Ketika Bumi Berhenti Bersabar

Kamis, 04 Juni 2026 - 09:23 WIB
Dari Ilmu Pengetahuan ke Tindakan

Wallace-Wells bukan fatalis. Ia menutup bukunya bukan dengan kepasrahan, melainkan dengan seruan: bahwa kita masih punya waktu untuk memilih seberapa parah situasi, akan diwariskan. Setiap sepersepuluh derajat yang berhasil kita cegah akan menyelamatkan jutaan nyawa. Pilihan kita hari ini adalah hidup-mati generasi mendatang.

Dalam konteks Indonesia, ada tiga pilar tindakan yang tidak bisa lagi ditunda. Pertama, percepatan transisi Energi Baru Terbarukan (EBT) harus menjadi prioritas nasional yang nyata, bukan sekadar retorika dalam dokumen RPJMN. Indonesia memiliki potensi panas bumi terbesar di dunia, cahaya matahari tropis sepanjang tahun, dan potensi angin yang belum digarap. Hambatannya bukan teknologi; hambatannya adalah keberanian politik untuk memutus rantai ketergantungan pada batu bara.

Kedua, perlindungan hutan dan lahan gambut harus menjadi garis merah yang tidak bisa dikompromikan oleh proyek infrastruktur, perkebunan, atau pertambangan mana pun. Hutan bukan sekadar aset ekologi; ia adalah tameng iklim, sekali musnah tidak bisa digantikan oleh teknologi apa pun yang kita miliki saat ini. Deforestasi adalah bom waktu yang sumbu apinya terus memendek.

Ketiga, adaptasi iklim harus disematkan ke dalam setiap level perencanaan pembangunan: dari tata kota pesisir yang mempertimbangkan kenaikan muka laut, hingga sistem irigasi pertanian yang adaptif terhadap pergeseran musim. BMKG memproyeksikan suhu rata-rata nasional dapat meningkat lebih dari 1,3 derajat Celsius pada 2020–2049. Kita harus membangun bukan untuk kondisi iklim hari ini, melainkan untuk kondisi iklim dua dekade ke depan.

Catatan Akhir: Butuh Keberanian

Seorang dokter tidak menunggu pasiennya sekarat sebelum memberikan pengobatan. Ia bertindak berdasarkan gejala, data, dan proyeksi, bahkan ketika pasiennya merasa baik-baik saja. Perubahan iklim adalah pasien global yang gejalanya sudah sangat nyata: suhu yang memecahkan rekor demi rekor, lautan yang mendidih perlahan, pulau-pulau yang tenggelam, dan panen yang gagal tanpa peringatan.

Bumi tidak bisa menunggu siklus politik lima tahunan. Ia tidak mengenal jadwal pemilu, rotasi kabinet, atau revisi anggaran. Setiap ton karbon dilepaskan hari ini akan menghangatkan atmosfer selama berabad-abad, menjadi ancaman kesehatan-dehidrasi-kematian, menggerus ekosistem, dan mengubah geografi tempat anak-cucu kita akan hidup, atau tidak bisa hidup.

Wallace-Wells menutup “Bumi yang Tak Dapat Dihuni” dengan pertanyaan yang menghantui: bukan apakah perubahan iklim akan berdampak, melainkan seberapa parah kita bersedia membiarkannya terjadi. Di sini, di negeri dengan 287.198.400 jiwa (BPS 2026), yang sebagian besar hidupnya bergantung pada alam, pada laut, pada musim, pada hutan, dan pada hujan, pertanyaan itu bukan lagi urusan akademik.

Data sudah berbicara. Sains sudah bicara. Bencana sudah berbicara. Yang belum cukup berbicara, dengan tindakan nyata, adalah kita: para pembuat kebijakan, pemimpin industri, dan warga negara yang punya suara dan pilihan. Pertanyaannya bukan lagi apakah kita tahu. Pertanyaannya adalah apakah kita cukup berani untuk bertindak sebelum terlambat. Wallahu a’lam bish-shawab.
(poe)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!