imran, lebih memfokuskan pada pembatasan kegiatan yang sifatnya berkerumun. Artinya, setiap orang masih bisa berolahraga secara individu atau komunitas baik di dalam maupun di luar rumah.
“Selama menjaga jarak, sebetulnya (olahraga) boleh. Hanya karena hasil Riskesdas itu kan masalah perilaku. Ada pandemi, olahraga yang sifatnya sosial jadi lebih berpengaruh. Apalagi kalau perilaku untuk berolahraga sendiri saja kurang, ya jadinya makin berkurang,” ujar Imran saat dihubungi kemarin (30/1).
Di masa pandemi ini, perilaku menjaga kesehatan tidak hanya sekadar mematuhi protokol kesehatan. Menjaga kebugaran tubuh dengan berolahraga dan mengonsumsi makan sehat juga merupakan pola hidup yang penting untuk meningkatkan imun dan melindungi tubuh dari dampak Covid-19. Namun, kata dia, kebiasaan ini kerap dilupakan sehingga sebagian besar hanya fokus pada mengikuti protokol kesehatan saja.
Perlunya Fasilitas Olahraga
Untuk memperbaiki tingkat partisipasi olahraga masyarakat, Profesor Analisis Kebijakan Pembangunan Olahraga FKOR Universitas Sebelas Maret Surakarta, Agus Kristiyanto menjelaskan, ada empat hal yang perlu dilakukan. Pertama adalah membangun literasi fisik. Literasi fisik dapat diartikan sebagai motivasi, kepercayaan diri, dan pengetahuan untuk menghargai dan bertanggung jawab atas keterlibatan dalam aktivitas fisik. Orang yang memahami literasi juga akan mengetahui manfaat dari berolaharaga.
“Orang yang tahu manfaat latihan fisik dan berusaha dapat manfaatnya, pasti akan partisipatif dibanding yang tidak’ ujar Agus saat dihubungi Sabtu (29/1).
Lagkah kedua adalah mengubah mindset tentang kebugaran. Selama ini orang mengira ketika dirinya merasa tidak ada gangguan kesehatan maka dia tidak perlu lagi mengupayakan kebugaran. Langkah ketiga, kepemilikan waktu. Untuk mewujudkan partisipasi berolahraga itu butuh waktu yang khusus. Mindset masyarakat kita, kata Agus, masih perlu terliterasi.
“Misalnya sering merasa bahwa berolahraga itu waktunya harus pagi, olahraga harus dua jam waktunya.Padahal kan tidak harus seperti itu,” ujar pakar olahraga yang juga terlibat sebagai Tim Penyusun Sport Develpoment Index 2021.
Tak kalah meningkatkan kesdaran berolahraga adalah menyediakan infrastruktur olahraga. Infrastruktur ini terutama yang berhubungan dengan lingkungan sekitar, misalnya ketersediaan trotoar. Menurutnya orang membutuhkan ruang terbuka, untuk bisa mengembangkan latihan fisik secara cukup.
“Selain trotoar, misalnya pemerintah bisa sediakan alun-alun, atau lokasi car freeday,” sarannya.
Saat ini ruang terbuka berolahraga disebutnya masih kurang, yakni baru setengah dari yang seharusnya. Dari ukuran Unesco, ruang terbuka yang dibutuhkan untuk aktif berolaharaga, adalah tiga setengah meter persegi per jiwa. Infrastruktur olahraga menurut Agus itu tidak harus secara khusus disediakan, tapi bisa terintegrasi dengan penyediaan ruang-ruang yang lainnya, misalnya tempat parkir.
“Tempat parkir itu jangan didekatkan dengan gedung utama, artinya bahwa pemilik mobil atau motor tetap ada kesempatan untuk berjalan kaki,” katanya.
Pandemi Bukan Penyebab Utama
Direktur Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Imran Agus Nurali menilai hasil survei SDI 2021 tersebut memang menggambarkan kondisi masyarakat Indonesia yang cenderung kurang beraktivitas fisik atau berolahraga. Hasil tersebut disebutnya tidak berbeda jauh dengan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 yang dilakukan Kemenkes. Kajian Kemenkes juga menunjukkan adanya peningkatan masyarakat Indonesia yang kurang beraktivitas fisik dibandingkan riset sebelumnya pada 2013.
Kondisi pandemi Covid-19 tidak selayaknya jadi alasan. Itu bukan faktor utama yang menyebabkan masyarakat tidak bisa bergerak. Kebijakan pemerintah di masa pandemi, menurut Imran, lebih memfokuskan pada pembatasan kegiatan yang sifatnya berkerumun. Artinya, setiap orang masih bisa berolahraga secara individu atau komunitas baik di dalam maupun di luar rumah.
“Selama menjaga jarak, sebetulnya (olahraga) boleh. Hanya karena hasil Riskesdas itu kan masalah perilaku. Ada pandemi, olahraga yang sifatnya sosial jadi lebih berpengaruh. Apalagi kalau perilaku untuk berolahraga sendiri saja kurang, ya jadinya makin berkurang,” ujar Imran saat dihubungi kemarin (30/1).
Di masa pandemi ini, perilaku menjaga kesehatan tidak hanya sekadar mematuhi protokol kesehatan. Menjaga kebugaran tubuh dengan berolahraga dan mengonsumsi makan sehat juga merupakan pola hidup yang penting untuk meningkatkan imun dan melindungi tubuh dari dampak Covid-19. Namun, kata dia, kebiasaan ini kerap dilupakan sehingga sebagian besar hanya fokus pada mengikuti protokol kesehatan saja.
(ynt)