UMKM Nasional Miliki Ketangguhan Hadapi Serbuan Produk China
Jum'at, 10 Juli 2026 - 13:51 WIB
loading...
(Ki-Ka) CEO SMESCO Indonesia Doddy A Matondang, dosen tetap Program Pascasarjana Ilmu Komunikasi dan FISIP UPH Johanes Herlijanto, dan Amore Minayora dari University of the West of England (UWE) di Jakarta. Foto: Ist
A
A
A
JAKARTA - Produk murah asal RRC (China) dan dampaknya bagi produsen Indonesia dan para pelaku UMKM dalam negeri masih menjadi topik yang mengundang antusiasme masyarakat negeri kita. Khususnya sejak dunia berangsur pulih dari pandemi Covid-19, pasar Indonesia dibanjiri produk-produk dengan harga murah dari RRC yang bisa langsung masuk pada rantai terakhir dalam jalur perdagangan yaitu pembeli eceran.
Hal ini menyebabkan kalangan UMKM di Indonesia sempat terpukul. Keluhan pelaku UMKM akibat masuknya produk dengan harga murah dari China itu mengemuka di tahun 2023 lalu ketika berbagai media memberitakan betapa sepinya pusat perbelanjaan Tanah Abang.
Baca juga: Pembayaran QRIS Bisa Dipakai di China, Peluang Baru bagi UMKM
Wacana publik yang beredar saat itu menganggap kehadiran platform perdagangan elektronik asal China TikTok Shop sebagai penyebab turunnya omzet para pedagang kecil dan menengah di pusat-pusat perbelanjaan tradisional.
Platform online itu dianggap menjadi wahana bagi masuknya berbagai produk murah asal China ke Indonesia, sehingga produk tersebut langsung ditemukan oleh para pembeli tanpa melalui pedagang-pedagang perantara di Tanah Air.
Pemerhati China sekaligus dosen tetap Program Pascasarjana Ilmu Komunikasi serta Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Pelita Harapan (UPH) Johanes Herlijanto menilai meskipun anggapan bahwa barang-barang asal China yang dijual di TikTok melakukan praktik predatory pricing sangat popular khususnya dalam 3 tahun terakhir, anggapan itu masih berupa wacana dan belum bisa dibuktikan secara hukum.
Hal ini menyebabkan kalangan UMKM di Indonesia sempat terpukul. Keluhan pelaku UMKM akibat masuknya produk dengan harga murah dari China itu mengemuka di tahun 2023 lalu ketika berbagai media memberitakan betapa sepinya pusat perbelanjaan Tanah Abang.
Baca juga: Pembayaran QRIS Bisa Dipakai di China, Peluang Baru bagi UMKM
Wacana publik yang beredar saat itu menganggap kehadiran platform perdagangan elektronik asal China TikTok Shop sebagai penyebab turunnya omzet para pedagang kecil dan menengah di pusat-pusat perbelanjaan tradisional.
Platform online itu dianggap menjadi wahana bagi masuknya berbagai produk murah asal China ke Indonesia, sehingga produk tersebut langsung ditemukan oleh para pembeli tanpa melalui pedagang-pedagang perantara di Tanah Air.
Pemerhati China sekaligus dosen tetap Program Pascasarjana Ilmu Komunikasi serta Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Pelita Harapan (UPH) Johanes Herlijanto menilai meskipun anggapan bahwa barang-barang asal China yang dijual di TikTok melakukan praktik predatory pricing sangat popular khususnya dalam 3 tahun terakhir, anggapan itu masih berupa wacana dan belum bisa dibuktikan secara hukum.
Lihat Juga :