Guru di Era Milenial Antara Harapan dan Kenyataan
Kamis, 25 November 2021 - 10:57 WIB
loading...
A
A
A
Cara-cara konvensional seperti memelototi, membentak, memarahi, mencubit, bahkan memukuli siswa perlu segera ditinggalkan, karena zaman terus berubah. Pilihan menjadi guru yang memberikan teladan, membangun karsa (kemauan), dan memotivasi siswa patut diinternalisasi dan diimplementasikan hari demi hari.
Ke depannya guru harus mampu meningkatkan kualitasnya. Apalagi di era milenial ini perubahan paradigma dan derasnya arus informasi membuat anak didik lebih cerdas tiga kali hingga empat kali dibandingkan generasi baby boom di era tahun 70an, 80 an, atau 90an.
Kecerdasan psikomotorik itu muncul karena anak didik dapat dengan mudah mengakses informasi melalui teknologi informasi, mesin pencarian data dan media sosial.
Oleh karena itu guru perlu terus menerus memotivasi diri untuk mengembangkan kompetensi diri melalui beberapa cara. Salah satu contohnya guru harus mampu beradaptasi dengan teknologi. Memahami derasnya arus informasi yang tersebar melalui media sosial.
Sehingga guru mampu memahami cepatnya arus perubahan jaman, mampu memetakan kemampuan anak didik, membaca situasi dan perkembangan zaman, dan tidak tertinggal dalam membaca daya pikir anak didik.
Untuk hal ini, proses belajar mengajar tidak lagi dilakukan dengan pola lama yakni satu arah. Namun guru harus sudah menjadikan anak didik sebagai sahabat dalam belajar.
Guru harus bisa memposisikan diri sebagai pendamping ilmu bagi anak didik. Guru harus hadir dan berada pada berbagai grup media sosial karena guru dapat menerima-membagi informasi yang sesuai dengan kebutuhan.
Para guru perlu terus menerus belajar teknologi. Era digital masa kini, menuntut para guru mempelajari, menguasai, dan menggunakan teknologi dalam berbagai aktivitas, termasuk dalam proses pembelajaran.
Guru ditantang untuk bisa melepaskan cara-cara manual sehingga bergeser ke arah penggunaan teknologi, seperti: penggunaan laptop, LCD, googling, dan menyajikan media audio-visual dalam proses pembelajaran.
Dengan demikian, cara-cara konvensional yang dipraktikkan oleh para guru hendaknya mulai tergantikan dengan mengedepankan penggunaan teknologi dalam proses pembelajaran; guru harus meningkatkan pendidikannya hingga S1 atau S2, minimal, (Mustafah, J.: 2011: 121).
Untuk studi S2, para guru dapat memanfaatkan berbagi peluang beasiswa termasuk mendorong pemerintah daerah untuk mengalokasikan beasiswa studi lanjut.
Inilah saatnya guru berubah demi transformasi layanan terbaik guru bagi para siswa, khususnya dalam menyiapkan generasi emas, 2045.terus memperbarui dirinya agar senantiasa adaptif, responsif, terhadap perubahan. Oleh karena itu penulis mengajak para guru agar terus meningkatkan kompetensinya.
Ke depannya guru harus mampu meningkatkan kualitasnya. Apalagi di era milenial ini perubahan paradigma dan derasnya arus informasi membuat anak didik lebih cerdas tiga kali hingga empat kali dibandingkan generasi baby boom di era tahun 70an, 80 an, atau 90an.
Kecerdasan psikomotorik itu muncul karena anak didik dapat dengan mudah mengakses informasi melalui teknologi informasi, mesin pencarian data dan media sosial.
Oleh karena itu guru perlu terus menerus memotivasi diri untuk mengembangkan kompetensi diri melalui beberapa cara. Salah satu contohnya guru harus mampu beradaptasi dengan teknologi. Memahami derasnya arus informasi yang tersebar melalui media sosial.
Sehingga guru mampu memahami cepatnya arus perubahan jaman, mampu memetakan kemampuan anak didik, membaca situasi dan perkembangan zaman, dan tidak tertinggal dalam membaca daya pikir anak didik.
Untuk hal ini, proses belajar mengajar tidak lagi dilakukan dengan pola lama yakni satu arah. Namun guru harus sudah menjadikan anak didik sebagai sahabat dalam belajar.
Guru harus bisa memposisikan diri sebagai pendamping ilmu bagi anak didik. Guru harus hadir dan berada pada berbagai grup media sosial karena guru dapat menerima-membagi informasi yang sesuai dengan kebutuhan.
Para guru perlu terus menerus belajar teknologi. Era digital masa kini, menuntut para guru mempelajari, menguasai, dan menggunakan teknologi dalam berbagai aktivitas, termasuk dalam proses pembelajaran.
Guru ditantang untuk bisa melepaskan cara-cara manual sehingga bergeser ke arah penggunaan teknologi, seperti: penggunaan laptop, LCD, googling, dan menyajikan media audio-visual dalam proses pembelajaran.
Dengan demikian, cara-cara konvensional yang dipraktikkan oleh para guru hendaknya mulai tergantikan dengan mengedepankan penggunaan teknologi dalam proses pembelajaran; guru harus meningkatkan pendidikannya hingga S1 atau S2, minimal, (Mustafah, J.: 2011: 121).
Untuk studi S2, para guru dapat memanfaatkan berbagi peluang beasiswa termasuk mendorong pemerintah daerah untuk mengalokasikan beasiswa studi lanjut.
Inilah saatnya guru berubah demi transformasi layanan terbaik guru bagi para siswa, khususnya dalam menyiapkan generasi emas, 2045.terus memperbarui dirinya agar senantiasa adaptif, responsif, terhadap perubahan. Oleh karena itu penulis mengajak para guru agar terus meningkatkan kompetensinya.
(poe)
Lihat Juga :