Selamat Gus Yahya

Senin, 27 Desember 2021 - 18:22 WIB
loading...
A A A
Perekonomian berbasis syariah dalam negeri, akhir-akhir ini telah menunjukan perkembangan yang sangat pesat karena sudah mendapatkan kepercayaan baik dari masyarakat. Hal ini terjadi tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di seluruh dunia, terutama di negara-negara Islam. Perkembangan yang sangat pesat di Indonesia tidak terlepas dari peran para ulama dalam menyosialisasikan ekonomi berbasis syariah. Para ulama bukan semata sebagai sosok berilmu, melainkan juga sebagai penggerak dan motivator masyarakat. Kualitas keilmuan mereka telah mendorong mereka untuk aktif membimbing masyarakat dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Selama perjalanannya, NU dalam kontribusinya membangun Indonesia tak pernah melupakan aspek ekonomi, karena seluruh warganya berekonomi dan dalam berekonomi tersebut harus menaati dan mengikuti berbagai ketentuan yang ditetapkan oleh agama. Nahdlatul Ulama (NU) terlahir tidak hanya dibangun dengan tradisi keagaman, nasionalisme dan pemikiran, namun ia juga dibangun oleh kekuatan ekonomi. Tiga fondasi itulah yang menjadi pilar berdirinya NU 1926, dan sering disebut sebagai tiga pilar penyokong berdirinya NU. Tiga pilar utama, yaitu: (1) Nahdlatul Waton, sebagai semangat nasionalisme dan politik, (1) Taswirul Afkar, sebagai semangat pemikiran keilmuan dan keagamaan, serta (3) Nahdlatut Tujjar sebagai semangat pemberdayaan ekonomi.

Pada bidang ekonomi, Nahdlatul Ulama mengembangkan ekonomi melalui peran serta pesantren, karena terbukti sangat efektif. Letak pesantren yang pada umumnya di pedesaan memungkinkan lembaga ini memahami persoalan-persoalan desa, sehingga gagasan-gagasan pengembangan kesejahteraan yang datang dari luar dapat diserap dengan baik oleh masyarakat setelah diolah dan disampaikan oleh pesantren. Di samping itu Nahdlatul Ulama juga memiliki perangkat organisasi yang mendukung program ekonominya, seperti lembaga perekonomian dan lembaga pengembangan pertanian.

Pemerintah Provinsi Jawa Timur, di bawah kepemimpinan Gubernur Khofifah, memiliki program satu pesantren satu produk atau One Pesantren One Product (OPOP). Program tersebut dilaksanakan melalui kolaborasi antara Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa), Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) dan International Council for Small Business (ICSB). Kegiatan ini merupakan salah satu bentuk pemberdayaan ekonomi kerakyatan melalui pesantren. Program OPOP di Jawa Timur adalah peluang besar mendorong ekosistem ekonomi syariah terus berkembang pesat, mengingat Jawa Timur memiliki 6.864 pondok pesantren atau setara 24,76 persen dari total pesantren secara nasional.

Data mencatat bahwa saat ini tercatat 550 Koperasi Pondok Pesantern (Ponpes) di Jawa Timur yang telah bergabung dengan OPOP dan 203 di antaranya telah terfasilitasi OPOP Jatim Berdaya. Selain itu, Pemprov Jatim juga memiliki pondok kurasi guna membantu proses kontrol kualitas produk halal.

Ekonomi syariah dan industri halal saat ini menjadi dua hal yang penting untuk terus dikembangkan. Hal itu mengingat Indonesia adalah negara yang mayoritas masyarakatnya beragama Islam. Terlebih ekonomi Indonesia di antara negara Islam lainnya kian mengalami peningkatan pertumbuhan yang signifikan. Oleh sebab itu, inovasi perlu terus diupayakan dengan optimal agar berbagai produk di Indonesia dapat memiliki daya saing tinggi dengan berbagai produk dari negara lain di dunia.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Apakah Pengadilan Tengah...
Apakah Pengadilan Tengah Mengadili Metode Berpikir dr Tifa dan Roy Suryo?
Perubahan UU Pemilu:...
Perubahan UU Pemilu: Membangun Sistem Pemilu yang Demokratis, Berkeadilan, dan Berintegritas
Wakil Ketua Komisi VIII...
Wakil Ketua Komisi VIII DPR: Integrasi Zakat-Pajak Perkuat Pemberdayaan Ekonomi Umat
Palapa di Pundak Sang...
Palapa di Pundak Sang Jenderal: Gajah Mada, Sjafrie Sjamsoeddin, dan Siklus 7 Abad Nusantara
Dokter Tifa dan Roy...
Dokter Tifa dan Roy Suryo: Ujian bagi Kebangkitan Intelektual Publik?
Ekonomi Piala Dunia...
Ekonomi Piala Dunia dan Problem Institusi di Indonesia
Jelang Final Piala Dunia,...
Jelang Final Piala Dunia, Caketum PBNU Gus Salam Jagokan Argentina Jadi Pemenang
Dukung Ekonomi Berkelanjutan,...
Dukung Ekonomi Berkelanjutan, Jamkrindo Syariah Perkuat Penerapan Prinsip Syariah
28 PCNU se-Jateng Dukung...
28 PCNU se-Jateng Dukung Muktamar Ke-35 NU Digelar di Ponpes Lirboyo
Rekomendasi
6 Misi Pasukan Khusus...
6 Misi Pasukan Khusus yang Memicu Malapetaka, 2 Negara Adidaya Pernah Tumbang
Punya KTP DKI dan Beli...
Punya KTP DKI dan Beli Rumah Pertama? Ini Syarat Dapat Diskon BPHTB 50 Persen
Gavi Akhirnya Buka Mulut...
Gavi Akhirnya Buka Mulut setelah Dibanting Paredes di Final Piala Dunia 2026
Berita Terkini
Pakar Hukum Didit Wijayanto...
Pakar Hukum Didit Wijayanto Sebut Dian Sandi Harusnya Terkena Pasal 32 UU ITE, Bukan Roy Suryo
Lantik 1.177 Perwira...
Lantik 1.177 Perwira TNI-Polri, Prabowo: Pangkat adalah Amanah dan Kepercayaan Rakyat
Prabowo Lantik 1.177...
Prabowo Lantik 1.177 Perwira TNI-Polri, Anugerahkan Adhi Makayasa ke Lulusan Terbaik
Akademisi UI: Indonesia...
Akademisi UI: Indonesia Perlu Regulasi Atasi Ancaman Spionase dan Siber
Belum Genap 2 Bulan...
Belum Genap 2 Bulan Jabat Kepala BGN, Nanik Mundur untuk Pengobatan Jantung
Prabowo Setujui Nanik...
Prabowo Setujui Nanik S Deyang Mundur dari Kepala BGN
Infografis
Deretan Tokoh Bangsa...
Deretan Tokoh Bangsa Lulusan Pesantren, Ada Gus Dur hingga Haedar Nashir
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved