Ongkos Sosio-Kultural Era New Normal

Selasa, 02 Juni 2020 - 09:08 WIB
loading...
A A A
Wujud penghormatan kepada orang lain secara simbolik seperti di atas, mungkin harus dipikirkan “substitusi”-nya. Karena meskipun kita sudah berada di jaman canggih, era millenial, abad futuristik atau apapun namanya, ada sisi-sisi sosial,moral, tata krama dan tradisi yang tak bisa dieliminasi begitu saja. Apalagi masalah religi. Penyesuaian cara beribadah tentu dimungkinkan, tapi bagaimana dengan anjuran memakmurkan tempat ibadah dan merapatkan shaf misalnya? Apakah kedaruratan yang sifatnya temporer akan menjadi permanensial? Wallahu a’lam. Tergantung pada panjang pendeknya siklus pandemi untuk sampai kembali ke taraf anggapan “normal”.

Merawat Esensi

Apa konsekuensi tak terbayarnya ongkos sosio-kultural di atas? Ketercerabutan generasi dari ikhwal asal muasal tradisi, bisa menjadi ajang pertaruhan bagi pembentukan karakter asli negeri ini. Sebab, kendati beberapa tradisi tak bisa dilepaskan dari unsur mistisisme dan kepercayaan pada dunia gaib, harus diakui bahwa maksud, tujuan dan harapan yang dipanjatkan melalui seremoni-seremoni tradisi itu adalah hal yang baik. Yang mengingatkan kita semua bahwa selalu ada entitas Yang Maha Kuasa atas segala upaya.

Berbagai tradisi sosial serta ritus kultural juga senantiasa mengingatkan kita bahwa menghormati orang tua, menghargai sesama manusia dengan agama dan kepercayaannya masing-masing, merupakan hal dasar yang sangat hakiki sebagai dasar kerukunan dan kebahagiaan hidup bersama di dunia. Secanggih dan semaju apapun dunia itu. Karena kesadaran akan hal-hal di atas akan selalu mengarahkan kita kepada kemajuan yang humanis, fungsional, memudahkan, tanpa tujuan yang anarkis dan tendensi penguasaan yang eksploratif untuk kepentingan diri sendiri.

Jika kita ingat makna tradisi-tradisi “ruwat bumi” misalnya, maka sehebat apapun generasi nanti, maka unsur pelestarian alam dan semesta tetap akan menjadi “roh” dalam penciptaanpenciptaan inovasi teknologi dan strategi. Demikianlah. Semoga ongkos sosial dan kultural menuju era normal baru ini tak terlampau mahal harganya. Terjangkau oleh kemampuan kita, sehingga kita tak perlu melihat bahwa generasi masa nanti akan menjadi generasi yang saling curiga akibat minimnya kepercayaan sosial, dan menjadi generasi yang lupa akan akar tradisi serta basic religi.
(ysw)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Mahalnya Harga Stabilitas
Mahalnya Harga Stabilitas
Perang Iran Menjadi...
Perang Iran Menjadi Warisan Buruk Kebijakan Luar Negeri Amerika Serikat
Apakah Pengadilan Tengah...
Apakah Pengadilan Tengah Mengadili Metode Berpikir dr Tifa dan Roy Suryo?
Perubahan UU Pemilu:...
Perubahan UU Pemilu: Membangun Sistem Pemilu yang Demokratis, Berkeadilan, dan Berintegritas
Palapa di Pundak Sang...
Palapa di Pundak Sang Jenderal: Gajah Mada, Sjafrie Sjamsoeddin, dan Siklus 7 Abad Nusantara
Dokter Tifa dan Roy...
Dokter Tifa dan Roy Suryo: Ujian bagi Kebangkitan Intelektual Publik?
Transformasi Standar...
Transformasi Standar Nasional dan Akreditasi Pendidikan Tinggi: Kebutuhan untuk Wujudkan Merdeka Belajar
Ini Strategi Public...
Ini Strategi Public Relations Jaga Reputasi Perusahaan
Tasawuf dan Ketiadaan
Tasawuf dan Ketiadaan
Rekomendasi
Iran Ungkap Radar AS...
Iran Ungkap Radar AS Mengalami Malam Gelap akibat Serangan Rudal
Trisno Pas Band Kritis,...
Trisno Pas Band Kritis, Gagal Ginjal dan Alami Sumbatan di Otak
EskaIasi Laut Merah...
EskaIasi Laut Merah Tekan Rupiah, Dolar AS Ditutup ke Rp17.936 Sore Ini
Berita Terkini
Dokter Tifa Klaim Simpan...
Dokter Tifa Klaim Simpan Bukti Kejanggalan Ijazah Jokowi Meski Eksepsinya Diterima
Sudaryono Jadi Kepala...
Sudaryono Jadi Kepala BGN, Aktivis 98 Yakin Program MBG Jadi Lebih Baik
Prabowo Pimpin Ratas...
Prabowo Pimpin Ratas selama 3,5 Jam di Istana, Ini yang Dibahas
Hakim Kabulkan Eksepsi...
Hakim Kabulkan Eksepsi Dokter Tifa, Khozinudin Sebut Tidak Ada Kejelasan tentang Ijazah Jokowi
Kejagung: Jadi Deputi...
Kejagung: Jadi Deputi di BGN, Ketut Sumedana Tak Lagi Jabat Kajati Sumsel
PSHKP Resmi Diluncurkan,...
PSHKP Resmi Diluncurkan, Siap Perkuat Tata Kelola Hukum dan Keuangan Publik
Infografis
26 Miliarder Gagal Cegah...
26 Miliarder Gagal Cegah Zohran Mamdani Jadi Wali Kota Muslim New York
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved