Kota yang 'Gabut'
Sabtu, 13 Februari 2021 - 07:08 WIB
loading...
A
A
A
Kembali pada Negara
Kegabutan di kota (dan juga di desa) adalah ancaman nyata yang bisa mengganggu kehidupan sosial masyarakat di kemudian hari. Ancaman yang dihasilkan bisa mirip dengan situasi pandemi yang (juga) sedang kita hadapi. Jika dalam sistem pembelajaran siswa kita diprediksi akan mengalami “The Leaning Lost Generation”, maka pada kota yang masyarakatnya gabut, mungkin kita akan mendapatkan satu realitas “kehilangan masyarakat optimistis”.
Untuk itu, kegabutan, meski bersifat temporer, tidak bisa dibiarkan terus eksis dan mendapatkan tempat dalam kehidupan masyarakat. Setiap elemen masyarakat mesti dijaga kesadarannya supaya bersama-sama kita bisa lulus melewati pandemi ini.
Oleh karena itu, ihwal yang menghasilkan narasi kegabutan dalam masyarakat harus dikikis, atau setidaknya tidak dimunculkan—apalagi ditambang demi keuntungan sekelompok orang. Pemerintah dengan masyarakat harus bahu-membahu menjaga rasa optimisme ini. Salah satu yang membuat masyarakat terjaga kesadaran optimismenya adalah memberikan keleluasaan terbatas kepada masyarakat untuk tetap melakukan aktivitas sosial budaya seperti berwisata dan berkumpul meski dengan pembatasan yang ketat. Pelarangan total untuk berwisata atau mengadakan pertemuan sosial bukan hanya mengancam kenyamanan sosial dan ekonomi. Pelarangan seperti itu justru akan menurunkan imunitas subjek sendiri, dan memperkuat kegabutan.
Negara adalah institusi yang cukup instrumen untuk melakukan hal ini. Dengan segala instrumen yang dimilikinya ini, maka dinamika relasional antarmanusia itu bisa dijaga dengan tidak mengabaikan protokol kesehatan. Jika hal ini bisa dilaksanakan, maka dengan sendirinya masyarakat akan menemukan kesadaran sosial dengan imunitas yang bagus dan terjaga; dan gabut pun perlahan, tapi pasti akan sirna.
Kegabutan di kota (dan juga di desa) adalah ancaman nyata yang bisa mengganggu kehidupan sosial masyarakat di kemudian hari. Ancaman yang dihasilkan bisa mirip dengan situasi pandemi yang (juga) sedang kita hadapi. Jika dalam sistem pembelajaran siswa kita diprediksi akan mengalami “The Leaning Lost Generation”, maka pada kota yang masyarakatnya gabut, mungkin kita akan mendapatkan satu realitas “kehilangan masyarakat optimistis”.
Untuk itu, kegabutan, meski bersifat temporer, tidak bisa dibiarkan terus eksis dan mendapatkan tempat dalam kehidupan masyarakat. Setiap elemen masyarakat mesti dijaga kesadarannya supaya bersama-sama kita bisa lulus melewati pandemi ini.
Oleh karena itu, ihwal yang menghasilkan narasi kegabutan dalam masyarakat harus dikikis, atau setidaknya tidak dimunculkan—apalagi ditambang demi keuntungan sekelompok orang. Pemerintah dengan masyarakat harus bahu-membahu menjaga rasa optimisme ini. Salah satu yang membuat masyarakat terjaga kesadaran optimismenya adalah memberikan keleluasaan terbatas kepada masyarakat untuk tetap melakukan aktivitas sosial budaya seperti berwisata dan berkumpul meski dengan pembatasan yang ketat. Pelarangan total untuk berwisata atau mengadakan pertemuan sosial bukan hanya mengancam kenyamanan sosial dan ekonomi. Pelarangan seperti itu justru akan menurunkan imunitas subjek sendiri, dan memperkuat kegabutan.
Negara adalah institusi yang cukup instrumen untuk melakukan hal ini. Dengan segala instrumen yang dimilikinya ini, maka dinamika relasional antarmanusia itu bisa dijaga dengan tidak mengabaikan protokol kesehatan. Jika hal ini bisa dilaksanakan, maka dengan sendirinya masyarakat akan menemukan kesadaran sosial dengan imunitas yang bagus dan terjaga; dan gabut pun perlahan, tapi pasti akan sirna.
(bmm)
Lihat Juga :