Karier Febrie Tamat, Gus Lilur: Kejaksaan dan Kepolisian Kian Erat
Rabu, 15 Juli 2026 - 14:18 WIB
loading...
Febrie Adriansyah. Foto: Dok SindoNews
A
A
A
JAKARTA - Kiai Kampung HRM Khalilur R Abdullah Sahlawiy atau Gus Lilur mengungkapkan bahwa pada Senin 13 Juli 2026 sore publik disuguhi sebuah pemandangan yang menyejukkan di tengah pekan-pekan yang panas. Jaksa Agung ST Burhanuddin menjamu Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo di Kantor Kejaksaan Agung, Jakarta Selatan.
“Di depan kamera wartawan, keduanya melakukan salam komando—genggaman tangan khas dua pemimpin yang menegaskan bahwa mereka berdiri di barisan yang sama,” kata Gus Lilur dalam keterangannya, Rabu (15/7/2026).
"Jangan berpikir kami ini rival," kata Gus Lilur menirukan Burhanuddin saat itu seraya menjelaskan bahwa hubungannya dengan Sigit adalah teman lama, jauh sebelum keduanya memimpin institusi masing-masing.
Baca juga: Kapolri Utamakan Stabilitas Negara, Haidar: Penegakan Hukum Tak Boleh Picu Rivalitas
Sang Kapolri, yang datang bersama para pejabat utama Polri, membalas dengan menyebut dirinya terhormat dijamu Korps Adhyaksa dan menegaskan ikatan keduanya sebagai satu kesatuan aparat dalam criminal justice system.
“Salam komando itu bukan basa-basi protokoler. Ia adalah pernyataan politik hukum yang paling penting pekan ini, dan rakyat perlu membacanya dengan jernih: tidak ada konfrontasi antara kejaksaan dan kepolisian. Tidak ada pertempuran antarinstitusi. Tidak ada perang bintang. Yang ada, dan yang sedang berlangsung di depan mata kita, adalah murni penegakan hukum,” tuturnya.
Gus Lilur pun mengajak mendudukkan perkaranya. Sejak 8 Juli 2026, penyidik menggeledah 13 lokasi di Jabodetabek. Dari sebuah brankas di rumah kawasan Sentul disita tujuh koper berisi 74 kilogram emas dan tumpukan valuta asing senilai total sekitar Rp476 miliar.
Sabtu dini hari, 11 Juli 2026, pemilik rumah itu mengundurkan diri dari jabatannya; pada hari yang sama ia ditetapkan sebagai tersangka dugaan korupsi dan tindak pidana pencucian uang dalam penanganan perkara Asabri, tata niaga batu bara, dan Krakatau Steel. “Dengan itu, tamatlah karier Febrie Adriansyah sebagai Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus—jabatan penuntutan tertinggi untuk perkara korupsi di republik ini,” ujarnya.
“Di depan kamera wartawan, keduanya melakukan salam komando—genggaman tangan khas dua pemimpin yang menegaskan bahwa mereka berdiri di barisan yang sama,” kata Gus Lilur dalam keterangannya, Rabu (15/7/2026).
"Jangan berpikir kami ini rival," kata Gus Lilur menirukan Burhanuddin saat itu seraya menjelaskan bahwa hubungannya dengan Sigit adalah teman lama, jauh sebelum keduanya memimpin institusi masing-masing.
Baca juga: Kapolri Utamakan Stabilitas Negara, Haidar: Penegakan Hukum Tak Boleh Picu Rivalitas
Sang Kapolri, yang datang bersama para pejabat utama Polri, membalas dengan menyebut dirinya terhormat dijamu Korps Adhyaksa dan menegaskan ikatan keduanya sebagai satu kesatuan aparat dalam criminal justice system.
“Salam komando itu bukan basa-basi protokoler. Ia adalah pernyataan politik hukum yang paling penting pekan ini, dan rakyat perlu membacanya dengan jernih: tidak ada konfrontasi antara kejaksaan dan kepolisian. Tidak ada pertempuran antarinstitusi. Tidak ada perang bintang. Yang ada, dan yang sedang berlangsung di depan mata kita, adalah murni penegakan hukum,” tuturnya.
Gus Lilur pun mengajak mendudukkan perkaranya. Sejak 8 Juli 2026, penyidik menggeledah 13 lokasi di Jabodetabek. Dari sebuah brankas di rumah kawasan Sentul disita tujuh koper berisi 74 kilogram emas dan tumpukan valuta asing senilai total sekitar Rp476 miliar.
Sabtu dini hari, 11 Juli 2026, pemilik rumah itu mengundurkan diri dari jabatannya; pada hari yang sama ia ditetapkan sebagai tersangka dugaan korupsi dan tindak pidana pencucian uang dalam penanganan perkara Asabri, tata niaga batu bara, dan Krakatau Steel. “Dengan itu, tamatlah karier Febrie Adriansyah sebagai Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus—jabatan penuntutan tertinggi untuk perkara korupsi di republik ini,” ujarnya.
Lihat Juga :