Pertempuran Sungai Nil, Perebutan Energi Sumber Daya Alam

Jum'at, 16 April 2021 - 10:22 WIB
Kontraktor utama bendungan raksasa yang berlokasi di pebukitan sekitar 45 km di perbatasan Timur Sudan ini adalah perusahaan Italia–Salini Impregilo. Sistem pemipaan kelistrikannya dipercayakan kepada perusahaan Italia lainnya Tratos Cavi SPA, turbinnya menggunakan teknologi Francis turbine. Seluruh konstruksi beton yang menghabiskan 10 juta meter kubik semen menggunakan bahan bahan lokal.

Bendungan raksasa ini dapat dikerjakan tepat waktu, sekalipun pada tahun 2018 Project Manajernya bernama Smignew Bekele–Insinyur Sipil Etiopia terbunuh misterius. Saat ini konstruksi telah selesai. Waduknya dapat menampung 74 miliar kubik air. Waduk diiisi bertahap selama lebih kurang 5 tahun untuk menggerakkan 16 turbin yang ada. Ini dilakukan dengan mempertimbangkan musim penghujan, juga untuk menjaga debit air Sungai Nil, serta mencari pasar untuk ekspor listrik. Pada saat beroperasi penuh Proyek GERD akan menjadi PLTA terbesar di Afrika dan ketujuh terbesar di dunia.

Visi Pemerintah Etiopia jelas. Sumber daya alam harus digunakan secara optimal untuk membangkitkan ekonomi negeri. Pertumbuhan ekonomi Etiopia termasuk yang tertinggi di Afrika, di atas 10% sebelum bencana wabah COVID-19. Negara itu bertekad menjadi hubungan/penghubung untuk industri alat-alat listrik di Afrika. Selain untuk memenuhi kebutuhan energi bersih dalam negeri, listrik yang dihasilkan akan diekspor melalui jalur transmisi ke negara negara tetangga seperti Sudan dan Kenya.

Saat ini sedang terjadi ketegangan di kawasan. Ini dipicu oleh pengisian waduk raksasa GERD oleh Ethiopia beberapa waktu yang lalu. Mesir sejak awal menentang pembangunan waduk itu. Perundingan segitiga antara Mesir–Sudan–Ethiopia hampir buntu. Mesir mengeskalasi dengan mencoba melibatkan PBB, Uni Eropa, Uni Afrika dan Amerika Serikat. Bahkan Presiden El-Sisi pun bertelepon langsung ke Donald Trump waktu itu untuk mengintervensi. Sudan sebetulnya lebih memilih win-win solution, tidak seperti Mesir yang kebakaran jenggot. Lebay.

El Sisi tahu betul sejarah bahwa menyangkut Sungai Nil tidak boleh ada kompromi. Itu adalah bagian integral isu keamanan nasional. Jatuhnya Presiden Mursi satu dekade lalu yang kemudian digantikan oleh El Sisi yang mantan Panglima Angkatan Bersenjata Mesir, antara lain adalah karena Mursi dianggap berkompromi dengan Ethiopia hal waduk ini.

Untuk menaikkan tekanan, Mesir dan Sudan baru baru ini melakukan latihan bersama yang melibatkan skuadron pesawat tempur utama. Satuan komando dan pesawat tempur Mesir pun saat ini pun ditempatkan di sana menunggu perintah atau entah sekadar mengintimidasi. Belum lagi satuan intelijennya yang bergerilya di Ethiopia. Untuk mencegah eskalasi yang mengarah perang, Rusia buru-buru menawarkan diri sebagai mediator.

Tetapi Etiopia tidak boleh dipandang sebelah mata. Memang negara itu masih tergolong miskin karena pernah terperangkap perang saudara. Negara yang tidak mempunyai akses ke laut (land lock) di tanduk Afrika ini memiliki akar historis cemerlang. Pernah dengar Ratu Balqis dari Sheba yang mengunjungi Raja Nabi Sulaiman? Ya, itulah Etiopia.

Keturunan Raja Sulaiman ini memerintah di Kerajaan Ethiopia kuno pada abad 12-13, kira-kira seangkatan dengan zaman Majapahit di Indonesia. Karena perang saudara yang berlarut larut, mulai tahun 1980-an, orang-orang Yahudi Ethiopia berangsung angsur kembali ke Israel. Di abad modern ini, dengan teknologi canggih Israel pula, Etiopia yang dulu dikenal sebagai negara miskin dengan kasus kelaparan, saat ini adalah negara unggul pertanian di Afrika.

Pemerintahan saat ini dipimpin Perdana Menteri Abiy Ahmed. Beliau seorang PhD berlatar intelijen dan pemenang hadiah nobel perdamaian 2019 berkat jasanya mengakhiri perang dengan tetangga Eritrea yang menutup akses ke laut Arab. Ethiopia lebih memilih diskusi langsung tanpa harus menginternasionalisasinya. Etiopia bersedia berunding, dan membuka diri terhadap jadwal pengisian waduk. Justru Mesir yang tidak mau terbuka mengenai jadwal dan jumlah kebutuhan air yang diperlukan bendungan Aswan miliknya.

Teknologi yang digunakan dalam membangun waduk diragukan Sudan dan Mesir kualitas konstruksinya. Pada hal pengawasan pembangunan itu juga dalam supervisi konsorsium internasional. Kontraktor pembangunan GERD bukan kontraktor kaleng-kaleng. Mantan Perdana Menteri Ethiopia Meles Zenawi yang menginisiasi pembangunan bendungan ini pada tahun 2011, dalam satu konferensi International Hydropower Association (IHA) menjuluki para penentang proyek ini sebagai ekstrimis hidropower dan kriminal perbatasan. LSM peliharaan. Pemerintah dan Perusahaan Utilitas Etiopia sejak awal membuka diri dan IHA menyambut mereka sebagai Sustainability Power Partner (Mitra untuk energi berkelanjutan).
Dapatkan berita terbaru, follow WhatsApp Channel SINDOnews sekarang juga!
Halaman :
tulis komentar anda
Video Rekomendasi
Berita Terkait
Rekomendasi
Terpopuler
Berita Terkini More