Ongkos Sosio-Kultural Era New Normal

Selasa, 02 Juni 2020 - 09:08 WIB
loading...
A A A
Akibat pandemi, situasi jelas berubah. Orang yang semula tak merasa bermasalah dekat dengan siapa pun secara fisik, sekarang menjaga jarak karena ketidakyakinan masing-masing pihak, apakah ia atau lawan interaksinya menjadi pembawa (carrier) virus Covid-19. Bukan hanya pada orang yang tak dikenal, namun juga dengan orang-orang terdekat.

Teman bermain, rekan sekantor, kolega bisnis, tetangga rumah, bahkan di dalam keluarga kita sendiri. Itu mengapa, kita diminta mengisolasi diri jika ada potensi tertulari. Itu sebabnya, ketika datang dari luar kota berzona merah Covid-19, kita tak diizinkan langsung menyentuh anak, istri, suami, terlebih orang berusia lanjut, kendati mereka orang tua kita sendiri.

Sehingga muncul istilah baru dari Emha Ainun Nadjib dalam bukunya Lockdown 309 Tahun (2020) bahwa hari-hari ini, “Kita terpaksa me-“lepra”-kan satu sama lain, di antara sesama famili, tetangga, sahabat dan siapa pun karena manusia adalah penular Covid-19.”

Perlu waktu dan bukti untuk saling percaya (lagi) secara physically antarmanusia. Karena jangankan dalam situasi wabah penyakit menular; dalam situasi normal pun, percaya pada orang lain bisa membawa konsekuensi yang menguntungkan dan merugikan. Selalu ada risiko. Begitu setidaknya pernyataan Morton Deutsch –psikolog dan peneliti sosial Amerika Serikat– mengenai elemen dasar kepercayaan. Padahal kepercayaan merupakan modal dasar yang sangat penting bagi kolaborasi serta terciptanya partisipasi sosial. Tanpa kepercayaan sosial yang tinggi, kolaborasi dan partisipasi sosial tidak akan menampakkan kontribusi yang signifikan. Kedua, tereduksinya kesakralan-kesakralan tradisi (adat istiadat), bahkan kesakralan religi. Contoh yang masih hangat dalam reduksi laku tradisi sekaligus religi, jelas sunyinya suasana Ramadhan dan lebaran tahun ini. Ramadhan tak diwarnai dengan kajian bersama di “ruang-ruang nyata” majelis taklim. Masjid tak dizinkan menggelar salat tarawih berjamaah. Mudik ke kampung halaman menjadi aktivitas terlarang.

Halal bihalal dengan kebersamaan yang membahagiakan hanya bisa dilakukan secara virtual. Di Banyuwangi, masyarakat Desa Olehsari, Kecamatan Glagah terpaksa hanya menggelar Ritual Seblang secara terbatas dan tanpa pengunjung. Padahal, tradisi ritual Bulan Syawal yang bertujuan untuk menjauhkan warga dari pagebluk itu biasa ditonton oleh ribuan orang. Tahun ini, ritual hanya disaksikan 28 orang perangkat pemerintahan dan tokoh masyarakat, serta hanya melakukan tradisi intinya saja. Tarian oleh gadis terpilih yang dirasuki roh leluhur hingga trance (kesurupan) dengan iringan 28 gending pun ditiadakan (Jawapos, 31/05).

Dalam hal tata krama, sudah menjadi kelaziman bahwa jabat tangan adalah wujud kedekatan (intimacy) dan penghormatan (respect) manakala satu orang bertemu dengan orang yang lain. Kebiasaan seorang anak yang mencium tangan orang tua ketika bersalaman, bahkan sudah menjadi “ajaran” ketatasusilaan dan kesopanan dalam hubungan anak muda kepada orang dewasa, tanpa memandang suku dan agama. Namun saat ini kebiasaan itu harus “hilang”. Norma standar kesantunan pun terpaksa direduksi secara sadar.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Perang Iran Menjadi...
Perang Iran Menjadi Warisan Buruk Kebijakan Luar Negeri Amerika Serikat
Apakah Pengadilan Tengah...
Apakah Pengadilan Tengah Mengadili Metode Berpikir dr Tifa dan Roy Suryo?
Perubahan UU Pemilu:...
Perubahan UU Pemilu: Membangun Sistem Pemilu yang Demokratis, Berkeadilan, dan Berintegritas
Palapa di Pundak Sang...
Palapa di Pundak Sang Jenderal: Gajah Mada, Sjafrie Sjamsoeddin, dan Siklus 7 Abad Nusantara
Dokter Tifa dan Roy...
Dokter Tifa dan Roy Suryo: Ujian bagi Kebangkitan Intelektual Publik?
Ekonomi Piala Dunia...
Ekonomi Piala Dunia dan Problem Institusi di Indonesia
Transformasi Standar...
Transformasi Standar Nasional dan Akreditasi Pendidikan Tinggi: Kebutuhan untuk Wujudkan Merdeka Belajar
Ini Strategi Public...
Ini Strategi Public Relations Jaga Reputasi Perusahaan
Tasawuf dan Ketiadaan
Tasawuf dan Ketiadaan
Rekomendasi
Arus Kas ETF Bitcoin...
Arus Kas ETF Bitcoin Tembus Rp1,36 Triliun di Pertengahan Juli 2026
Tak Selalu Aman, Sendok...
Tak Selalu Aman, Sendok Kayu Juga Bisa Jadi Sarang Bakteri dan Jamur
Airlangga Bocorkan Lahan...
Airlangga Bocorkan Lahan BUMN di Bali Jadi Opsi Calon Lokasi PFII
Berita Terkini
Febrie Adriansyah Mangkir...
Febrie Adriansyah Mangkir dari Pemeriksaan Kejagung, Dipanggil Ulang Besok
Dokter Tifa Siap Terima...
Dokter Tifa Siap Terima Apa Pun Putusan Sela Hari Ini
Menjembatani Rivalitas...
Menjembatani Rivalitas LCS: Konsep Hybrid Maritime Security Governance System
Ahli Waris Laporkan...
Ahli Waris Laporkan Dugaan Kepemilikan Aset Tak Wajar Mantan Hakim dan Jaksa ke KPK
Kisah Calvin dan Yehezkiel,...
Kisah Calvin dan Yehezkiel, Peraih Adhi Makayasa 2026 yang Dilantik Prabowo di Istana Merdeka
Daftar Lengkap Mutasi...
Daftar Lengkap Mutasi Besar-besaran di Kejaksaan, Dirdik Jampidsus hingga Kajati
Infografis
8 Menteri Era Jokowi...
8 Menteri Era Jokowi yang Terjerat Kasus Korupsi
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved