Paradoks Identitas Digital
Jum'at, 03 Juli 2020 - 15:56 WIB
loading...
A
A
A
Oleh mahasiswa yang meneliti pembentukan identifikasi diri lewat produksi dan distribusi konten, didapati: manakala posting tentang diri dilakukan konsisten, society akan menerima konstruksi itu sesuai tema yang dikembangkan. Ini dikonfirmasi oleh temuan Lucie Caffrey, 2017 dalam disertasinya Social Media and the Construction of Self: Our New Sociotechnical Environment is Changing the Construction of Identity.
Dia menyebut adanya aspek utama dari penciptaan identitas yang dipengaruhi oleh hubungan manusia dengan teknologi. Aspek itu menyangkut penyimpanan memori dan proses refleksi diri. Hal ini melahirkan norma baru, berupa struktur interaksi, komunikasi dan pola pikir yang secara intrinsik mengubah cara membentuk rasa "diri".
Ditemukannya, lingkungan online memberi fasilitas peningkatan representasi dan pengembangan "diri", yang pada dasarnya juga ditentukan oleh pihak eksternal. Individu tak hanya merebut kembali rasa identitas, namun juga mengklaim kembali hak pilihan mereka, terhadap identitas dirinya.
Ringkasnya, produksi dan ditribusi konten dapat digunakan untuk mengkonstruksi identitas diri. Terlebih dengan adanya ketegangan abadi: diri yang otentik dengan diri sosial. Sedangkan dari mahasiswa yang meneliti pembentukan identifikasi diri lewat konsumsi konten, terselip nuansa paradoks pemanfaatan media sosial.
Komentar para pengguna media sosial lain, bahkan yang tak terduga kelazimannya, dapat mempengangaruhi keleluasaan individu dalam mendefinisikan diri. Jika pilihannya individu tak peduli pada komentar pihak lain, ada ancaman terbentuknya jaringan komentar yang menyebar luas. Tentu saja ini lebih mudah terjadi, ketika masyarakatnya berciri masyarakat jararing.
Paradoks media digital, tampak berwujud keluasaaan untuk posting konten apa pun, membangun identitas diri. Namun di saat bersamaan harus siap menerima komentar yang tak membebaskannya diri, jadi yang diinginkan. Itu beroperasi lewat pengawasan, berupa lontaran-lontaran komentar, yang seringkali di luar kelaziman tata bicara. Sayangnya, itu tak bisa begitu saja diabaikan.
Dia menyebut adanya aspek utama dari penciptaan identitas yang dipengaruhi oleh hubungan manusia dengan teknologi. Aspek itu menyangkut penyimpanan memori dan proses refleksi diri. Hal ini melahirkan norma baru, berupa struktur interaksi, komunikasi dan pola pikir yang secara intrinsik mengubah cara membentuk rasa "diri".
Ditemukannya, lingkungan online memberi fasilitas peningkatan representasi dan pengembangan "diri", yang pada dasarnya juga ditentukan oleh pihak eksternal. Individu tak hanya merebut kembali rasa identitas, namun juga mengklaim kembali hak pilihan mereka, terhadap identitas dirinya.
Ringkasnya, produksi dan ditribusi konten dapat digunakan untuk mengkonstruksi identitas diri. Terlebih dengan adanya ketegangan abadi: diri yang otentik dengan diri sosial. Sedangkan dari mahasiswa yang meneliti pembentukan identifikasi diri lewat konsumsi konten, terselip nuansa paradoks pemanfaatan media sosial.
Komentar para pengguna media sosial lain, bahkan yang tak terduga kelazimannya, dapat mempengangaruhi keleluasaan individu dalam mendefinisikan diri. Jika pilihannya individu tak peduli pada komentar pihak lain, ada ancaman terbentuknya jaringan komentar yang menyebar luas. Tentu saja ini lebih mudah terjadi, ketika masyarakatnya berciri masyarakat jararing.
Paradoks media digital, tampak berwujud keluasaaan untuk posting konten apa pun, membangun identitas diri. Namun di saat bersamaan harus siap menerima komentar yang tak membebaskannya diri, jadi yang diinginkan. Itu beroperasi lewat pengawasan, berupa lontaran-lontaran komentar, yang seringkali di luar kelaziman tata bicara. Sayangnya, itu tak bisa begitu saja diabaikan.
(dam)