Bahaya Romantisasi Oligarki Putih

Jum'at, 05 Juni 2026 - 17:59 WIB
loading...
A A A
Lebih jauh, oligarki sering bekerja bukan melalui pelanggaran yang kasatmata, melainkan melalui kedekatan yang dilembagakan. Ia tidak selalu menyuap secara vulgar. Ia bisa hadir melalui pendanaan kampanye, jabatan komisaris, tim sukses, lembaga konsultatif, proyek strategis, atau perumusan kebijakan yang sejak awal sudah lebih ramah kepada pemilik modal besar daripada warga biasa.

Karena itu, menyebut sebagian oligarki sebagai “putih” mengandung risiko penyederhanaan. Seolah-olah cukup dengan melihat apakah ia membangun sektor produktif, kita dapat mengabaikan bagaimana ia memperoleh akses, bagaimana ia memengaruhi aturan, dan bagaimana ia mempertahankan kekayaannya. Padahal oligarki justru bekerja di wilayah yang sering tidak terlihat oleh publik.

Demokrasi tidak hanya bertanya: apakah seseorang berkontribusi terhadap ekonomi? Demokrasi juga bertanya: apakah kontribusi itu diperoleh melalui aturan yang adil? Apakah akses terhadap negara terbuka bagi semua warga atau hanya bagi mereka yang memiliki kekayaan besar? Apakah kebijakan publik disusun untuk kepentingan umum atau untuk mengamankan posisi segelintir pihak?

Jika pertanyaan-pertanyaan itu tidak dijawab, istilah oligarki putih mudah menjadi perangkap. Ia membuat publik terpukau oleh hasil ekonomi, tetapi lupa memeriksa distribusi pengaruh politik. Ia membuat pertumbuhan tampak cukup, padahal demokrasi menuntut lebih dari sekadar pertumbuhan.

Demokrasi Tak Bertumpu pada Niat Baik Elite

Republik tidak boleh bergantung pada kemurahan hati orang kaya. Negara hukum tidak bisa dibangun di atas asumsi bahwa elite ekonomi akan selalu memiliki nasionalisme, kesadaran sosial, atau komitmen moral terhadap kepentingan umum. Dalam demokrasi, niat baik elite bukan fondasi. Fondasinya adalah institusi.

Inilah kelemahan utama romantisasi oligarki putih. Ia berpotensi menggeser perhatian dari akuntabilitas institusional ke karakter pribadi elite. Publik diajak berharap bahwa para pemilik modal besar akan menggunakan kekayaannya secara bijak, nasionalis, dan bertanggung jawab. Padahal sejarah politik menunjukkan, kepentingan ekonomi jarang bekerja hanya berdasarkan kebajikan moral.

Elite ekonomi bisa mendukung industrialisasi jika industrialisasi memberi proteksi. Mereka bisa mendukung hilirisasi jika memperoleh konsesi. Mereka bisa mendukung stabilitas jika stabilitas melindungi aset. Mereka bisa berbicara tentang nasionalisme ekonomi jika nasionalisme itu memperkuat posisi bisnisnya. Ini tidak selalu salah, tetapi tidak boleh otomatis disebut sebagai kebajikan publik.

Demokrasi yang sehat tidak menolak peran pengusaha besar. Tetapi demokrasi harus memastikan bahwa peran itu tunduk pada hukum, pajak, persaingan usaha, perlindungan tenaga kerja, lingkungan hidup, dan kontrol publik. Kekayaan boleh memengaruhi produksi, tetapi tidak boleh membeli kebijakan.

Karena itu, pertanyaan pentingnya bukan apakah ada oligark yang baik. Pertanyaan yang lebih mendasar adalah apakah sistem politik kita cukup kuat untuk membuat oligark yang buruk tidak bisa merusak negara. Demokrasi tidak dirancang untuk menunggu lahirnya elite yang tercerahkan. Demokrasi dirancang untuk membatasi kekuasaan siapa pun agar tidak berubah menjadi dominasi.

Tanpa institusi yang kuat, gagasan oligarki putih justru bisa berbalik menjadi romantisme berbahaya. Ia menempatkan harapan publik pada moralitas elite, bukan pada aturan main. Ia membuat negara tampak bijak karena mampu merangkul modal, tetapi diam-diam membiarkan modal merangkul negara.

Risiko Rebranding Kekuasaan

Bahaya terbesar oligarki hari ini bukan hanya ketika ia tampil kasar, predatorik, dan telanjang. Bahaya yang lebih halus muncul ketika oligarki mampu berbicara dengan bahasa pembangunan. Ia tidak lagi tampil sebagai pemburu rente, tetapi sebagai penyelamat ekonomi. Ia tidak lagi membela kepentingannya sendiri, tetapi menyebut dirinya penjaga stabilitas, pencipta lapangan kerja, dan mitra strategis negara.

Di sinilah istilah “putih” bisa menjadi kosmetik politik. Warna putih memberi kesan bersih, nasionalis, produktif, dan bertanggung jawab. Padahal, tanpa ukuran yang ketat, putih dapat berarti apa saja. Oligarki yang menikmati konsesi negara bisa menyebut dirinya investor strategis. Oligarki yang dekat dengan penguasa bisa menyebut dirinya mitra pembangunan. Oligarki yang menguasai sumber daya publik bisa menyebut dirinya motor pertumbuhan.

Rebranding semacam ini berbahaya karena mengubah cara publik membaca kekuasaan. Jika sebelumnya publik curiga terhadap konsentrasi kekayaan, kini publik diajak melihatnya sebagai prasyarat pembangunan. Jika sebelumnya dominasi elite dianggap masalah demokrasi, kini ia dapat ditampilkan sebagai efisiensi ekonomi. Jika sebelumnya kedekatan bisnis dan politik disebut konflik kepentingan, kini ia bisa dibungkus sebagai sinergi.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Ketika Bumi Berhenti...
Ketika Bumi Berhenti Bersabar
Rupiah, IHSG, dan Krisis...
Rupiah, IHSG, dan Krisis Kepercayaan
PP 20/2026: Menambah...
PP 20/2026: Menambah Penerimaan Negara atau Menambah Beban UMKM?
Ujian Kapasitas Negara,...
Ujian Kapasitas Negara, Bukan Sekadar Kasus Korupsi
Menata Demokrasi Produktif...
Menata Demokrasi Produktif untuk Kesejahteraan Lintas Generasi
Melembagakan ‘Otot’...
Melembagakan ‘Otot’ Diplomasi Prabowo
Desa BRILiaN Ketapanrame,...
Desa BRILiaN Ketapanrame, Bukti Pemberdayaan Berbasis Potensi Lokal Mampu Ciptakan Ekonomi Desa yang Maju dan Berkelanjutan
Aktivitas Pabrik di...
Aktivitas Pabrik di China Memburuk, Sinyal Peringatan bagi Ekonomi Dunia
MBG Jadi Instrumen Ganda:...
MBG Jadi Instrumen Ganda: Atasi Stunting dan Tekan Beban Ekonomi Keluarga
Rekomendasi
Stop Polemik, Prof Dede:...
Stop Polemik, Prof Dede: Pengelolaan Yayasan Diserahkan ke Pemerintah melalui UIN Jakarta
Youth ESG Maritime 2026...
Youth ESG Maritime 2026 Dorong Generasi Muda Ciptakan Solusi Nyata bagi Krisis Lingkungan Laut
Resmi Dibuka, DAIKIN...
Resmi Dibuka, DAIKIN Proshop Alvamega Hadirkan Solusi Tata Udara Premium di Serpong
Berita Terkini
KontraS Kritik Tuntutan...
KontraS Kritik Tuntutan 2,5 Tahun Penjara untuk Terdakwa Penyiraman Andrie Yunus
Revisi UU Polri, Menteri...
Revisi UU Polri, Menteri Pigai Usulkan Sejumlah Jabatan Utama Bisa Diisi Sipil
Film Pesta Babi Bergeser...
Film Pesta Babi Bergeser dari Kritik Sosial Jadi Instrumen Kampanye Disintegrasi Papua
KPK Angkut Moge, Mobil...
KPK Angkut Moge, Mobil Mewah, dan Sepeda usai Geledah Rumah Silmy Karim
Ancam 6 Juta Tenaga...
Ancam 6 Juta Tenaga Kerja, Wacana Kemasan Polos Harus Dibatalkan
DPR Minta KAI Bereskan...
DPR Minta KAI Bereskan Dulu Konektivitas Sebelum Bangun Jalur Kereta Aceh-Lampung
Infografis
Mengenal Child Grooming:...
Mengenal Child Grooming: Bahaya Manipulasi Psikologis yang Dialami Aurelie Moeremans
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved