Mengenal Xinjiang dan Permasalahan yang Tersisa di China

Senin, 31 Oktober 2022 - 11:01 WIB
loading...
A A A
Penelitian tentang Xinjiang memang rumit dan menantang. Akademisi Barat yang diwakili oleh Amerika dan akademi dari China saling berhadapan untuk mempresentasikan dan berargumentasi tentang realitas di Xinjiang, termasuk akademis dari negara mayoritas Muslim, Indonesia. Berbagai faktor ditengarai menjadi penyebab munculnya konflik antara suku Uighur di Xinjiang dengan pemerintah pusat di Beijing, yaitu disparitas ekonomi. Beberapa akademisi bahkan mengatakan bahwa terjadi penganiayaan di Xinjiang karena perbedaan etnis di Xinjiang dengan penguasa yang berasal dari etnis Han. Akan tetapi apabila kita mau mempelajari sejarah Xinjiang dengan serius dan tidak hanya melihat film dokumenter yang sengaja dibuat karena kepentingan politik. Dalam hal ini, kita akan menemukan fakta bahwa ada hubungan historis antara etnis Uighur, Mongol, dan etnis lain di China jauh sebelum China menjadi negara republik.

Sejarah kerja sama antara etnis Uighur di Xinjiang dan kelompok etnis lain di China sudah ada sejak ribuan tahun yang lalu. Xinjiang juga mengambil bagian dalam revolusi untuk mengubah kekaisaran di China menjadi sebuah Republik; Tentu saja, sebagai bagian dari sejarah dan sebagai satu bagian yang ikut mempersatukan China, Xinjiang adalah wilayah China yang tidak dapat diganggu gugat. Kesulitan yang dihadapi Partai Komunis China atau pemerintah pusat China saat ini adalah menghadapi berbagai pemberontakan yang mengarah pada separatisme.

Baca juga: Wilayah Etnis Uighur di Xinjiang Memiliki Tingkat Pemenjaraan Tertinggi di Dunia

Selain isu Xinjiang, ada kasus penolakan undang-undang ekstradisi ke China di Hongkong juga menjadi sorotan, dan kasus lama, yaitu unifikasi dengan Taiwan terus fluktuatif. Tentu saja, ada banyak kepentingan di balik ini; Amerika Serikat, sebagai negara adidaya saat ini, mengkhawatirkan pertumbuhan ekonomi China yang pesat dan menjadikan isu-isu yang terjadi di wilayah China dengan pelanggaran HAM. Amerika lupa bahwa konteks HAM Amerika adalah konsep HAM Barat yang tidak bisa diterapkan di negara berbudaya Konfusianisme.

Di satu sisi, China juga harus menyadari bahwa pusat pendidikan keahlian atau re-education center sangat tidak cocok untuk era ini. Globalisasi telah membuat manusia memiliki hak untuk hidup lebih damai sesuai dengan keyakinan hidupnya. Negara tidak dapat mengatur lagi semuanya yang berkaitan dengan hak memilih dari manusia.

Di sisi lain, para demonstran pada umumnya, khususnya di Xinjiang, perlu menyadari bahwa masalah individu atau konflik individu antar etnis yang berbeda seringkali dimanipulasi dan berubah menjadi gerakan untuk mengganggu kehidupan masyarakat Xinjiang dan menghancurkan tatanan kehidupan bernegara secara umum.

Pada akhirnya, pemerintah China perlu mengoreksi diri juga, mengakui bahwa pusat re-edukasi tidak lagi cocok untuk semua wilayah China seperti di era revolusi. Selain itu masyarakat Xinjiang juga perlu menyadari bahwa upaya pemerintah untuk meningkatkan taraf dan kualitas hidup etnis minoritas terus menjadi perhatian yang signifikan dan tidak akan berhenti karena masalah di Xinjiang. Karena walau bagaimanapun juga minoritas yang tinggal di dalamnya adalah bagian dari China.
(zik)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Airlangga Bertolak ke...
Airlangga Bertolak ke Shanghai Tanda Tangani Pendirian WAICO
Kritik Baru terhadap...
Kritik Baru terhadap Putusan Arbitrase Laut China Selatan: Perspektif Realisme
Satu Dekade Laut China...
Satu Dekade Laut China Selatan: Stabilitas Kawasan Ketimbang Kontestasi
UMKM Nasional Miliki...
UMKM Nasional Miliki Ketangguhan Hadapi Serbuan Produk China
Taiwan, Identitas, dan...
Taiwan, Identitas, dan Politik Pengakuan: Membaca Ulang Perdebatan Lintas Selat
Dubes Wang Lutong Ungkap...
Dubes Wang Lutong Ungkap Purbaya Bakal ke China Pekan Depan, Bahas Apa?
Mengancam Bumi, China...
Mengancam Bumi, China Siap Pindahkan Asteroid 2015 XF261
China Pastikan Kendaraan...
China Pastikan Kendaraan Listrik Berukuran Besar Merusak Jalan
Purbaya Siap Terbitkan...
Purbaya Siap Terbitkan Panda Bond 23 Juli 2026, Bidik Dana dari China Rp18 Triliun
Rekomendasi
GAPKI Tegaskan Industri...
GAPKI Tegaskan Industri Sawit RI Terapkan Standar Keselamatan Kerja Berkelanjutan
Mengancam Bumi, China...
Mengancam Bumi, China Siap Pindahkan Asteroid 2015 XF261
Soal Pindar, KPPU Didorong...
Soal Pindar, KPPU Didorong Utamakan Tindakan Pencegahan
Berita Terkini
Kuntadi Jadi Jampidsus,...
Kuntadi Jadi Jampidsus, Yusril: Tugas Pokoknya Selesaikan Kasus Febrie Adriansyah
Celoteh Hotman Paris,...
Celoteh Hotman Paris, Pakar: Penghinaan Wartawan Bisa Diproses Hukum
Jaksa Agung Mutasi 8...
Jaksa Agung Mutasi 8 Kepala Kejaksaan Tinggi, Ada Kajati Aceh hingga Sulsel
Ditjen Imigrasi Siapkan...
Ditjen Imigrasi Siapkan Satu Jenis Paspor Nasional, Nomor Tak Berubah Seumur Hidup
Koalisi Sipil Tolak...
Koalisi Sipil Tolak Pelibatan Babinsa dalam Pengawasan Pajak, Dinilai Ancam Supremasi Sipil
Nihayatul Wafiroh: Pakta...
Nihayatul Wafiroh: Pakta Integritas Bukti Keseriusan Perempuan Bangsa Besarkan PKB
Infografis
Profil Rudi Margono...
Profil Rudi Margono yang Ditunjuk Jadi Plt Jampidsus Gantikan Febrie Adriansyah
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved