Berharap Energi Murah dari Badan Usaha Swasta
Kamis, 29 September 2022 - 17:23 WIB
loading...
Pengguna kendaraan banyak yang beralih menggunakan bahan bakar yang dijual SPBU swasta menyusul kenaikan harga BBM jenis Pertalite. Alasannya adalah kualitas bensin yang lebih bagus dan pemakaian lebih irit. (KORAN SINDO/Wawan Bastian)
A
A
A
KENAIKAN harga bahan bakar minyak (BBM) yang dilakukan awal bulan ini disikapi beragam oleh masyarakat. Sebagain masyarakat melakukan protes dengan cara turun ke jalan, melakukan demonstrasi untuk menyuarakan keberatannya. Namun, di sisi lain, banyak masyarakat yang melakukan protes dengan cara lebih elegan. Yakni beralih membeli BBM di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU).
Baca berita menarik lainnya di e-paper koran-sindo.com
Narasi-narasi satire seperti tak ingin membebani subsidi, atau tak ingin badan usaha merugi digaungkan kelas menengah melalui platform sosial media. Masyarakat seolah jengah dengan narasi yang digaungkan sejak setahun terakhir. Narasi-narasi yang cenderung polaritatif dan intimidatif seperti 80% BBM subsidi dinikmati orang kaya, hingga BBM jatah orang miskin “dirampok” orang kaya dan narasi-narasi yang sejatinya tak patut dan tak layak digaungkan untuk menutupi inefisiensi.
Masyarakat pun secara spontan ramai-ramai mengkampanyekan ajakan untuk beralih ke SPBU swasta. Alasannya pun beragam, namun kebanyakan karena tak ingin membebani keuangan negara. Bahkan, untuk jenis BBM umum yang tak disubsidi pun masyarakat kini mulai beralih ke SPBU swasta. Sebab, produk BBM umum yang dijual badan usaha milik negara masih terdapat komponen subsidi.
Mengambil contoh BBM dengan nilai oktan 92. Produk Pertamax yang dijual Pertamina seharga Rp14.500 per liter disebut-sebut masih ada komponen subsidi di dalamnya. Karena harga keekonomian diklaim sebesar Rp19.000 per liter. Sehingga ada komponen subsidi sebesar Rp4.500 per liter.
Baca berita menarik lainnya di e-paper koran-sindo.com
Narasi-narasi satire seperti tak ingin membebani subsidi, atau tak ingin badan usaha merugi digaungkan kelas menengah melalui platform sosial media. Masyarakat seolah jengah dengan narasi yang digaungkan sejak setahun terakhir. Narasi-narasi yang cenderung polaritatif dan intimidatif seperti 80% BBM subsidi dinikmati orang kaya, hingga BBM jatah orang miskin “dirampok” orang kaya dan narasi-narasi yang sejatinya tak patut dan tak layak digaungkan untuk menutupi inefisiensi.
Masyarakat pun secara spontan ramai-ramai mengkampanyekan ajakan untuk beralih ke SPBU swasta. Alasannya pun beragam, namun kebanyakan karena tak ingin membebani keuangan negara. Bahkan, untuk jenis BBM umum yang tak disubsidi pun masyarakat kini mulai beralih ke SPBU swasta. Sebab, produk BBM umum yang dijual badan usaha milik negara masih terdapat komponen subsidi.
Mengambil contoh BBM dengan nilai oktan 92. Produk Pertamax yang dijual Pertamina seharga Rp14.500 per liter disebut-sebut masih ada komponen subsidi di dalamnya. Karena harga keekonomian diklaim sebesar Rp19.000 per liter. Sehingga ada komponen subsidi sebesar Rp4.500 per liter.
Lihat Juga :