Strategi Sun Tzu dalam Kerusuhan Aksi Massa
Selasa, 02 September 2025 - 07:27 WIB
loading...
A
A
A
Pola adanya “agent provocateu” ini sejatinya bukan hal baru. Melainkan bagian dari strategi klasik dalam setiap perebutan kuasa. Hal ini paralel dengan filosofi militer Sun Tzu dalam buku “The Art of War”.
Namun, identitas penulis aslinya masih menjadi perdebatan para sejarawan. Beberapa pakar menilai bahwa nama Sun Tzu hanyalah gelar yang berarti “Filsuf Sun,” bukan nama pribadi. Di luar polemik tersebut, karya ini diakui sebagai salah satu teks strategi tertua yang terus memengaruhi praktik militer, politik, hingga manajemen modern, baik di dunia Timur maupun Barat.
Bila dibaca dengan kacamata “The Art of War” karya Sun Tzu, pola ini merefleksikan strategi ke-3 pada BAB 1 yang membahas mengenai “Strategi Kemenangan”, yakni“Membunuh dengan pedang pinjaman”. Pada konteks ini, aktor bayangan tidak perlu mengotori tangannya sendiri, mereka cukup memanfaatkan kekuatan massa yang sudah terbakar amarah. Agen provokasi ini menjadi pedang pinjaman yang digunakan untuk menghantam musuh politik atau menciptakan instabilitas yang menguntungkan para aktor bayangan ini.
Strategi Sun Tzu ini menekankan bahwa kemenangan terbaik adalah menang tanpa pertempuran (win without fighting). Dalam konteks aksi massa, tujuan utama aktor bayangan bukanlah mengalahkan lawan secara langsung, melainkan menciptakan situasi kacau yang membuat lawan politik kehilangan legitimasi.
Beberapa strategi “The Art of War” lainnya tampak relevan. Misalnya dalam strategi ke-5, “Merampok rumah yang terbakar”. Demonstrasi mahasiswa-masyarakat yang dipicu oleh ketidakpuasan ekonomi dan tragedi kematian Affan Kurniawan menjadi “rumah yang terbakar.” Dalam kondisi rakyat penuh amarah, aktor bayangan masuk untuk memanfaatkan momentum. Api keresahan diperbesar dengan isu-isu tambahan, sehingga kerusuhan makin tak terkendali.
Lalu ada strategi ke-6, “Berpura-pura menyerang dari timur, lalu menyerang dari barat”. Dalam kerangka ini, isu yang dipublikasikan bisa berbeda dari tujuan sebenarnya. Aksi yang awalnya mengangkat tema keadilan dan kesejahteraan sosial, bisa dialihkan menjadi kerusuhan yang memojokkan rezim tertentu. Dengan begitu, fokus publik dan aparat menjadi terpecah.
Sementara itu pada aksi massa ini juga terlihat strategi ke-10, “Pisau tersarung dalam senyuman”. Banyak agen provokasi awalnya menyatu dalam barisan mahasiswa-masyarakat dengan tampilan simpatik. Namun di balik senyuman dan poster aspirasi, mereka menyembunyikan niat untuk merusak, membakar, menjarah, dan menciptakan citra negatif terhadap gerakan mahasiswa-masyarakat.
Berikutnya strategi ke-20, “Memancing di air keruh”. Kekacauan adalah ruang subur bagi provokasi. Dengan menciptakan kebingungan, baik melalui kabar bohong (hoax), seruan palsu, atau tindakan anarkis, aktor berhasil memancing massa untuk ikut serta dalam kerusuhan. Banyak yang tidak sadar bahwa mereka sedang diarahkan, dan bukan sedang mengendalikan aksi.
Proses perubahan aksi damai menjadi chaos bukanlah sesuatu yang instan. Pertama, massa digiring untuk marah lebih dalam dengan provokasi simbolik, misalnya dengan munculnya isu aparat bertindak represif atau munculnya informasi bohong di media sosial. Kedua, agen lapangan memulai tindakan pemicu, seperti melempar batu ke aparat atau membakar fasilitas umum. Tindakan ini akan menimbulkan reaksi aparat dan ketegangan psikologis di antara massa. Ketiga, terjadi efek domino, di mana massa yang sebelumnya pasif ikut terlibat karena atmosfer sudah terlanjur rusuh.
Strategi Sun Tzu Pada Aktor Bayangan dan Lapangan
Buku “The Art of War” adalah karya klasik filsafat militer yang diyakini ditulis pada abad ke-6 SM dan dikaitkan dengan sosok Sun Tzu. Buku ini terdiri dari 13 bab yang masing-masing menguraikan strategi serta teknik berperang, dengan total setidaknya 36 strategi yang dirumuskan. Sebagai salah satu teks militer Tiongkok paling berpengaruh dan terkenal di dunia, kedudukannya begitu dihormati hingga lintas peradaban.Namun, identitas penulis aslinya masih menjadi perdebatan para sejarawan. Beberapa pakar menilai bahwa nama Sun Tzu hanyalah gelar yang berarti “Filsuf Sun,” bukan nama pribadi. Di luar polemik tersebut, karya ini diakui sebagai salah satu teks strategi tertua yang terus memengaruhi praktik militer, politik, hingga manajemen modern, baik di dunia Timur maupun Barat.
Bila dibaca dengan kacamata “The Art of War” karya Sun Tzu, pola ini merefleksikan strategi ke-3 pada BAB 1 yang membahas mengenai “Strategi Kemenangan”, yakni“Membunuh dengan pedang pinjaman”. Pada konteks ini, aktor bayangan tidak perlu mengotori tangannya sendiri, mereka cukup memanfaatkan kekuatan massa yang sudah terbakar amarah. Agen provokasi ini menjadi pedang pinjaman yang digunakan untuk menghantam musuh politik atau menciptakan instabilitas yang menguntungkan para aktor bayangan ini.
Strategi Sun Tzu ini menekankan bahwa kemenangan terbaik adalah menang tanpa pertempuran (win without fighting). Dalam konteks aksi massa, tujuan utama aktor bayangan bukanlah mengalahkan lawan secara langsung, melainkan menciptakan situasi kacau yang membuat lawan politik kehilangan legitimasi.
Beberapa strategi “The Art of War” lainnya tampak relevan. Misalnya dalam strategi ke-5, “Merampok rumah yang terbakar”. Demonstrasi mahasiswa-masyarakat yang dipicu oleh ketidakpuasan ekonomi dan tragedi kematian Affan Kurniawan menjadi “rumah yang terbakar.” Dalam kondisi rakyat penuh amarah, aktor bayangan masuk untuk memanfaatkan momentum. Api keresahan diperbesar dengan isu-isu tambahan, sehingga kerusuhan makin tak terkendali.
Lalu ada strategi ke-6, “Berpura-pura menyerang dari timur, lalu menyerang dari barat”. Dalam kerangka ini, isu yang dipublikasikan bisa berbeda dari tujuan sebenarnya. Aksi yang awalnya mengangkat tema keadilan dan kesejahteraan sosial, bisa dialihkan menjadi kerusuhan yang memojokkan rezim tertentu. Dengan begitu, fokus publik dan aparat menjadi terpecah.
Sementara itu pada aksi massa ini juga terlihat strategi ke-10, “Pisau tersarung dalam senyuman”. Banyak agen provokasi awalnya menyatu dalam barisan mahasiswa-masyarakat dengan tampilan simpatik. Namun di balik senyuman dan poster aspirasi, mereka menyembunyikan niat untuk merusak, membakar, menjarah, dan menciptakan citra negatif terhadap gerakan mahasiswa-masyarakat.
Berikutnya strategi ke-20, “Memancing di air keruh”. Kekacauan adalah ruang subur bagi provokasi. Dengan menciptakan kebingungan, baik melalui kabar bohong (hoax), seruan palsu, atau tindakan anarkis, aktor berhasil memancing massa untuk ikut serta dalam kerusuhan. Banyak yang tidak sadar bahwa mereka sedang diarahkan, dan bukan sedang mengendalikan aksi.
Proses perubahan aksi damai menjadi chaos bukanlah sesuatu yang instan. Pertama, massa digiring untuk marah lebih dalam dengan provokasi simbolik, misalnya dengan munculnya isu aparat bertindak represif atau munculnya informasi bohong di media sosial. Kedua, agen lapangan memulai tindakan pemicu, seperti melempar batu ke aparat atau membakar fasilitas umum. Tindakan ini akan menimbulkan reaksi aparat dan ketegangan psikologis di antara massa. Ketiga, terjadi efek domino, di mana massa yang sebelumnya pasif ikut terlibat karena atmosfer sudah terlanjur rusuh.
Lihat Juga :