Guru Besar UI: PPKM Darurat Belum Efektif, Penularan Masih Tinggi
Senin, 19 Juli 2021 - 11:54 WIB
loading...
Guru Besar UI Prof Tjandra Yoga Aditama menilai PPKM Darurat yang diterapkan sejak 3 Juli 2021 belum efektif menurunkan laju penularan Covid-19. Foto/ist
A
A
A
JAKARTA - Guru Besar FKUI Prof Tjandra Yoga Aditama menilai PPKM Darura t seja 3 Juli lalu belum efektif menekan laju penularan Covid-19. Hal ini bisa dilihat dari pertambahan kasus baru, angka kepositifan dan jumlah kematian.
Menurut data awal 3 Juli 2021, hari itu ditemukan 27.913 kasus baru, positivity rate 25,15% dan 493 angka kematian. Setelah 10 hari berjalan, terjadi lonjakan sangat tajam. Pada 14 Juli 2021 untuk pertama kalinya angka kasus baru menembus angka 50 ribu, tepatnya 54.517. Lalu angka kepositifan juga menembus 30%, tepatnya 31,5%.
”Ini menunjukkan besarnya penularan di masyarakat dan angka di atas 30% ini menetap dalam tiga hari berturut-turut,” ujar Tjandra dalam pernyataan yang diterima SINDOnews, Senin (19/7/2021).
Baca juga: Ramalan Suram Ekonom Jika PPKM Darurat Terpaksa Diperpanjang
Dia menjelaskan, ada tiga pendekatan untuk menilai efektivitas PPKM Darurat epidemiologi, sistem surveilans dan sistem pelayanan kesehatan. Kasus baru dan angka kepositifan merupakan parameter dalam kriteria epidemiologi.
Menurut data awal 3 Juli 2021, hari itu ditemukan 27.913 kasus baru, positivity rate 25,15% dan 493 angka kematian. Setelah 10 hari berjalan, terjadi lonjakan sangat tajam. Pada 14 Juli 2021 untuk pertama kalinya angka kasus baru menembus angka 50 ribu, tepatnya 54.517. Lalu angka kepositifan juga menembus 30%, tepatnya 31,5%.
”Ini menunjukkan besarnya penularan di masyarakat dan angka di atas 30% ini menetap dalam tiga hari berturut-turut,” ujar Tjandra dalam pernyataan yang diterima SINDOnews, Senin (19/7/2021).
Baca juga: Ramalan Suram Ekonom Jika PPKM Darurat Terpaksa Diperpanjang
Dia menjelaskan, ada tiga pendekatan untuk menilai efektivitas PPKM Darurat epidemiologi, sistem surveilans dan sistem pelayanan kesehatan. Kasus baru dan angka kepositifan merupakan parameter dalam kriteria epidemiologi.
Lihat Juga :