Sejumlah Negara Mulai Berdamai dengan Corona
Jum'at, 16 Juli 2021 - 08:35 WIB
loading...
A
A
A
Wisuda di kampus juga sudah digelar dengan penuh kemeriahan. Namun, di beberapa wilayah yang masih mengalami peningkatan kasus, tetap melaksanakan lockdown secara parsial dan mewajibkan peduduk memiliki sertifikat vaksin. Dalam Covid Resilience Raking versi Bloomberg, China menempati urutan kedelapan dengan nilai 69,9 dengan tingkat vaksinasi mencapai 40,8%.
Bagaimana dengan Indonesia? Bloomberg Covid Resilience Ranking menyebutkan, Indonesia berada pada posisi ke-49 dengan nilai 48,2. Indonesia berada pada posisi buncit dari 53 negara bersama dengan Pakistan, Kolombia, India, Malaysia, Filipina, dan Argentina, yang dianalisis dalam kajian pada 27 Juni lalu. Bloomberg mencatat orang yang sudah divaksin mencapai 7,4% dengan tingkat ketegasan lockdown tercatat 69. Tingkat kapasitas penerbangan -35,5% dan tingkat mobilitas komunitas -10,8%.
Baca juga: Momen Kasatpol PP Kota Bogor Santun saat PPKM Darurat Bersama Raffi Ahmad dan Bima Arya
Guru besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (UI) Tjandra Yoga Aditama menyatakan, banyak negara termasuk Indonesia telah banyak belajar setelah sekitar 1,5 tahun pandemi Covid-19 berlangsung. Berdasarkan data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan pengalaman berbagai negara, pada dasarnya yang berperan penting yang menurunkan situasi epidemiologi di suatu negara ada tiga indikator.
Pertama, pembatasan kegiatan sosial atau yang disebut WHO public health and social measure (PHSM). Kedua, test, trace, and treat (3T). Ketiga, vaksinasi bagi warga negara.
Tiga indikator inilah juga sangat menentukan sebuah negara nanti bisa dan mampu berdamai dan hidup berdampingan dengan Covid-19.
"Tiga itu yang dilakukan maksimal di manapun juga di dunia ini, sehingga menghasilkan hasil yang bagus untuk negara itu. Cuman memang, kita harus mengerjakan semuanya secara bersamaan. Tidak bisa hanya PHSM saja, tidak bisa hanya dengan vaksinasi saja, tidak bisa dengan test, trace, and treat saja," ucap Tjandra saat dihubungi KORAN SINDO.
Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara yang berkedudukan di New Delhi, India ini membeberkan, tiga indikator tersebut harus dijalankan semaksimal mungkin menyikapi dan menyesuaikan keadaan yang ada agar Indonesia bisa benar-benar berhasil perang melawan pandemi Covid-19.
Tjandra menjelaskan, untuk PHSM pada dasarnya bertujuan untuk mencegah penularan Covid-19 dari orang ke orang di lingkungan sekitar. Sehingga, kemudian kampanye dan tindakan yang mulai diambil paling awal dan fundamental untuk mewujudkan PHSM adalah memakai masker, menjaga jarak, mencuci tangan menggunakan sabun, menghindari kerumunan, dan membatasi mobilitas.
Mantan Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Kementerian Kesehatan ini mengungkapkan, dari sisi pelaksanan 3T memang Indonesia masih cukup lemah dan kurang maksimal.
Dia mencontohkan, misalnya ada sekitar 100 orang yang terkonfirmasi positif Covid-19 dengan sebagian ditangani atau masuk rumah sakit dan sebagian melakukan isolasi mandiri (isoman). Seharusnya yang diingat juga oleh pemerintah dan stakeholder terkait adalah selain 100 orang itu pasti ada orang yang masih berada di luar yang memiliki gejala atau tidak memiliki gejala atau tidak sempat dites.
Lantas kira-kira kapan Indonesia bisa berdamai dengan Covid-19? Tjandra menegaskan, sebelum menjawab itu maka perlu dilihat situasi di beberapa negara dan kejadian di masa awal pandemi Covid-19 di Indonesia pada Maret 2020. Di Eropa sudah tampak banyak warganya yang sudah bisa menonton Piala Eropa 2020 secara langsung di stadion. Di sisi lain, masih ada banyak negara yang juga masih menghadapi masalah seperti Indonesia.
Tjandra mengatakan, pada Maret 2020 saat suspect pertama terkonfirmasi di Indonesia kemudian ada banyak pihak baik dalam negeri maupun luar negeri yang membuat perkiraan dengan sistem yang canggih dan big data. Para pihak itu menyebutkan bahwa Indonesia akan mampu mengendalikan dan keluar dari pandemi Covid-19 pada sekitar September atau Oktober 2020. Tapi prediksi itu kemudian dievaluasi dan bergeser perkiraan menjadi November 2020. Belakangan para pihak itu tidak berani lagi melakukan evaluasi dan menyampaikan perkiraan.
Bagaimana dengan Indonesia? Bloomberg Covid Resilience Ranking menyebutkan, Indonesia berada pada posisi ke-49 dengan nilai 48,2. Indonesia berada pada posisi buncit dari 53 negara bersama dengan Pakistan, Kolombia, India, Malaysia, Filipina, dan Argentina, yang dianalisis dalam kajian pada 27 Juni lalu. Bloomberg mencatat orang yang sudah divaksin mencapai 7,4% dengan tingkat ketegasan lockdown tercatat 69. Tingkat kapasitas penerbangan -35,5% dan tingkat mobilitas komunitas -10,8%.
Baca juga: Momen Kasatpol PP Kota Bogor Santun saat PPKM Darurat Bersama Raffi Ahmad dan Bima Arya
Guru besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (UI) Tjandra Yoga Aditama menyatakan, banyak negara termasuk Indonesia telah banyak belajar setelah sekitar 1,5 tahun pandemi Covid-19 berlangsung. Berdasarkan data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan pengalaman berbagai negara, pada dasarnya yang berperan penting yang menurunkan situasi epidemiologi di suatu negara ada tiga indikator.
Pertama, pembatasan kegiatan sosial atau yang disebut WHO public health and social measure (PHSM). Kedua, test, trace, and treat (3T). Ketiga, vaksinasi bagi warga negara.
Tiga indikator inilah juga sangat menentukan sebuah negara nanti bisa dan mampu berdamai dan hidup berdampingan dengan Covid-19.
"Tiga itu yang dilakukan maksimal di manapun juga di dunia ini, sehingga menghasilkan hasil yang bagus untuk negara itu. Cuman memang, kita harus mengerjakan semuanya secara bersamaan. Tidak bisa hanya PHSM saja, tidak bisa hanya dengan vaksinasi saja, tidak bisa dengan test, trace, and treat saja," ucap Tjandra saat dihubungi KORAN SINDO.
Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara yang berkedudukan di New Delhi, India ini membeberkan, tiga indikator tersebut harus dijalankan semaksimal mungkin menyikapi dan menyesuaikan keadaan yang ada agar Indonesia bisa benar-benar berhasil perang melawan pandemi Covid-19.
Tjandra menjelaskan, untuk PHSM pada dasarnya bertujuan untuk mencegah penularan Covid-19 dari orang ke orang di lingkungan sekitar. Sehingga, kemudian kampanye dan tindakan yang mulai diambil paling awal dan fundamental untuk mewujudkan PHSM adalah memakai masker, menjaga jarak, mencuci tangan menggunakan sabun, menghindari kerumunan, dan membatasi mobilitas.
Mantan Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Kementerian Kesehatan ini mengungkapkan, dari sisi pelaksanan 3T memang Indonesia masih cukup lemah dan kurang maksimal.
Dia mencontohkan, misalnya ada sekitar 100 orang yang terkonfirmasi positif Covid-19 dengan sebagian ditangani atau masuk rumah sakit dan sebagian melakukan isolasi mandiri (isoman). Seharusnya yang diingat juga oleh pemerintah dan stakeholder terkait adalah selain 100 orang itu pasti ada orang yang masih berada di luar yang memiliki gejala atau tidak memiliki gejala atau tidak sempat dites.
Lantas kira-kira kapan Indonesia bisa berdamai dengan Covid-19? Tjandra menegaskan, sebelum menjawab itu maka perlu dilihat situasi di beberapa negara dan kejadian di masa awal pandemi Covid-19 di Indonesia pada Maret 2020. Di Eropa sudah tampak banyak warganya yang sudah bisa menonton Piala Eropa 2020 secara langsung di stadion. Di sisi lain, masih ada banyak negara yang juga masih menghadapi masalah seperti Indonesia.
Tjandra mengatakan, pada Maret 2020 saat suspect pertama terkonfirmasi di Indonesia kemudian ada banyak pihak baik dalam negeri maupun luar negeri yang membuat perkiraan dengan sistem yang canggih dan big data. Para pihak itu menyebutkan bahwa Indonesia akan mampu mengendalikan dan keluar dari pandemi Covid-19 pada sekitar September atau Oktober 2020. Tapi prediksi itu kemudian dievaluasi dan bergeser perkiraan menjadi November 2020. Belakangan para pihak itu tidak berani lagi melakukan evaluasi dan menyampaikan perkiraan.
Lihat Juga :