Komunitas Agama dan Ormas Diminta Aktif Kampanyekan Penanganan Covid-19

loading...
Komunitas Agama dan Ormas Diminta Aktif Kampanyekan Penanganan Covid-19
Upaya memutus mata rantai penularan Covid-19 yang dilakukan Satgas Penanganan Covid-19 bersama seluruh unsur lapisan masyarakat di tanah air sejauh ini sudah cukup baik. Foto/SINDOnews
JAKARTA - Upaya memutus mata rantai penularan Covid-19 yang dilakukan pemerintah melalui Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 bersama seluruh unsur lapisan masyarakat di tanah air sejauh ini sudah cukup baik. Namun, upaya ini terasa sia-sia menyusul maraknya kerumunan yang mendatangkan massa dalam jumlah besar.

Komunitas Agama dan Ormas Diminta Aktif Kampanyekan Penanganan Covid-19


Berdasarkan pengamatan KORAN SINDO, ada sejumlah kerumunan besar yang belakangan jadi sorotan, dari kerumunan aksi demonstrasi, kampanye pilkada, pesta pernikahan, hingga kerumunan terkait kegiatan keagamaan. Hal yang memprihatinkan, kerumunan tersebut cenderung mengabaikan protokol kesehatan, tidak memakai masker, dan menjaga jarak. (Baca: Jangan Lupakan Doa Ini di Pagi Hari)

Pemerintah sudah berulang kali mengimbau untuk sebisa mungkin menghindari kerumunan. Teguran secara lisan hingga sanksi administrasi sampai pembubaran sebuah acara yang mendatangkan kerumunan massa sudah kerap dilakukan. Namun, memang upaya ini tidak mudah, apalagi jika kerumunan tersebut terkait kegiatan keagamaan. Padahal, berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta saja, tercatat ada 17 kluster Covid-19 dari kegiatan keagamaan dan rumah ibadah, dengan total 236 kasus. Data secara kumulatif ini dikumpulkan sejak Mei sampai November 2020.



“Saat ini kita coba melihat beberapa kondisi, apa saja pelajaran yang bisa kita ambil dari beberapa aktivitas yang mengumpulkan orang dalam jumlah banyak. Saat ini contohnya temuan Dinkes Provinsi DKI Jakarta yang dikategorikan ke dalam rumah ibadah, kegiatan keagamaan, asrama, maupun pesantren,” ungkap Ketua Bidang Data dan Teknologi Informasi Satgas Penanganan Covid-19, Dewi Nur Aisyah dalam diskusi “Covid-19 dalam Angka: Pembelajaran dari Cluster di Indonesia” di Graha BNPB, Jakarta, kemarin.

Dewi pun mengingatkan, kegiatan dilaksanakan dengan jumlah banyak dan tidak melaksanakan protokol kesehatan akan berimbas pada terjadinya penularan Covid-19 . “Lagi-lagi, ketika dilaksanakan adanya jumlah orang bertemu dengan jumlah banyak, protokol harus diterapkan. Kalau tidak, dapat berimbas pada terjadinya penularan. Ini tidak pandang bulu, ini sebenarnya (penularan Covid-19 bisa terjadi) di mana saja,” paparnya. (Baca juga: Bantuan Subsidi Upah Guru masih Bisa Diambil Sampai Juni 2021)

Sejauh ini kegiatan keagamaan yang banyak menimbulkan kluster adalah tahlilan dan takziah. Dari kegiatan tahlilan dan takziah di DKI Jakarta ditemukan 7 kluster dengan total 69 kasus. “Satu hal yang saya highlight sebenarnya adalah terkait dengan kegiatan keagamaan seperti tahlilan dan takziah. Jadi ada orang yang meninggal begitu ya terus dilayat. Entah jaga jarak diterapkan atau tidak,” katanya.



“Jadi, ini lagi-lagi yang harus kita waspadai ketika melaksanakan kegiatan keagamaan, mau bentuknya seperti pengajian, misalnya, atau kegiatan seperti melayat orang yang sudah meninggal, ini harus dipastikan protokol (kesehatan) tetap diterapkan. Tidak bisa dengan kita merasa ‘ah dia kan tetangga saya, dia juga bukan meninggal karena Covid-19, misalnya’. Kita tidak boleh lengah dan harus tetap menerapkan 3M,” ajak Dewi.
halaman ke-1
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top