Catatan Akhir Tahun, ISKA Apresiasi Langkah Pemerintah Terkait PPKM dan Ciptaker
Minggu, 01 Januari 2023 - 21:38 WIB
loading...
Ketua Presidium ISKA Luky A Yusgiantoro dan Sekjen Ch Arie Sulistiono memaparkan catatan akhir tahun 2022. Foto/SINDOnews
A
A
A
JAKARTA - Presidium Pusat Ikatan Sarjana Katolik Indonesia (ISKA) mengapresiasi pemerintah Indonesia dalam menangani pandemi Covid-19 dan penetapan Perppu Cipta Kerja (Ciptaker) pada 2022. Kedua hal tersebut menunjukkan optimisme Indonesia menyongsong 2023.
Hal itu disampaikan Ketua Presidium ISKA Luky A Yusgiantoro dan Sekretaris Jenderal (Sekjen) Ch Arie Sulistiono saat memaparkan catatan akhir tahun 2022. “Menjelang tutup tahun 2022, Pemerintah Indonesia mengambil dua keputusan yang dipandang strategis untuk menghadapi situasi nasional maupun global,” kata Luky Minggu (1/1/2023).
Dua keputusan penting yang diambil pemerintah yakni, menerbitkan Perpu Cipta Kerja (Ciptaker) untuk memberikan kepastian hukum dan menghindari kekosongan hukum yang mengatur berbagai hal prinsip menyangkut perizinan usaha, ruang lingkup usaha dan masalah ketenagakerjaan.
Baca juga: Pesan Jokowi di Awal 2023: Mari Songsong Harapan, Tantangan, dan Peluang Baru
Kedua, mencabut Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM). Kebijakan pencabutan PPKM merupakan langkah untuk membuka pembatasan yang dilakukan pemerintah dalam mencegah meluasnya penularan Covid 19 meski tetap dibarengi imbauan kepada masyarakat untuk tetap melakukan protokol kesehatan. ”Kedua kebijakan strategis ini adalah untuk mempersiapkan bangsa Indonesia sebagai bangsa yang siap bersaing di era globalisasi dan menjaga kedaulatan dan kepentingannya,” ujarnya.
Kebijakan-kebijakan ini menjadi simbol dalam optimisme Indonesia menyongsong 2023 sekaligus juga menyiapkan langkah dan prasyarat guna menghadapi perjalanan ke depan masyarakat Indonesia yang secara global telah diprediksi demikian sulit dan suram.”Tentu saja masih hangat dalam ingatan kita, berbagai torehan sukses Indonesia tergambar selama 2022. Salah satunya kesuksesan Indonesia menjadi tuan rumah G-20 yang melahirkan banyak investasi baru dan komitmen menciptakan dunia yang lebih baik,” katanya.
Baca juga: Wapres: Songsong 2023 dengan Optimisme dan Keyakinan
G-20 membuktikan bahwa di tengah konflik antara Rusia dan Ukraina dan perang dagang antara Cina dan AS, Indonesia dapat menjadi bangsa yang mengedepankan perdamaian. Di sisi lain, dalam bagian perjalanan bangsa masih ada catatan-catatan kelam kasus korupsi di masa pandemi, kasus kejahatan kemanusiaan dan pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) yang masih saja terjadi.
”Menghadapi 2023 yang masih diadang tantangan besar terutama di bidang politik, ekonomi, energi, sosial-budaya dan pendidikan, kesehatan serta lingkungan, pemerintah perlu mengawal resonansi hasil-hasil G20 bagi kepentingan Indonesia dan kawasan regional. Dan sebaliknya menyuarakan kepentingan Indonesia ke wilayah kawasan dan global,” paparnya.
Menurut Luky, Indonesia menjadi salah satu negara yang sukses mengatasi secara nasional serangan pandemi Covid-19 sepanjang hampir tiga tahun terakhir. ”ISKA sebagai sebuah organisasi kemasyarakatan berbasis intelektualitas-religius mendorong pemerintah Indonesia untuk memperkuat perannya sebagai salah satu pemain terpenting kekuatan tengah global,” katanya.
Selain agenda-agenda besar di atas, ISKA memandang penting pemerintah perlu mengartikulasi secara lebih signifikan lagi upaya penegakan HAM, mencegah perdagangan manusia, kerja sama antarkawasan mengatasi teror dan radikalisme, masalah-masalah besar yang masih menjadi global concern sampai sekarang
”Penguatan tenaga kerja Indonesia di luar negeri juga menjadi salah satu strategi memperkuat diaspora Indonesia di peta dunia. Melalui langkah-langkah ini diharapkan Indonesia mampu berkontribusi dengan lebih konkret dan signifikan bagi kawasan regional dan global,” kata Luky.
Di samping catatan-catatan yang mencakup lingkup global tersebut, ISKA mengikuti secara cermat setiap langkah perjalanan bangsa ini selama 2022. Banyak catatan-catatan kritis dengan harapan hal ini menjadi hulu inspirasi menyongsong 2023 sebagai tahun yang diprediksikan sangat berat dari sisi ekonomi, politik dan sosial budaya.
Terkait hal itu, ISKA memberikan catatan sebagai berikut yakni, Tahun 2023 akan menjadi tahun yang panas, mengingat Indonesia pada awal 2024 akan menyelenggarakan pemilu secara serentak dan pilpres tanpa petahana. Artinya, semua poros akan bergerak all out bahkan mungkin cenderung nothing to lose.
”Tahun 2024 menjadi taruhan martabat dan wibawa pemerintah dengan menyelenggarakan pemilu dan pilpres yang jujur. Sistem pemilu proporsional tertutup yang mulai hangat dibicarakan di legislatif diharapkan dapat meningkatkan wibawa partai,” ucapnya.
Terkait capres yang akan diusung 2024, kata dia, ISKA menilai pentingnya mendorong tokoh yang memiliki orientasi pembangunan berkelanjutan dan kontinuitas terhadap kebijakan-kebijakan yang telah dibangun oleh pemimpin sebelumnya.
Hal itu disampaikan Ketua Presidium ISKA Luky A Yusgiantoro dan Sekretaris Jenderal (Sekjen) Ch Arie Sulistiono saat memaparkan catatan akhir tahun 2022. “Menjelang tutup tahun 2022, Pemerintah Indonesia mengambil dua keputusan yang dipandang strategis untuk menghadapi situasi nasional maupun global,” kata Luky Minggu (1/1/2023).
Dua keputusan penting yang diambil pemerintah yakni, menerbitkan Perpu Cipta Kerja (Ciptaker) untuk memberikan kepastian hukum dan menghindari kekosongan hukum yang mengatur berbagai hal prinsip menyangkut perizinan usaha, ruang lingkup usaha dan masalah ketenagakerjaan.
Baca juga: Pesan Jokowi di Awal 2023: Mari Songsong Harapan, Tantangan, dan Peluang Baru
Kedua, mencabut Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM). Kebijakan pencabutan PPKM merupakan langkah untuk membuka pembatasan yang dilakukan pemerintah dalam mencegah meluasnya penularan Covid 19 meski tetap dibarengi imbauan kepada masyarakat untuk tetap melakukan protokol kesehatan. ”Kedua kebijakan strategis ini adalah untuk mempersiapkan bangsa Indonesia sebagai bangsa yang siap bersaing di era globalisasi dan menjaga kedaulatan dan kepentingannya,” ujarnya.
Kebijakan-kebijakan ini menjadi simbol dalam optimisme Indonesia menyongsong 2023 sekaligus juga menyiapkan langkah dan prasyarat guna menghadapi perjalanan ke depan masyarakat Indonesia yang secara global telah diprediksi demikian sulit dan suram.”Tentu saja masih hangat dalam ingatan kita, berbagai torehan sukses Indonesia tergambar selama 2022. Salah satunya kesuksesan Indonesia menjadi tuan rumah G-20 yang melahirkan banyak investasi baru dan komitmen menciptakan dunia yang lebih baik,” katanya.
Baca juga: Wapres: Songsong 2023 dengan Optimisme dan Keyakinan
G-20 membuktikan bahwa di tengah konflik antara Rusia dan Ukraina dan perang dagang antara Cina dan AS, Indonesia dapat menjadi bangsa yang mengedepankan perdamaian. Di sisi lain, dalam bagian perjalanan bangsa masih ada catatan-catatan kelam kasus korupsi di masa pandemi, kasus kejahatan kemanusiaan dan pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) yang masih saja terjadi.
”Menghadapi 2023 yang masih diadang tantangan besar terutama di bidang politik, ekonomi, energi, sosial-budaya dan pendidikan, kesehatan serta lingkungan, pemerintah perlu mengawal resonansi hasil-hasil G20 bagi kepentingan Indonesia dan kawasan regional. Dan sebaliknya menyuarakan kepentingan Indonesia ke wilayah kawasan dan global,” paparnya.
Menurut Luky, Indonesia menjadi salah satu negara yang sukses mengatasi secara nasional serangan pandemi Covid-19 sepanjang hampir tiga tahun terakhir. ”ISKA sebagai sebuah organisasi kemasyarakatan berbasis intelektualitas-religius mendorong pemerintah Indonesia untuk memperkuat perannya sebagai salah satu pemain terpenting kekuatan tengah global,” katanya.
Selain agenda-agenda besar di atas, ISKA memandang penting pemerintah perlu mengartikulasi secara lebih signifikan lagi upaya penegakan HAM, mencegah perdagangan manusia, kerja sama antarkawasan mengatasi teror dan radikalisme, masalah-masalah besar yang masih menjadi global concern sampai sekarang
”Penguatan tenaga kerja Indonesia di luar negeri juga menjadi salah satu strategi memperkuat diaspora Indonesia di peta dunia. Melalui langkah-langkah ini diharapkan Indonesia mampu berkontribusi dengan lebih konkret dan signifikan bagi kawasan regional dan global,” kata Luky.
Di samping catatan-catatan yang mencakup lingkup global tersebut, ISKA mengikuti secara cermat setiap langkah perjalanan bangsa ini selama 2022. Banyak catatan-catatan kritis dengan harapan hal ini menjadi hulu inspirasi menyongsong 2023 sebagai tahun yang diprediksikan sangat berat dari sisi ekonomi, politik dan sosial budaya.
Terkait hal itu, ISKA memberikan catatan sebagai berikut yakni, Tahun 2023 akan menjadi tahun yang panas, mengingat Indonesia pada awal 2024 akan menyelenggarakan pemilu secara serentak dan pilpres tanpa petahana. Artinya, semua poros akan bergerak all out bahkan mungkin cenderung nothing to lose.
”Tahun 2024 menjadi taruhan martabat dan wibawa pemerintah dengan menyelenggarakan pemilu dan pilpres yang jujur. Sistem pemilu proporsional tertutup yang mulai hangat dibicarakan di legislatif diharapkan dapat meningkatkan wibawa partai,” ucapnya.
Terkait capres yang akan diusung 2024, kata dia, ISKA menilai pentingnya mendorong tokoh yang memiliki orientasi pembangunan berkelanjutan dan kontinuitas terhadap kebijakan-kebijakan yang telah dibangun oleh pemimpin sebelumnya.
Lihat Juga :