Sains, Saintis, dan Vaksin Corona
Kamis, 18 Juni 2020 - 04:41 WIB
loading...
A
A
A
Merujuk pada batasan yang kami kupas, sesungguhnya tidak ada yang salah dengan sains. Sikap saintislah yang bermasalah. Kepongahan saintis yang membuat sains menjadi buruk. Itulah sebab manusia terkadang menggunakan sains untuk mengintimidasi dan mengendalikan, mengeksploitasi, serta menindas manusia lain.
Mae Wan Ho, pelopor pemikiran “fisika organisme”, dalam bukunya yang luar biasa Genetic Engineering: Dream or Nightmare? The Brave New World of Bad Science and Big Business (2008) pernah mengingatkan bagaimana ilmu pengetahuan bisa menjadi buruk.
Mae mencontohkan kasus pada rekayasa genetika yang menjadi berbahaya karena aliansi dua kekuatan: ilmu dan perdagangan. Menurutnya, rekayasa genetik adalah ilmu buruk karena bekerja sama dengan bisnis raksasa guna mendapatkan laba dengan cepat. Praktis, semua ilmuwan genetika molekuler secara langsung atau tidak memiliki hubungan dengan industri. Hal ini kemudian membatasi jenis riset yang bisa dan akan dilakukan saintis. Integritas mereka sebagai saintis independen pun dikompromikan. Pola aliansi inilah yang menurut Mae telah mempertajam kesenjangan antara Utara dan Selatan, antara yang kaya dan miskin.
Bagaimana dengan kasus pandemi korona. Saat ini WHO menyebutkan terdapat 125 proyek vaksin yang sedang dikerjakan untuk menanggulangi virus. Sepuluh kandidat vaksin potensial sekarang sedang diuji pada manusia. Namun, pengerjaan vaksin ini dilakukan dengan pola aliansi yang sama. Kita tidak pernah tahu niatan industri yang akan memproduksi vaksin selama pandemi korona, apa sekadar mencari laba atau untuk barang publik global tanpa profit?
Untuk itu, kita memerlukan jalan keluar dari persoalan semacam ini. Usul kami, manusia perlu mengembangkan apa yang disebut oleh Hidayat Nataadmadja sebagai inteligensi spiritual. Berdasarkan pandangan ini, ilmu akan selalu dipandang memiliki nilai moral dan tidak bisa dipisahkan dari nilai tersebut. Jika ini yang dijadikan pedoman, maka jawaban untuk pertanyaan di atas adalah vaksin dibuat semata untuk “barang publik global”.
Mae Wan Ho, pelopor pemikiran “fisika organisme”, dalam bukunya yang luar biasa Genetic Engineering: Dream or Nightmare? The Brave New World of Bad Science and Big Business (2008) pernah mengingatkan bagaimana ilmu pengetahuan bisa menjadi buruk.
Mae mencontohkan kasus pada rekayasa genetika yang menjadi berbahaya karena aliansi dua kekuatan: ilmu dan perdagangan. Menurutnya, rekayasa genetik adalah ilmu buruk karena bekerja sama dengan bisnis raksasa guna mendapatkan laba dengan cepat. Praktis, semua ilmuwan genetika molekuler secara langsung atau tidak memiliki hubungan dengan industri. Hal ini kemudian membatasi jenis riset yang bisa dan akan dilakukan saintis. Integritas mereka sebagai saintis independen pun dikompromikan. Pola aliansi inilah yang menurut Mae telah mempertajam kesenjangan antara Utara dan Selatan, antara yang kaya dan miskin.
Bagaimana dengan kasus pandemi korona. Saat ini WHO menyebutkan terdapat 125 proyek vaksin yang sedang dikerjakan untuk menanggulangi virus. Sepuluh kandidat vaksin potensial sekarang sedang diuji pada manusia. Namun, pengerjaan vaksin ini dilakukan dengan pola aliansi yang sama. Kita tidak pernah tahu niatan industri yang akan memproduksi vaksin selama pandemi korona, apa sekadar mencari laba atau untuk barang publik global tanpa profit?
Untuk itu, kita memerlukan jalan keluar dari persoalan semacam ini. Usul kami, manusia perlu mengembangkan apa yang disebut oleh Hidayat Nataadmadja sebagai inteligensi spiritual. Berdasarkan pandangan ini, ilmu akan selalu dipandang memiliki nilai moral dan tidak bisa dipisahkan dari nilai tersebut. Jika ini yang dijadikan pedoman, maka jawaban untuk pertanyaan di atas adalah vaksin dibuat semata untuk “barang publik global”.
(maf)
Lihat Juga :