Strategi Sun Tzu dalam Kerusuhan Aksi Massa

Selasa, 02 September 2025 - 07:27 WIB
loading...
Strategi Sun Tzu dalam...
Syaifudin, Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum Universitas Negeri Jakarta (FISH UNJ). Foto/Dok Pribadi.
A A A
Syaifudin

Dosen FISH UNJ

Gelombang aksi massa mahasiswa dan masyarakat pada penghujung Agustus 2025 menorehkan catatan penting dalam sejarah demokrasi Indonesia. Aksi yang bermula dengan semangat damai untuk menyampaikan aspirasi tentang ketidakadilan struktural, beban hidup, dan keresahan sosial, pada akhirnya berubah menjadi rentetan peristiwa kerusuhan.

Dari perusakan, pembakaran, penjarahan, hingga bentrokan fisik antara masyarakat sipil dengan aparat kepolisian. Pergeseran ini menimbulkan pertanyaan mendasar, apakah eskalasi tersebut murni lahir dari spontanitas massa, ataukah ia merupakan skenario yang dirancang secara sistematis oleh aktor-aktor tertentu yang memanfaatkan momentum?

Pada aspek sosiologi politik, aksi massa jarang sekali bergerak secara tunggal tanpa kepentingan yang membonceng. Selalu ada berbagai aktor yang bermain (baik individu maupun kelompok), yang berusaha mengarahkan energi kolektif massa untuk kepentingan strategis tertentu.

Dalam konteks unjuk rasa akhir-akhir ini, aktor-aktor yang terlibat dapat dibagi menjadi tiga lapis. Pertama, aktor utama yakni mahasiswa, buruh, dan kelompok masyarakat sipil yang mengartikulasikan aspirasi. Mereka adalah wajah nyata dari keresahan publik. Kedua, aktor bayangan yang terdiri atas kelompok politik, oligarki ekonomi, maupun faksi kekuasaan yang memiliki kepentingan tersembunyi. Kelompok ini tidak tampil di jalan, namun mengoperasikan narasi, pendanaan, serta jaringan untuk mengarahkan arus protes. Kelompok ini juga memiliki motif tujuan, dari tujuan politik, ekonomi, hingga aksi balas dendam.

Ketiga, aktor lapangan berupa “agent provocateu” (agen provokasi) yang bertugas mengacaukan situasi. Mereka inilah yang menyalakan api, melempar batu pertama, hingga membakar fasilitas publik untuk menggeser makna aksi dari “protes damai” menjadi “kerusuhan”.

Terkhusus untuk aktor “agent provocateu” yang disusupkan ke dalam barisan massa, mereka menyusup di tengah kerumunan untuk memicu bentrokan atau melakukan tindakan anarkis, dengan tujuan agar opini publik berbalik menolak aksi murni mahasiswa dan masyarakat. Berdasarkan pengamatan sederhana penulis melalui tayangan yang beredar luas di media sosial, tampak adanya kesamaan wajah dari individu-individu tertentu yang muncul berulang kali dalam momen bentrokan, perusakan, hingga pembakaran, khususnya di wilayah Jakarta.

Keberadaan “agent provocateu” ini juga ada pada peristiwa tahun 1998. Namun yang membedakan, pada 1998 lebih banyak didominasi orang dewasa dengan afiliasi tertentu, sementara kini terlihat pula anak-anak remaja yang turut andil dalam peran tersebut. Fakta ini memperlihatkan bahwa skenario provokasi semakin kompleks, sekaligus mencerminkan adanya eksploitasi generasi muda dalam pusaran konflik sosial dan politik.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Pengamat: Penegakan...
Pengamat: Penegakan Hukum Jadi Cermin Kualitas Demokrasi
Demokrasi Belum Utuh...
Demokrasi Belum Utuh Jika Perempuan Masih Minim Keterwakilan
Citra Positif Polri...
Citra Positif Polri Meningkat, Pakar: Masyarakat Rasakan Perubahan Kinerja Kepolisian
Kabar 60 Ribu Calon...
Kabar 60 Ribu Calon Mahasiswa PTN Tidak Daftar Ulang, Puan Desak Pemerintah Lakukan Evaluasi
Ketua BEM FH UBK Akui...
Ketua BEM FH UBK Akui Terima Rp20 Juta, DPR: Polri Harus Investigasi
Presiden Prabowo: Saya...
Presiden Prabowo: Saya Tahu Siapa yang Bayar Demo
Demo Ricuh di Grahadi...
Demo Ricuh di Grahadi Surabaya, Belasan Pendemo Diduga Provokator Ditangkap
Buka Dialog, Pengamat...
Buka Dialog, Pengamat : Pemerintah Mau Terima Aspirasi dari Mahasiswa
KOPRI PB PMII Desak...
KOPRI PB PMII Desak Polisi Tuntaskan Kasus Dugaan Pemerkosaan di Maluku Utara
Rekomendasi
HUT ke-499 Jakarta,...
HUT ke-499 Jakarta, Ribuan Warga Padati CFD Sudirman-Thamrin Saksikan Karnaval Budaya
Superkomputer LineShine...
Superkomputer LineShine China Raih Status Superkomputer Tercepat di Dunia
Ekspor Batu Bara Dibuka...
Ekspor Batu Bara Dibuka Lagi, Pasokan 141 Juta Metrik Ton Diamankan demi Cegah Pemadaman Listrik
Berita Terkini
MUI Susun Naskah Akademik...
MUI Susun Naskah Akademik RUU Pidana LGBT, Dorong Masuk Prolegnas
Kecam Dugaan Intimidasi...
Kecam Dugaan Intimidasi Dokter di NTT, Ninik: Sanksi Disiplin Jika Kader PKB Terlibat
Satgas Lundup Polri...
Satgas Lundup Polri Bongkar Kasus Impor Ilegal Senilai Hampir Rp1 Triliun
Presiden Prabowo Hadiri...
Presiden Prabowo Hadiri Resepsi Pernikahan Putri Ketua KPK
29 Brigjen Pol Dimutasi...
29 Brigjen Pol Dimutasi Kapolri pada Juni 2026, Ini Nama-namanya
Jokowi Pakai Baju Berlogo...
Jokowi Pakai Baju Berlogo PSI: Artinya Tahu Sendiri
Infografis
Apa Itu Dilema Malaka?...
Apa Itu Dilema Malaka? Strategi AS Cekik Minyak China, Berpotensi Seret Indonesia dalam Konflik
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved