Lebaran Sunyi
Kamis, 28 Mei 2020 - 07:47 WIB
loading...
A
A
A
Ruang bagi Kesendirian
Jadi, ketika lebaran kali ini terpaksa sunyi, layakkah kita terus merutuki? Cobalah kita melihat dari sebalik sisi. Tak sekadar melihat dari arah “kiri” alias negative thinking. Tapi geserlah juga pandangan dari arah “kanan”. Positive thinking.
PSBB, #stayathome, lockdown, dan sejenisnya yang harus kita lakukan saat ini, yakini tak ada seujung kuku dari apa yang pernah dialami Ashabul Kahfi; tujuh pemuda yang di-“lockdown” oleh Allah selama 309 tahun di dalam gua rapat dengan hanya satu lubang kecil tempat masuk sinar matahari, demi terhindar dari kejaran Raja Diqyanus yang zalim dan berusaha menghancurkan keimanan mereka.
Kita memang tidak tahu kapan “anugerah sunyi” ini akan berakhir. Tuhan yang menurunkannya, dan Ia sendiri yang akan mengangkatnya. Bisa sebentar, pun bisa sangat lama. Namun, justru karena kita tidak tahu kapan akhir pandemi itulah sangat sayang apabila kita tidak bisa mengambil secuil pun hikmah dari pelajaran penting ini. Merugi besar rasanya jika tidak ada yang bisa kita petik dari peristiwa ini, kecuali rasa takut, khawatir, jengkel, dan emosi. (Baca juga: Dedy Corbuzier Beberkan Tujuannya Wawancara Siti Fadilah Supari)
Cobalah berpikir seperti bait puisi Rozi tadi: mungkin di dalam sunyi, Tuhan sedang menanti. Mungkin di dalam sepi, pintu tobat terdapat. Mungkin di dalam besarnya kesempatan berkumpul dengan keluarga utama, rasa sayang Tuhan mengemuka. Atau justru di dalam jarak yang terpaksa terbentang antarsaudara, kita benar bisa menyadari nikmat pertemuan yang selama ini kita anggap biasa-biasa saja. Padahal, itu kemurahan hati-Nya. Padahal itu hadiah indah dari-Nya.
Maka, jika kita mampu menempatkan iman dan hati secara tepat atas Lebaran yang sunyi secara fisik ini, sangat mungkin kita bisa menemukan kesemarakan Lebaran di dalam hati. Rasanya, ini saat yang tepat bagi kita untuk evaluasi. Jangan-jangan, lebaran demi lebaran yang sudah kita alami adalah negasi: semarak secara fisik, tapi sunyi di dalam hati.
Wallahu a’lam bishawab.
Jadi, ketika lebaran kali ini terpaksa sunyi, layakkah kita terus merutuki? Cobalah kita melihat dari sebalik sisi. Tak sekadar melihat dari arah “kiri” alias negative thinking. Tapi geserlah juga pandangan dari arah “kanan”. Positive thinking.
PSBB, #stayathome, lockdown, dan sejenisnya yang harus kita lakukan saat ini, yakini tak ada seujung kuku dari apa yang pernah dialami Ashabul Kahfi; tujuh pemuda yang di-“lockdown” oleh Allah selama 309 tahun di dalam gua rapat dengan hanya satu lubang kecil tempat masuk sinar matahari, demi terhindar dari kejaran Raja Diqyanus yang zalim dan berusaha menghancurkan keimanan mereka.
Kita memang tidak tahu kapan “anugerah sunyi” ini akan berakhir. Tuhan yang menurunkannya, dan Ia sendiri yang akan mengangkatnya. Bisa sebentar, pun bisa sangat lama. Namun, justru karena kita tidak tahu kapan akhir pandemi itulah sangat sayang apabila kita tidak bisa mengambil secuil pun hikmah dari pelajaran penting ini. Merugi besar rasanya jika tidak ada yang bisa kita petik dari peristiwa ini, kecuali rasa takut, khawatir, jengkel, dan emosi. (Baca juga: Dedy Corbuzier Beberkan Tujuannya Wawancara Siti Fadilah Supari)
Cobalah berpikir seperti bait puisi Rozi tadi: mungkin di dalam sunyi, Tuhan sedang menanti. Mungkin di dalam sepi, pintu tobat terdapat. Mungkin di dalam besarnya kesempatan berkumpul dengan keluarga utama, rasa sayang Tuhan mengemuka. Atau justru di dalam jarak yang terpaksa terbentang antarsaudara, kita benar bisa menyadari nikmat pertemuan yang selama ini kita anggap biasa-biasa saja. Padahal, itu kemurahan hati-Nya. Padahal itu hadiah indah dari-Nya.
Maka, jika kita mampu menempatkan iman dan hati secara tepat atas Lebaran yang sunyi secara fisik ini, sangat mungkin kita bisa menemukan kesemarakan Lebaran di dalam hati. Rasanya, ini saat yang tepat bagi kita untuk evaluasi. Jangan-jangan, lebaran demi lebaran yang sudah kita alami adalah negasi: semarak secara fisik, tapi sunyi di dalam hati.
Wallahu a’lam bishawab.
(ysw)