Ekonomi Indonesia Juara 1? Ini Menyesatkan!
Rabu, 11 Februari 2026 - 11:28 WIB
loading...
A
A
A
Dalam kerangka catch-up growth, pertumbuhan 5–6 persen bagi Indonesia bukanlah prestasi istimewa, melainkan syarat minimum untuk tidak semakin tertinggal. Dengan pendapatan per kapita sekitar USD 4.800, Indonesia memang “harus” tumbuh cepat hanya untuk menjaga jarak agar tidak makin melebar. Sebaliknya, pertumbuhan 2 persen di Amerika Serikat, dengan PDB per kapita sekitar USD 76.000, mencerminkan penciptaan nilai absolut yang jauh lebih besar, lebih stabil, dan lebih terkonsolidasi secara institusional.
Jika dihitung secara material, tambahan 5,39 persen dari ekonomi Indonesia hanya menghasilkan sekitar USD 75 miliar. Sementara 2,3 persen pertumbuhan Amerika Serikat menghasilkan tambahan sekitar USD 644 miliar. Namun fakta material ini sengaja disingkirkan, karena ia merusak narasi heroik tentang “juara”. Yang dipilih untuk ditonjolkan hanyalah persentase. Alasannya karena persentase mudah dijual, mudah dipahami, dan efektif secara politik.
Lebih problematis lagi, klaim “juara ekonomi” menutup diskusi tentang kualitas pertumbuhan dan distribusi hasilnya. Indonesia masih tertinggal jauh dalam indikator kesejahteraan dasar. Pendapatan per kapita rendah, ketimpangan struktural tinggi, dan mobilitas sosial terbatas. Dalam Indeks Pembangunan Manusia, Indonesia berada di peringkat 116. Bukti bahwa pertumbuhan tidak otomatis diterjemahkan menjadi kualitas hidup.
Struktur pertumbuhan juga bermasalah. Mesin utama ekonomi Indonesia masih bertumpu pada konsumsi domestik dan ekspor komoditas primer. Artinya, pertumbuhan sangat rentan terhadap fluktuasi harga global, tidak menciptakan basis produktivitas jangka panjang, dan memperkuat ketergantungan pada rantai nilai global yang timpang. Kondisi ini sama sekali bukan jalur menuju negara maju. Namun jebakan pembangunan menengah yang dipoles dengan euforia statistik.
Di sinilah fungsi politik dari narasi “juara” bekerja dan berperan sebagai alat depolitisasi. Publik diyakinkan bahwa ekonomi “baik-baik saja”. Namun kondisi tentang kegagalan industrialisasi, rendahnya kualitas pendidikan, lemahnya inovasi teknologi, dominasi oligarki dalam struktur pasar, serta ketergantungan pada modal dan pasar global diposisikan seolah seperti keluhan yang tidak perlu.
Narasi ini sengaja dibuat untuk melayani kepentingan elite ekonomi dan politik. Stabilitas yang diklaim lewat pertumbuhan menjadi sinyal bagi pasar finansial, investor portofolio, dan pemilik modal bahwa tatanan yang ada tidak perlu diganggu. Dalam konteks ini, pertumbuhan bukan alat transformasi, melainkan mekanisme konservasi status quo.
Jika dihitung secara material, tambahan 5,39 persen dari ekonomi Indonesia hanya menghasilkan sekitar USD 75 miliar. Sementara 2,3 persen pertumbuhan Amerika Serikat menghasilkan tambahan sekitar USD 644 miliar. Namun fakta material ini sengaja disingkirkan, karena ia merusak narasi heroik tentang “juara”. Yang dipilih untuk ditonjolkan hanyalah persentase. Alasannya karena persentase mudah dijual, mudah dipahami, dan efektif secara politik.
Lebih problematis lagi, klaim “juara ekonomi” menutup diskusi tentang kualitas pertumbuhan dan distribusi hasilnya. Indonesia masih tertinggal jauh dalam indikator kesejahteraan dasar. Pendapatan per kapita rendah, ketimpangan struktural tinggi, dan mobilitas sosial terbatas. Dalam Indeks Pembangunan Manusia, Indonesia berada di peringkat 116. Bukti bahwa pertumbuhan tidak otomatis diterjemahkan menjadi kualitas hidup.
Struktur pertumbuhan juga bermasalah. Mesin utama ekonomi Indonesia masih bertumpu pada konsumsi domestik dan ekspor komoditas primer. Artinya, pertumbuhan sangat rentan terhadap fluktuasi harga global, tidak menciptakan basis produktivitas jangka panjang, dan memperkuat ketergantungan pada rantai nilai global yang timpang. Kondisi ini sama sekali bukan jalur menuju negara maju. Namun jebakan pembangunan menengah yang dipoles dengan euforia statistik.
Di sinilah fungsi politik dari narasi “juara” bekerja dan berperan sebagai alat depolitisasi. Publik diyakinkan bahwa ekonomi “baik-baik saja”. Namun kondisi tentang kegagalan industrialisasi, rendahnya kualitas pendidikan, lemahnya inovasi teknologi, dominasi oligarki dalam struktur pasar, serta ketergantungan pada modal dan pasar global diposisikan seolah seperti keluhan yang tidak perlu.
Narasi ini sengaja dibuat untuk melayani kepentingan elite ekonomi dan politik. Stabilitas yang diklaim lewat pertumbuhan menjadi sinyal bagi pasar finansial, investor portofolio, dan pemilik modal bahwa tatanan yang ada tidak perlu diganggu. Dalam konteks ini, pertumbuhan bukan alat transformasi, melainkan mekanisme konservasi status quo.
Lihat Juga :