Tantangan Mengelola SDM Berskala Besar

loading...
Tantangan Mengelola SDM Berskala Besar
Muhamad Ali (Foto: Istimewa)
Muhamad Ali
Pemerhati Human Capital Management

FESTIVE moment Idul Fitri akan segera tiba. Sepertinya, kita akan menjalani hari raya terbesar di Republik ini dengan suasana dan nuansa yang berbeda. Untuk kali kedua, perayaan Idul Fitri dihadang oleh pandemi. Tahun lalu, suasana Idul Fitri itu sudah kita alami. Keluarga-keluarga memilih atau dipaksa untuk berdiam di rumah. Silaturahmi ditiadakan. Mengunjungi kerabat terdekat pun terhambat. Yang paling ditunggu-tunggu jutaan orang, mudik atau pulang kampung, juga tidak bisa dilakukan.

Idul Fitri kali ini juga demikian. Pemerintah sudah menerbitkan larangan bepergian jarak jauh antarkota untuk keperluan mudik dalam rangka Lebaran. Angkutan umum, baik darat, laut, maupun udara, dilarang beroperasi selama hampir dua pekan untuk membatasi pergerakan manusia selama musim Lebaran.

Sebagaimana kebijakan pada umumnya, sebagian menggerutu dan menyalahkan pemerintah. Menuduh pemerintah tidak konsisten dan seterusnya. Sebagian memahaminya lantaran Covid-19 belum sepenuhnya dapat dikendalikan.

Lalu, tiba-tiba muncullah kasus India yang mengalami lonjakan kasus Covid-19 akibat pelonggaran kebijakan pertemuan terbuka, mengizinkan diselenggarakannya upacara keagamaan yang berpusat di Sungai Gangga dan dihadiri oleh jutaan orang. Setelah itu, kasus penularan melonjak hingga 30 kali lipat, kematian meningkat drastis, membuat sistem kesehatan di India praktis lumpuh total, dan Covid-19 dipastikan akan membuat India makin kelimpungan.



Harus diakui, kebijakan pembatasan bepergian bukanlah kebijakan yang menyenangkan. Bukan kebijakan populis. Data yang baru saja dikeluarkan Badan Pusat Statistik (BPS) tentang kondisi ekonomi selama triwulan pertama 2021 juga memperlihatkan, Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) memberikan kontribusi penting terhadap aktivitas konsumsi masyarakat sehingga membuat konsumsi sebagai motor pertumbuhan ekonomi nasional terganggu.

Peliknya Mengelola SDM Berskala Besar
Di sektor pekerjaan formal, mengelola sumber daya manusia (SDM) dengan jumlah yang sangat besar pada situasi pandemi seperti sekarang sungguh tidak mudah. Ketergantungan terhadap kebijakan dan keputusan pemerintah sangat menentukan kelangsungan hidup dari korporasi-korporasi dengan jumlah tenaga kerja puluhan ribu orang.

Bagi para eksekutif di korporasi atau bisnis yang melibatkan sumber daya manusia berjumlah ribuan, kondisi makroekonomi yang masih belum bersahabat tentu harus diterjemahkan dalam keputusan-keputusan operasional, seperti pengelolaan kapasitas produksi, manajemen aktivitas pemasaran, sampai dengan keputusan bagaimana sistem kerja bagi para pekerja. Dalam momen menjelang Lebaran, kewajiban untuk memberikan tunjangan hari raya (THR) juga menambah tantangan yang harus diputuskan segera.

Itu baru satu faktor. Faktor yang lain adalah bagaimana beradaptasi terhadap protokol-protokol kesehatan yang tidak hanya bersifat mandatori, tetapi juga mengalami perubahan dari waktu ke waktu akibat perkembangan penanganan pandemi di level regional maupun nasional beserta dengan keputusan yang mengikutinya.

Salah satu contoh yang paling layak untuk diangkat adalah bagaimana pemerintah memberikan relaksasi pajak terhadap jenis kendaraan roda empat tertentu, dengan tujuan untuk tetap menjaga sektor ini tidak mengalami mati suri akibat tekanan ekonomi pandemi. Tidak terbayangkan apabila para eksekutif di sektor industri automotif ini harus mengambil keputusan pahit, yakni merumahkan pekerjanya. Ratusan ribu orang akan segera terdampak, dan perekonomian akan berada pada tingkat yang lebih rumit.



Beberapa sektor industri manufaktur yang juga mengalami tekanan tak kalah hebat adalah sektor industri sandang atau lebih dikenal sebagai industri tekstil dan produk tekstil. Dalam suasana menjelang Lebaran, umumnya industri ini terlihat cerah. Tapi, tidak kali ini. Sebagian besar tentu akibat pandemi. Sektor ini juga menjadi sandaran pekerja dengan jumlah yang mencapai puluhan ribu untuk satu manufaktur saja. Apabila kebijakan atau keputusan yang diambil salah sedikit saja, efeknya bisa menjadi domino dalam waktu singkat.

Beruntung, berdasarkan laporan BPS yang baru dirilis tentang kinerja ekonomi triwulan I/2021,kinerja ekspor yang menonjol juga menjadi penyokong ekonomi Indonesia hari ini. Sepanjang triwulan I/2021, nilai ekspor kita mencapai USD48,90 miliar, melonjak sekitar 17,11% dibanding triwulan yang sama tahun lalu. Sektor yang mengalami pertumbuhan ekspor antara lain besi baja, minyak sawit, batu bara, komponen kendaraan, dan komponen mesin.

Terlepas dari problematika di atas, kita tentu berharap bahwa anomali Lebaran selama dua tahun terakhir ini segera berakhir, dan kita bisa merayakan Lebaran dan menikmati liburan dengan lebih normal dibandingkan dua kali Lebaran terakhir ini. Semoga saja demikian.
(bmm)
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top