Makna Pemakaman Ayatollah Ali Khamenei
Senin, 06 Juli 2026 - 09:26 WIB
loading...
Ridwan Al-Makassary, Direktur COMPOSE, UIII. Foto/dok. SindoNews
A
A
A
Ridwan al-Makassary
Dosen Departemen Ilmu Politik Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII)
Direktur Center for the Study of Muslim Politics and World Society (COMPOSE) UIII
DI JALAN-jalan Teheran, jutaan manusia menyemut dan berjalan perlahan mengiringi sebuah peti jenazah. Bahkan, mereka berdatangan dari tempat yang jauh: desa-desa terpencil, kota-kota besar, bahkan dari luar Iran. Sebagian membawa bunga dan foto. Sebagian lagi hanya membawa air mata. Negara Iran menyebutnya “Pemakaman Abad ini”.
Sekitar puluhan juta orang telah mengikuti rangkaian pemakaman selama enam hari, dari persemayaman di Mosalla Agung Teheran menuju Qom, Najaf, Karbala, hingga pemakaman bedrlokasi di Mashhad, kota kelahiran Ayatollah Ali Khamenei pada Kamis (9/7/2026). Sementara itu, upacara pemakaman resmi kenegaraan digelar di Teheran pada Sabtu (4/7/2026).
Di tengah hiruk-pikuk geopolitik, prosesi itu menyampaikan satu pesan yang lebih tua daripada revolusi, yang lebih kuat daripada dentuman rudal, dan lebih panjang usianya daripada sebuah rezim. Di mana tidak ada kekuasaan yang mampu mengalahkan kematian yang jumawa. Semua kekuasaan memiliki akhir.
Selama hampir empat dekade, Khamenei adalah pusat gravitasi Republik Islam Iran. Di tangannya berpadu otoritas agama, militer, keamanan, dan politik luar negeri. Dia menjadi simbol perlawanan terhadap dominasi Amerika Serikat dan Israel, sekaligus wajah dari sebuah negara teokratis Islam yang bertahan di tengah tekanan embargo ekonomi, isolasi diplomatik, dan berbagai upaya perubahan rezim dari luar.
Bagi para pendukungnya, Khamenei adalah penjaga martabat bangsa Persia. Ia juga seorang faqih (ahli hukum Islam) yang mempertahankan kedaulatan Iran ketika banyak negara memilih tunduk pada tekanan kekuatan besar.
Dosen Departemen Ilmu Politik Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII)
Direktur Center for the Study of Muslim Politics and World Society (COMPOSE) UIII
DI JALAN-jalan Teheran, jutaan manusia menyemut dan berjalan perlahan mengiringi sebuah peti jenazah. Bahkan, mereka berdatangan dari tempat yang jauh: desa-desa terpencil, kota-kota besar, bahkan dari luar Iran. Sebagian membawa bunga dan foto. Sebagian lagi hanya membawa air mata. Negara Iran menyebutnya “Pemakaman Abad ini”.
Sekitar puluhan juta orang telah mengikuti rangkaian pemakaman selama enam hari, dari persemayaman di Mosalla Agung Teheran menuju Qom, Najaf, Karbala, hingga pemakaman bedrlokasi di Mashhad, kota kelahiran Ayatollah Ali Khamenei pada Kamis (9/7/2026). Sementara itu, upacara pemakaman resmi kenegaraan digelar di Teheran pada Sabtu (4/7/2026).
Di tengah hiruk-pikuk geopolitik, prosesi itu menyampaikan satu pesan yang lebih tua daripada revolusi, yang lebih kuat daripada dentuman rudal, dan lebih panjang usianya daripada sebuah rezim. Di mana tidak ada kekuasaan yang mampu mengalahkan kematian yang jumawa. Semua kekuasaan memiliki akhir.
Selama hampir empat dekade, Khamenei adalah pusat gravitasi Republik Islam Iran. Di tangannya berpadu otoritas agama, militer, keamanan, dan politik luar negeri. Dia menjadi simbol perlawanan terhadap dominasi Amerika Serikat dan Israel, sekaligus wajah dari sebuah negara teokratis Islam yang bertahan di tengah tekanan embargo ekonomi, isolasi diplomatik, dan berbagai upaya perubahan rezim dari luar.
Bagi para pendukungnya, Khamenei adalah penjaga martabat bangsa Persia. Ia juga seorang faqih (ahli hukum Islam) yang mempertahankan kedaulatan Iran ketika banyak negara memilih tunduk pada tekanan kekuatan besar.
Lihat Juga :