Pengamat Sebut Aksi Penolakan UU Ciptaker Saling Menunggangi
Senin, 12 Oktober 2020 - 14:54 WIB
loading...
Demontrasi penolakan UU Cipta Kerja meninggalkan bekas kerusuhan di mana-mana. Berbagai pihak mempertanyakan, apakah hal ini murni aksi penyampaian aspirasi. Foto/SINDOnews/Sutikno
A
A
A
JAKARTA - Demontrasi penolakan Undang-Undang (UU) Cipta Kerja baru-baru ini meninggalkan bekas kerusuhan di mana-mana. Berbagai pihak mempertanyakan, apakah hal ini murni aksi penyampaian aspirasi , atau ada yang menungganginya?
(Baca juga: DPR Luruskan 12 Fakta tentang Omnibus Law Cipta Kerja)
Pengamat politik Emrus Sihombing menilai, demonstrasi penolakan Omnibus Law UU Cipta Kerja beberapa hari yang lalu kentara akan aksi menunggangi satu sama lain. Pasalnya, tidak semua aksi demonstrasi murni untuk menyampaikan aspirasi atau tuntutan belaka.
(Baca juga: KSP Sesalkan Aksi Demo Tolak UU Ciptaker Rusak Fasilitas Umum)
"Karena prinsipnya manusia itu saling menunggangi. Kalau saya mengatakan, di situ saling menunggangi antara satu pihak dengan pihak yang lain," kata Emrus, Senin (12/10/2020).
Menurutnya, dalam fenomena politik, termasuk demonstrasi, merupakan suatu rangkaian peristiwa yang tidak muncul secara tiba-tiba. Karena, tidak ada satupun perilaku manusia tanpa derencanakan sebelumnya.
Kendati demikian, ia tidak bisa memastikan siapa aktor dominan yang menunggangi demonstrasi penolakan UU Cipta Kerja. Namun secara teoritis dan hipotesis, Emrus mengatakan, aktor politik yang berada di luar lapangan terlihat lebih dominan.
(Baca juga: DPR Luruskan 12 Fakta tentang Omnibus Law Cipta Kerja)
Pengamat politik Emrus Sihombing menilai, demonstrasi penolakan Omnibus Law UU Cipta Kerja beberapa hari yang lalu kentara akan aksi menunggangi satu sama lain. Pasalnya, tidak semua aksi demonstrasi murni untuk menyampaikan aspirasi atau tuntutan belaka.
(Baca juga: KSP Sesalkan Aksi Demo Tolak UU Ciptaker Rusak Fasilitas Umum)
"Karena prinsipnya manusia itu saling menunggangi. Kalau saya mengatakan, di situ saling menunggangi antara satu pihak dengan pihak yang lain," kata Emrus, Senin (12/10/2020).
Menurutnya, dalam fenomena politik, termasuk demonstrasi, merupakan suatu rangkaian peristiwa yang tidak muncul secara tiba-tiba. Karena, tidak ada satupun perilaku manusia tanpa derencanakan sebelumnya.
Kendati demikian, ia tidak bisa memastikan siapa aktor dominan yang menunggangi demonstrasi penolakan UU Cipta Kerja. Namun secara teoritis dan hipotesis, Emrus mengatakan, aktor politik yang berada di luar lapangan terlihat lebih dominan.
Lihat Juga :