Ekonomi Piala Dunia dan Problem Institusi di Indonesia

Kamis, 16 Juli 2026 - 06:07 WIB
loading...
Ekonomi Piala Dunia...
Umar Idris, Pegiat media di Indonesian Institute of Journalism. Foto/Dok. SindoNews
A A A
Umar Idris
Alumni Pascasarjana FEB Universitas Indonesia
Pegiat media di Indonesian Institute of Journalism

PIALA Dunia 2026 tinggal menyisakan partai puncak. Spanyol dan Argentina akan memperebutkan siapa yang terbaik di dunia di laga final yang digelar di New Jersey pada 20 Juli mendatang. Miliaran pasang mata dari seluruh dunia tertuju ke Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko, tiga negara yang untuk pertama kalinya menjadi tuan rumah bersama turnamen sepak bola terbesar di planet ini.

Di tengah hiruk pikuk itu, Presiden Prabowo Subianto justru menyampaikan kegelisahan yang berbeda. Saat meluncurkan program biodiesel B50 di Karawang, Jawa Barat, awal Juli lalu, Prabowo blak-blakan mengaku belum puas dengan capaian sepak bola nasional. Ia mengatakan Indonesia sudah mampu memproduksi bahan bakar nabati generasi terbaru, tetapi belum juga mampu mengantarkan Tim Nasional ke putaran final Piala Dunia.

Presiden bahkan secara terbuka menagih pertanggungjawaban Ketua Umum PSSI Erick Thohir dan meminta Purbaya Yudhi Sadewa memikirkan dukungan anggaran yang diperlukan. Pesan itu sederhana namun tajam: sepak bola bukan sekadar hiburan, melainkan diarahkan menjadi program pembangunan nasional.

Keresahan presiden ini layak menjadi pintu masuk untuk membedah persoalan yang lebih struktural, yaitu bagaimana institusi olahraga bekerja, seberapa besar nilai sosial-ekonomi yang sesungguhnya dipertaruhkan sebuah bangsa ketika berbicara soal sepak bola. Serta mengapa Indonesia dengan basis penggemar terbesar di dunia tetap kesulitan menembus panggung dunia.

Nilai ekonomi Piala Dunia memang fantastis di atas kertas. Laporan FIFA World Cup 2026 ‘Socioeconomic Impact Analysis’ yang disusun bersama Organisasi Perdagangan Dunia dan lembaga riset OpenEconomics memproyeksikan turnamen ini memutar ekonomi global hingga USD80,1 miliar, menyumbang hampir USD41 miliar terhadap PDB dunia, dan menciptakan sekitar 824.000 lapangan kerja baru.

Amerika Serikat, sebagai penyelenggara mayoritas pertandingan, diperkirakan menikmati tambahan PDB sekitar USD17 miliar dan ratusan ribu lapangan kerja baru. FIFA sendiri diproyeksikan meraup pendapatan sekitar USD8,9 miliar dari Piala Dunia kali ini, jauh lebih besar dibandingkan sebelumnya.

Namun angka-angka besar itu perlu dibaca dengan hati-hati. Sejumlah ekonom yang menekuni event olahraga, salah satunya Victor Matheson dari Holy Cross University, AS, mengingatkan bahwa dampak ekonomi Piala Dunia sering kali dilebih-lebihkan oleh tuan rumah Piala Dunia. Padahal uang tiket senilai ratusan dolar sebagian besar mengalir ke kantong FIFA, bukan berputar di ekonomi lokal.

Simon Rottenberg (1956) dalam Journal of Political Economy menambahkan konsep "uncertainty of outcome hypothesis", yang menyatakan nilai ekonomi sebuah kompetisi ditentukan oleh ketidakpastian hasil pertandingan; semakin kompetitif dan tidak terprediksi sebuah liga, semakin tinggi pula minat penonton dan nilai komersialnya. Prinsip ini menjelaskan mengapa liga-liga Eropa yang kompetitif seperti Liga Primer Inggris mampu menjual hak siar ke ratusan negara, sementara liga dengan dominasi segelintir klub cenderung kehilangan daya tarik jangka panjang.

Selain itu, ada konsep multiplier effect yang sering dipakai untuk memproyeksikan dampak event olahraga besar, yaitu asumsi bahwa setiap dolar yang dibelanjakan penonton akan berputar beberapa kali di perekonomian lokal lewat hotel, restoran, dan transportasi. Namun studi University of Toronto bahkan mencatat 12 dari 14 edisi Piala Dunia terakhir justru menghasilkan kerugian ekonomi neto bagi tuan rumah jika seluruh biaya infrastruktur dihitung.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Transformasi Polri di...
Transformasi Polri di Tengah Era Disrupsi Digital
Tantangan Tata Kelola...
Tantangan Tata Kelola Pemerintahan Daerah dan Ketahanan Nasional
Kritik Baru terhadap...
Kritik Baru terhadap Putusan Arbitrase Laut China Selatan: Perspektif Realisme
Satu Dekade Laut China...
Satu Dekade Laut China Selatan: Stabilitas Kawasan Ketimbang Kontestasi
Iran, Teokrasi Islam...
Iran, Teokrasi Islam dan Pelajaran bagi Dunia Islam
TNI di Kejaksaan: Antara...
TNI di Kejaksaan: Antara Persepsi Backing, Kepastian Hukum, dan Konsolidasi Negara
Jadwal Final Piala Dunia...
Jadwal Final Piala Dunia 2026: Spanyol vs Argentina
Momen Messi dan Bellingham...
Momen Messi dan Bellingham Adu Mulut
Air Mata Antonela dan...
Air Mata Antonela dan Messi Warnai Malam Bersejarah Argentina
Rekomendasi
UNJ Dampingi Penguatan...
UNJ Dampingi Penguatan Kapasitas Guru PKBM Ghaisan Cendekia
10 Negara Eropa Ini...
10 Negara Eropa Ini Bersatu Bangun Perisai Rudal Balistik, Apakah Efekif Hadapi Misil Rusia?
Comeback Dramatis, Argentina...
Comeback Dramatis, Argentina Lolos ke Final Piala Dunia 2026
Berita Terkini
Amien Desak Prabowo...
Amien Desak Prabowo Perintahkan KPK Ambil Alih Kasus Febrie Adriansyah
Ekonomi Piala Dunia...
Ekonomi Piala Dunia dan Problem Institusi di Indonesia
Alumni KPK Masuk Tim...
Alumni KPK Masuk Tim Khusus Usut Kasus Febrie Adriansyah, Budi Prasetyo: Progres yang Positif
Prabowo Pimpin Rapat...
Prabowo Pimpin Rapat 5 Jam soal Koperasi Desa Merah Putih di Istana, Ini Hasilnya
Di Forum BRICS 2026,...
Di Forum BRICS 2026, KSPSI AGN Dorong AI Berpihak pada Pekerja
Kejagung Ralat Pernyataan,...
Kejagung Ralat Pernyataan, Status Febrie Adriansyah Tetap Tersangka di 3 Sprindik Baru
Infografis
Daftar Top Skor Sementara...
Daftar Top Skor Sementara Piala Dunia 2026
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved