Keberanian dan Kebencian Rakyat China yang Terpendam
Senin, 28 November 2022 - 15:01 WIB
loading...
A
A
A
Pada hari Sabtu, 26 November 2022, di Institut Media Nanjing di Kota Nanjing, Provinsi Jiangsu, mahasiswa secara spontan berkumpul untuk mengenang para korban kebakaran 24 November di Xinjiang. Para siswa memegang kertas A4 kosong di tangan mereka untuk mengekspresikan ketidakpuasan mereka terhadap penyensoran berita dari PKC atas insiden tersebut. Pergerakan mahasiswa tersebut kemudian diancam dan ditekan oleh otoritas kampus. Pada malam hari yang sama, di Jalan Tengah Urumqi di Kota Shanghai, warga Shanghai terus memegang kertas putih sebagai bentuk solidaritas dengan para mahasiswa, dan meletakkan bunga dan lilin di bawah papan tanda jalan sebagai tanda berkabung.
Selama protes di Jalan Tengah Urumqi Shanghai, orang-orang memegang papan bertuliskan "Urumqi 11.24 atau November 24." untuk mengenang korban kebakaran di Xinjiang, dan meneriakkan slogan-slogan seperti "Kebebasan, jangan melawan pandemik" dan "Buka pemblokiran di Kota Xinjiang, Buka pemblokiran seluruh China." Pada saat yang sama, kerumunan mulai berteriak, "runtuhkan Partai Komunis!, Turunkan Xi Jinping!"
Pada Minggu, 27 November 2022, demonstrasi terus meluas sampai di kota-kota besar seperti Wuhan, Chengdu, Shanghai, Beijing, dan Guangzhou. Mahasiswa di Universitas Tsinghua, Beijing pertama kali menyampaikan protes mereka untuk menentang sistem Partai Komunis, dengan slogan mereka "Tegakkan Demokrasi dan Supremasi Hukum, Hidupkan Kebebasan Berekspresi." Di Chengdu, para demonstran berteriak "Tidak menginginkan sistem presiden seumur hidup! China tidak menginginkan seorang kaisar", "Rakyat China menentang kediktatoran, menginginkan hak asasi manusia".
Para pengunjuk rasa di Shanghai langsung meneriakkan slogan-slogan seperti "Mogok kelas/kuliah, mogok kerja, dan singkirkan diktator Xi Jinping!" Rakyat China membutuhkan "Reformasi, bukan Revolusi Kebudayaan! Rakyat China membutuhkan pemungutan suara pemilu, dan bukan pemimpin yang ditunjuk." Slogan itu pernah diangkat oleh seorang pengunjuk rasa bernama "Peng Lifa" dengan menggantung spanduk di Jembatan Sitong di Beijing sebelum Kongres Nasional ke-20 Partai Komunis China, Peng kemudian ditahan oleh pihak berwenang pada hari itu. Pada tanggal 27 November 2022, di Wuhan, warga sipil berkumpul untuk berbaris di jalan-jalan, mereka melakukan long-march, mereka bergabung untuk meruntuhkan pagar besi yang didirikan oleh pihak berwenang. Pada malam hari, demonstrasi dibubarkan. Menurut video yang beredar di internet, terdengar suara tembakan di lokasi kejadian.
Demonstrasi memprotes kediktatoran Xi Jinping juga menyebar ke luar negeri. Pada tanggal 27 November 2022, pelajar keturunan Tionghoa atau Tionghoa lokal, Tionghoa perantauan dan pelajar internasional di Inggris, Belanda, Prancis, dan tempat-tempat lain berkumpul di Kedutaan China. Selain itu juga, mahasiswa atau pelajar juga berkumpul di sekolah dan daerah pusat setempat untuk mengekspresikan protes mereka terhadap otoritas Komunis China. Di Taipei, para mahasiswa dan demonstran juga berkumpul di Freedom Square atau Chiang Kai-shek Memorial Hall untuk menunjukkan solidaritas dengan melakukan demonstrasi seperti yang terjadi di China Daratan, dan para aktivis tua di Taipei merasa apa yang mereka lakukan sekarang sama seperti yang mereka lakukan pada Insiden 4 Juni 33 tahun yang lalu.
Demonstrasi kali ini merupakan protes terbesar di China daratan sejak Insiden 4 Juni 1989. Di bawah tirani Partai Komunis dengan alasan memberantas virus Covid-19, rakyat sipil telah bertahan selama tiga tahun dengan tingkat pengangguran yang berulang kali mencapai titik tertinggi, kebutuhan medis rakyat tak tercukupi, dan hak rakyat untuk bebas bermobilisasi telah dirampas oleh penguasa. Partai Komunis China dengan dalih melaksanakan undang-undang dan peraturan pencegahan epidemi telah melanggar hak asasi manusia, menyebabkan tragedi hilangnya nyawa manusia yang tak terhitung jumlahnya.
Selama protes di Jalan Tengah Urumqi Shanghai, orang-orang memegang papan bertuliskan "Urumqi 11.24 atau November 24." untuk mengenang korban kebakaran di Xinjiang, dan meneriakkan slogan-slogan seperti "Kebebasan, jangan melawan pandemik" dan "Buka pemblokiran di Kota Xinjiang, Buka pemblokiran seluruh China." Pada saat yang sama, kerumunan mulai berteriak, "runtuhkan Partai Komunis!, Turunkan Xi Jinping!"
Pada Minggu, 27 November 2022, demonstrasi terus meluas sampai di kota-kota besar seperti Wuhan, Chengdu, Shanghai, Beijing, dan Guangzhou. Mahasiswa di Universitas Tsinghua, Beijing pertama kali menyampaikan protes mereka untuk menentang sistem Partai Komunis, dengan slogan mereka "Tegakkan Demokrasi dan Supremasi Hukum, Hidupkan Kebebasan Berekspresi." Di Chengdu, para demonstran berteriak "Tidak menginginkan sistem presiden seumur hidup! China tidak menginginkan seorang kaisar", "Rakyat China menentang kediktatoran, menginginkan hak asasi manusia".
Para pengunjuk rasa di Shanghai langsung meneriakkan slogan-slogan seperti "Mogok kelas/kuliah, mogok kerja, dan singkirkan diktator Xi Jinping!" Rakyat China membutuhkan "Reformasi, bukan Revolusi Kebudayaan! Rakyat China membutuhkan pemungutan suara pemilu, dan bukan pemimpin yang ditunjuk." Slogan itu pernah diangkat oleh seorang pengunjuk rasa bernama "Peng Lifa" dengan menggantung spanduk di Jembatan Sitong di Beijing sebelum Kongres Nasional ke-20 Partai Komunis China, Peng kemudian ditahan oleh pihak berwenang pada hari itu. Pada tanggal 27 November 2022, di Wuhan, warga sipil berkumpul untuk berbaris di jalan-jalan, mereka melakukan long-march, mereka bergabung untuk meruntuhkan pagar besi yang didirikan oleh pihak berwenang. Pada malam hari, demonstrasi dibubarkan. Menurut video yang beredar di internet, terdengar suara tembakan di lokasi kejadian.
Demonstrasi memprotes kediktatoran Xi Jinping juga menyebar ke luar negeri. Pada tanggal 27 November 2022, pelajar keturunan Tionghoa atau Tionghoa lokal, Tionghoa perantauan dan pelajar internasional di Inggris, Belanda, Prancis, dan tempat-tempat lain berkumpul di Kedutaan China. Selain itu juga, mahasiswa atau pelajar juga berkumpul di sekolah dan daerah pusat setempat untuk mengekspresikan protes mereka terhadap otoritas Komunis China. Di Taipei, para mahasiswa dan demonstran juga berkumpul di Freedom Square atau Chiang Kai-shek Memorial Hall untuk menunjukkan solidaritas dengan melakukan demonstrasi seperti yang terjadi di China Daratan, dan para aktivis tua di Taipei merasa apa yang mereka lakukan sekarang sama seperti yang mereka lakukan pada Insiden 4 Juni 33 tahun yang lalu.
Demonstrasi kali ini merupakan protes terbesar di China daratan sejak Insiden 4 Juni 1989. Di bawah tirani Partai Komunis dengan alasan memberantas virus Covid-19, rakyat sipil telah bertahan selama tiga tahun dengan tingkat pengangguran yang berulang kali mencapai titik tertinggi, kebutuhan medis rakyat tak tercukupi, dan hak rakyat untuk bebas bermobilisasi telah dirampas oleh penguasa. Partai Komunis China dengan dalih melaksanakan undang-undang dan peraturan pencegahan epidemi telah melanggar hak asasi manusia, menyebabkan tragedi hilangnya nyawa manusia yang tak terhitung jumlahnya.
Lihat Juga :