Sains, Saintis, dan Vaksin Corona

Kamis, 18 Juni 2020 - 04:41 WIB
loading...
A A A
Sejarah sains boleh jadi ditulis berdasarkan keberhasilan yang telah dicapai (positivistik ASL) atau kegagalan akibat masalah yang disebabkannya (relativistik GM). Tapi, bagi kami sejarah-sejarah kepenulisan itu juga memiliki batasan.

Sekarang kita lihat batasan dari argumen positivistik ASL. Apa benar capaian sains begitu memesona sehingga ia bisa bebas begitu saja dari kritik. Einstein, kita tahu merupakan seorang jenius. Berkat teori relativitas, ia berhasil mengubah dunia keilmuan. Mengguncang fondasi fisika yang sudah dimapankan Newton. Gravitasi itu bisa dilawan. Pesawat terbang membuktikannya. Perkembangan dunia pun semakin pesat.

Keterhubungan menjadi tak terelakkan. Dalam waktu yang relatif singkat, manusia bisa berada di mana pun di belahan bumi. Tetapi, konsekuensi yang dihasilkan dari pembelotan Einstein terhadap Newton tidak kalah besar. Melawan gravitasi membuat bumi semakin terpolusi. Burung besi yang bisa terbang itu membutuhkan energi besar, yang buangannya merusak lapisan ozon. Selama satu abad belakangan kita mengalami perubahan iklim yang ekstrem. Dunia seolah tidak memiliki harapan.

Contoh lain bisa dilihat saat Indonesia berhasil menciptakan varietas padi unggul pada 1970an. Keberhasilan sains ini rupanya memiliki dampak yang menghancurkan. Pemerintah Orde Baru memperkenalkan varietas unggul modern dari IRRI, IR5, dan IR8, yang memiliki produktivitas tinggi, umur lebih genjah, dan sangat responsif terhadap pupuk. Pada 1971, varietas Pelita I-1 dan Pelita I-2 dilepas. Varietas ini berasal dari persilangan IR5 dengan Sintha, tapi bencana hadir. Dua varietas padi unggul ini rentan terhadap hama wereng coklat. Karena kesesuaian mutasi genetika, hama wereng coklat berevolusi menjadi lebih ganas. Mimpi peningkatan produktivitas pun berantakan.

Lalu apa batasan dari argumen relativistik. Sebagai amunisi debat, argumen relativistik GM tentu memiliki pesonanya sendiri. Dengan mengutip sejumlah nama filosof beken, seperti Husserl, Heidegger, Popper, dan lain-lain, GM memang berhasil membuktikan masalah-masalah yang dihadapi oleh sains. Tapi sekali lagi, argumen itu hanya menarik sebagai amunisi.

Untuk itu, salah seorang ahli fisika partikel terbesar Edward Witten suatu kali pernah menyindir argumen relativistik Thomas Kuhn dengan sinis. Sindiran ini sejatinya berlaku juga untuk GM. Filsafat Kuhn, baginya, tidak dianggap terlalu serius kecuali sebagai standar perdebatan, bahkan oleh para pendukungnya sekalipun. Karena itu, argumen Kuhn yang relativistik terhadap sains pun mudah dipatahkan Witten. Ia melakukan itu cukup dengan satu kalimat pertanyaan ringan: Apakah Kuhn pergi ke dokter waktu ia sakit? Nyatanya Kuhn melakukan itu sebelum ia meninggal dunia karena kanker paru pada 1996 silam. Ini membuktikan Kuhn meyakini ilmu pengetahuan dan bukan filsafat relativistiknya.

Jalan Keluar
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Apakah Pengadilan Tengah...
Apakah Pengadilan Tengah Mengadili Metode Berpikir dr Tifa dan Roy Suryo?
Perubahan UU Pemilu:...
Perubahan UU Pemilu: Membangun Sistem Pemilu yang Demokratis, Berkeadilan, dan Berintegritas
Palapa di Pundak Sang...
Palapa di Pundak Sang Jenderal: Gajah Mada, Sjafrie Sjamsoeddin, dan Siklus 7 Abad Nusantara
Dokter Tifa dan Roy...
Dokter Tifa dan Roy Suryo: Ujian bagi Kebangkitan Intelektual Publik?
Ekonomi Piala Dunia...
Ekonomi Piala Dunia dan Problem Institusi di Indonesia
Transformasi Polri di...
Transformasi Polri di Tengah Era Disrupsi Digital
Transformasi Standar...
Transformasi Standar Nasional dan Akreditasi Pendidikan Tinggi: Kebutuhan untuk Wujudkan Merdeka Belajar
Ini Strategi Public...
Ini Strategi Public Relations Jaga Reputasi Perusahaan
Tasawuf dan Ketiadaan
Tasawuf dan Ketiadaan
Rekomendasi
Dorong Transformasi...
Dorong Transformasi Berkelanjutan, TelkomGroup Resmi Gelar Culture Festival 2026
9 Kementerian dan Lembaga...
9 Kementerian dan Lembaga yang Buka Pendaftaran Sekolah Kedinasan 2026, Lulus Jadi CPNS
Bawa Semangat Slow Fashion,...
Bawa Semangat Slow Fashion, 7 UMKM Jogja Siap Menembus Pasar Lebih Luas di INACRAFT 2026
Berita Terkini
OTT di Lombok Barat,...
OTT di Lombok Barat, KPK Sita Barang Bukti Rp9,06 Miliar
Kemendagri Kawal Penanganan...
Kemendagri Kawal Penanganan Tuberkulosis dalam RPJMD, RKPD, hingga APBD
Sangkal Isu Reshuffle,...
Sangkal Isu Reshuffle, Mensesneg: Evaluasi Tak Selalu Berujung Pergantian Menteri
Dukungan Publik Jadi...
Dukungan Publik Jadi Kunci Kejagung Tuntaskan Kasus Febrie Adriansyah
Mensesneg Ungkap Anggaran...
Mensesneg Ungkap Anggaran MBG Berpotensi Turun usai Validasi Data
Kejagung Terbitkan Sprindik...
Kejagung Terbitkan Sprindik Baru, Imigrasi Pastikan Pencekalan Febrie Adriansyah Tetap Berlaku
Infografis
5 Alasan Perdamaian...
5 Alasan Perdamaian Amerika Serikat dan Iran Sulit Terwujud
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved