Berpesan dengan Mural
Kamis, 02 September 2021 - 07:51 WIB
loading...
Seni mural menjadi sorotan karena gambar-gambar kritisnya
A
A
A
JAKARTA - Seni lukis dinding atau mural kini menjadi perbincangan hangat di kalangan masyarakat. Terlepas dari kontennya, mural terbukti menjadi media efektif dalam menyampaikan pesan dalam ruang publik.
Perbincangan hangat tentang mural memang tidak bisa lepas dari langkah aparat yang menghapus gambar wajah yang mirip dengan Presiden Jokowi dan bertuliskan '404; Not Found' di Batu Ceper, Tangerang; 'Dipaksa Sehat di Negara yang Sakit' di Pasuruan; dan 'Wabah Sesungguhnya adalah Kelaparan'.
Apapun pro-kontra yang menyertainya, langkah tersebut sebenarnya tidak semestinya dilakukan. Apalagi jika mural muncul sebagai refleksi kehidupan masyarakat dalam konteks kehidupan bernegara. Pandangan demikian di antaranya disampaikan ujar Kurator Seni Rupa Galeri Nasional Indonesia, Suwarno Wisesotromo, Dosen seni rupa Universitas Negeri Semarang (Unnes) Purwanto, dan pemural Arief Hadinata.
Baca juga: Siber Polri Harus Buru Pembocor Data eHAC, DPR: Lebih Penting Ketimbang Pembuat Mural
“Kritik itu kan sebetulnya vitamin. Masyarakat harus berlajar kritis, mana yang caci maki, mana yang sekadar ngomong enggak jelas dan mana yang memberi masukan. Masyarakat harus terdidik dengan sendirinya, kan lama-lama masyarakat juga cerdas kok mana kritik mana bukan,” ujar Suwarno Wisesotromo, saat dihubungi di Jakarta.
Dia menandaskan, jika pun terpaksa, lebih baik mural yang sudah ditimpa dengan mural baru yang lebih bagus. Pasalnya, saling penimpaan dalam konteks seni jalan lazim dilakukan. Namun bila penutupan dilakukan dengan mengecat saja, maka tindakan tindakan berlebihan dan tidak taktis.
“Kalau mau nutup baiknya dengan menggambar lagi diatasnya. Muralis ditutup diatasnya oleh yang lain ya tidak apa-apa, tapi kalau ditutup cat itu berlebihan,” ungkapnya.
Baca juga: Mural Dihapus Aparat, Pekerja Seni di Tangerang Bersatu dan Melawan
Suwarno menuturkan, seniman jalanan itu wataknya semakin diperlakukan begitu akan semakin militan, karena apa yang mereka lakukan sebagai bagian keyakinan perjuangan seniman jalanan.
“Biasanya akan meningkat semangatnya karena cara menutupnya memancing mereka untuk bereaksi lebih. Apalagi kalau sampai diburu itu berlebihan, enggak perlu lah,” ujarnya.
Dia pun kembali mengingatkan bahwa jika bermain di ruang publik dengan bahasa mural, maka jika ingin menutup dengan gambar lain jangan cuma menggunakan cat biasa. Perebutan ruang publik itu kontestasi tentang gambar dan pesan yang bagus.
“Karya seni diruang publik enggak boleh sewenang-wenang. Tetap menimbang bahwa ruang publik berprinsip pada pengguna, kita punya respek kepada pengguna lain. Jadi kalau seniman tiba-tiba mengkooptasi dengan sewenang-wenang tanpa menimbang respek pada orang lain itu menurut saya tindakan sewenang-wenang,” ungkapnya.
Adapun Purwanto melihat penghapusan mural yang dianggap mengkritik pemerintah dan menghina presiden mengindikasikan adanya perbedaan sudut pandang.
“Di satu sisi, seniman ingin memberikan satu sentuhan estetik dari konteks ruang dimana mural itu berada. Akan tetapi, kalau dari perspektif politik, mungkin tidak menjadi sesuatu yang memberikan pencerahan dan positif bagi kepentingan politik. Bisa saja itu dinilai negatif. Seni itu multi interpretasi,” tuturnya.
Kendati demikian, bila langkah aparat kemudian diikuti dengan memburu pelaku pembuat mural, dalam pandangannya itu berlebihan. Dia mendorong pemerintah mengedepankan dialog dengan pembuat mural itu.
“Siapa tahu di balik ungkapan visual itu ada nilai-nilai kebajikan yang pemerintah bisa hormat terhadap persoalan itu. Saya secara pribadi salut dengan kreativitas yang dimiliki kreator itu. Persoalannya, bagaimana itu dikomunikasikan kepada pihak-pihak yang merasa berseberangan,” jelasnya.
Purwanto memaparkan, mural mempunyai beragama maksud seperti mempercantik tata kota, menyampaikan kritik, serta memperkenalkan identitas, dan budaya suatu daerah. Bahkan, ada yang tujuannya untuk perang ideologi.Karenanya, mural harus menjadi sesuatu yang bermakna dalam kehidupan.
Perbincangan hangat tentang mural memang tidak bisa lepas dari langkah aparat yang menghapus gambar wajah yang mirip dengan Presiden Jokowi dan bertuliskan '404; Not Found' di Batu Ceper, Tangerang; 'Dipaksa Sehat di Negara yang Sakit' di Pasuruan; dan 'Wabah Sesungguhnya adalah Kelaparan'.
Apapun pro-kontra yang menyertainya, langkah tersebut sebenarnya tidak semestinya dilakukan. Apalagi jika mural muncul sebagai refleksi kehidupan masyarakat dalam konteks kehidupan bernegara. Pandangan demikian di antaranya disampaikan ujar Kurator Seni Rupa Galeri Nasional Indonesia, Suwarno Wisesotromo, Dosen seni rupa Universitas Negeri Semarang (Unnes) Purwanto, dan pemural Arief Hadinata.
Baca juga: Siber Polri Harus Buru Pembocor Data eHAC, DPR: Lebih Penting Ketimbang Pembuat Mural
“Kritik itu kan sebetulnya vitamin. Masyarakat harus berlajar kritis, mana yang caci maki, mana yang sekadar ngomong enggak jelas dan mana yang memberi masukan. Masyarakat harus terdidik dengan sendirinya, kan lama-lama masyarakat juga cerdas kok mana kritik mana bukan,” ujar Suwarno Wisesotromo, saat dihubungi di Jakarta.
Dia menandaskan, jika pun terpaksa, lebih baik mural yang sudah ditimpa dengan mural baru yang lebih bagus. Pasalnya, saling penimpaan dalam konteks seni jalan lazim dilakukan. Namun bila penutupan dilakukan dengan mengecat saja, maka tindakan tindakan berlebihan dan tidak taktis.
“Kalau mau nutup baiknya dengan menggambar lagi diatasnya. Muralis ditutup diatasnya oleh yang lain ya tidak apa-apa, tapi kalau ditutup cat itu berlebihan,” ungkapnya.
Baca juga: Mural Dihapus Aparat, Pekerja Seni di Tangerang Bersatu dan Melawan
Suwarno menuturkan, seniman jalanan itu wataknya semakin diperlakukan begitu akan semakin militan, karena apa yang mereka lakukan sebagai bagian keyakinan perjuangan seniman jalanan.
“Biasanya akan meningkat semangatnya karena cara menutupnya memancing mereka untuk bereaksi lebih. Apalagi kalau sampai diburu itu berlebihan, enggak perlu lah,” ujarnya.
Dia pun kembali mengingatkan bahwa jika bermain di ruang publik dengan bahasa mural, maka jika ingin menutup dengan gambar lain jangan cuma menggunakan cat biasa. Perebutan ruang publik itu kontestasi tentang gambar dan pesan yang bagus.
“Karya seni diruang publik enggak boleh sewenang-wenang. Tetap menimbang bahwa ruang publik berprinsip pada pengguna, kita punya respek kepada pengguna lain. Jadi kalau seniman tiba-tiba mengkooptasi dengan sewenang-wenang tanpa menimbang respek pada orang lain itu menurut saya tindakan sewenang-wenang,” ungkapnya.
Adapun Purwanto melihat penghapusan mural yang dianggap mengkritik pemerintah dan menghina presiden mengindikasikan adanya perbedaan sudut pandang.
“Di satu sisi, seniman ingin memberikan satu sentuhan estetik dari konteks ruang dimana mural itu berada. Akan tetapi, kalau dari perspektif politik, mungkin tidak menjadi sesuatu yang memberikan pencerahan dan positif bagi kepentingan politik. Bisa saja itu dinilai negatif. Seni itu multi interpretasi,” tuturnya.
Kendati demikian, bila langkah aparat kemudian diikuti dengan memburu pelaku pembuat mural, dalam pandangannya itu berlebihan. Dia mendorong pemerintah mengedepankan dialog dengan pembuat mural itu.
“Siapa tahu di balik ungkapan visual itu ada nilai-nilai kebajikan yang pemerintah bisa hormat terhadap persoalan itu. Saya secara pribadi salut dengan kreativitas yang dimiliki kreator itu. Persoalannya, bagaimana itu dikomunikasikan kepada pihak-pihak yang merasa berseberangan,” jelasnya.
Purwanto memaparkan, mural mempunyai beragama maksud seperti mempercantik tata kota, menyampaikan kritik, serta memperkenalkan identitas, dan budaya suatu daerah. Bahkan, ada yang tujuannya untuk perang ideologi.Karenanya, mural harus menjadi sesuatu yang bermakna dalam kehidupan.
Lihat Juga :