Genting Stunting, Masalah Penting!
Selasa, 20 September 2022 - 18:42 WIB
loading...
A
A
A
Baca juga: Optimalisasi Program “Stunting”
Indeks Berat Badan menurut Umur digunakan untuk menilai anak dengan berat badan kurang (underweight) atau sangat kurang (severely underweight). Jika nilai indeks ini rendah, kemungkinan anak mengalami masalah pertumbuhan. Namun indikator ini harus dikonfirmasi dengan tiga indeks lainnya. Sementara untuk indeks Tinggi Badan menurut Umur digunakan untuk mengidentifikasi anak yang pendek (stunted) atau sangat pendek (severely stunted). Hal ini disebabkan oleh faktor gizi yang kurang dalam waktu lama atau sering sakit. Sebuah keadaan yang bisa berujung pada kondisi stunting .
Menurut WHO, stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada balita, akibat buruknya asupan gizi. Ini juga rawan terjadi pada balita yang terkena infeksi berulang, di periode 1.000 hari pertama kehidupan. Hitungan 1000 hari pertama, dimulai dari anak masih dalam bentuk janin, hingga berusia 23 bulan. Indikator stunting bisa dilihat dari perbandingan tinggi badan anak yang tidak sesuai dengan teman-teman sebayanya. Tentu saja dengan kategori usia dan jenis kelaminnya.
Di Indonesia, persoalan stunting mendapat perhatian serius. Berdasar hasil Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) Tahun 2021, angka stunting di Indonesia adalah sebesar 24,4 persen. Ini artinya, hampir seperempat balita Indonesia mengalami stunting. Angka ini memang berangsur-angsur turun dari 30,8 persen di tahun 2018, namun masih tergolong tinggi. Angka itu ada di atas standar yang ditetapkan WHO, 20 persen.
Mengutip pernyataan pakar nutrisi dan penyakit metabolik anak, Damayanti Rusli Sjarif, dampak stunting bukan sekadar tentang tinggi badan anak, melainkan juga tentang pertumbuhan otaknya. Jika seorang anak tergolong pendek, masih ada kesempatan menaikkan tinggi badannya, saat menginjak usia remaja. Namun jika anak sudah mengalami stunting, fungsi kognitifnya sudah terganggu dan tak bisa diobati lagi. Ancaman berbagai penyakit seperti diabetes, hipertensi, dan gangguan jantung juga harus dihadapi anak yang stunting. Hal inilah yang menjadikan stunting sebagai masalah serius yang harus segera diselesaikan.
Orang tua, utamanya ibu, memegang peranan penting dalam mencegah stunting. Stunting terjadi saat anak masih dalam kandungan. Pemberian menu gizi seimbang merupakan solusi terbaik dalam mencegah terjadinya stunting. Namun pencegahan stunting sebenarnya bukan hanya tugas orang tua, melainkan perlu melibatkan berbagai pihak, salah satunya pemerintah.
BIG dan Program Percepatan Penurunan Stunting
Indeks Berat Badan menurut Umur digunakan untuk menilai anak dengan berat badan kurang (underweight) atau sangat kurang (severely underweight). Jika nilai indeks ini rendah, kemungkinan anak mengalami masalah pertumbuhan. Namun indikator ini harus dikonfirmasi dengan tiga indeks lainnya. Sementara untuk indeks Tinggi Badan menurut Umur digunakan untuk mengidentifikasi anak yang pendek (stunted) atau sangat pendek (severely stunted). Hal ini disebabkan oleh faktor gizi yang kurang dalam waktu lama atau sering sakit. Sebuah keadaan yang bisa berujung pada kondisi stunting .
Menurut WHO, stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada balita, akibat buruknya asupan gizi. Ini juga rawan terjadi pada balita yang terkena infeksi berulang, di periode 1.000 hari pertama kehidupan. Hitungan 1000 hari pertama, dimulai dari anak masih dalam bentuk janin, hingga berusia 23 bulan. Indikator stunting bisa dilihat dari perbandingan tinggi badan anak yang tidak sesuai dengan teman-teman sebayanya. Tentu saja dengan kategori usia dan jenis kelaminnya.
Di Indonesia, persoalan stunting mendapat perhatian serius. Berdasar hasil Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) Tahun 2021, angka stunting di Indonesia adalah sebesar 24,4 persen. Ini artinya, hampir seperempat balita Indonesia mengalami stunting. Angka ini memang berangsur-angsur turun dari 30,8 persen di tahun 2018, namun masih tergolong tinggi. Angka itu ada di atas standar yang ditetapkan WHO, 20 persen.
Mengutip pernyataan pakar nutrisi dan penyakit metabolik anak, Damayanti Rusli Sjarif, dampak stunting bukan sekadar tentang tinggi badan anak, melainkan juga tentang pertumbuhan otaknya. Jika seorang anak tergolong pendek, masih ada kesempatan menaikkan tinggi badannya, saat menginjak usia remaja. Namun jika anak sudah mengalami stunting, fungsi kognitifnya sudah terganggu dan tak bisa diobati lagi. Ancaman berbagai penyakit seperti diabetes, hipertensi, dan gangguan jantung juga harus dihadapi anak yang stunting. Hal inilah yang menjadikan stunting sebagai masalah serius yang harus segera diselesaikan.
Orang tua, utamanya ibu, memegang peranan penting dalam mencegah stunting. Stunting terjadi saat anak masih dalam kandungan. Pemberian menu gizi seimbang merupakan solusi terbaik dalam mencegah terjadinya stunting. Namun pencegahan stunting sebenarnya bukan hanya tugas orang tua, melainkan perlu melibatkan berbagai pihak, salah satunya pemerintah.
BIG dan Program Percepatan Penurunan Stunting