Pertumbuhan Ekonomi dan Pelajaran dari India

Kamis, 03 Juni 2021 - 06:48 WIB
loading...
A A A
Fenomena kasus India ini sudah mulai muncul di Indonesia. Sebagai negara berkembang seperti India, Indonesia memiliki keterbatasan aset ekonomi untuk menunjang seluruh aktivitasnya selama masa pandemi Covid-19. Pilihan sumber pendapatan negara-negara berkembang selama masa pandemi Covid-19 ini memang sangat terbatas. Selain utang, sumber pendapatan utama negara-negara berkembang adalah pajak. Meningkatkan pajak di tengah pandemi tentu bukanlah pilihan yang bijak. Di sisi lain, meningkatkan utang dengan kepemilikan aset tetap yang terbatas tentunya akan sangat memberatkan keuangan negara di masa yang akan datang. Karena itu, cukup dapat dipahami ketika pemerintah negara-negara berkembang seperti India mencoba mendorong aktivitas perekonomiannya dengan melonggarkan peraturan protokol kesehatan. Namun, apakah sepadan pengorbanan yang dilakukan dengan keuntungan ekonomi yang diperoleh?

Kasus Indonesia

Indonesia mengalami hal yang relatif sama dengan India. Positive rate dan kasus harian di Indonesia sudah mulai turun dan melandai. Di sisi lain, kondisi ekonomi Indonesia juga sudah mulai memperlihatkan tren perbaikan. Walaupun belum mampu keluar dari zona resesi ekonomi, kontraksi pertumbuhan ekonomi sudah mulai mengecil. Sejak mengalami kontraksi pertumbuhan ekonomi sebesar negatif 5,32% (yoy ), kontraksi pertumbuhan ekonomi terus mengecil dan posisi terakhir adalah negatif 0,74% (yoy ). Kondisi ini sepertinya mulai menjadi rangsangan bagi para pelaku ekonomi, termasuk pemerintah, untuk sedikit melonggarkan peraturan protokol kesehatan dan mengizinkan beberapa aktivitas masyarakat dari mulai aktivitas sosial sampai aktivitas ekonomi, walaupun dalam skala yang terbatas.

Sama halnya dengan India, pemerintah beserta para pelaku ekonomi berharap aktivitas perekonomian dapat sedikit berjalan sehingga pemulihan ekonomi dapat berjalan lebih cepat. Pemerintah mengizinkan pembukaan beberapa tempat wisata, hotel, dan restoran dengan tetap menerapkan standar protokol kesehatan. Pemerintah juga mendorong supaya masyarakat meningkatkan konsumsinya dengan berbelanja di para pelaku UMKM baik melalui daring maupun luring. Pelaksanaan acara keagamaan pun mulai diizinkan dengan batasan-batasan tertentu. Seluruh pelonggaran tersebut diarahkan untuk mendorong roda perekonomian berjalan kembali walaupun belum cepat seperti sebelum masa pandemi. Dengan berjalannya roda perekonomian, diharapkan beban pemerintah terutama beban anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) dapat dikurangi sehingga defisit APBN bisa kembali di bawah 3,0%. Namun, sebagaimana telah disinggung sebelumnya, apakah pendapatan ekonomi yang akan diperoleh sebanding dengan risiko yang dihadapi?

Di tengah ketidakpastian pandemi Covid-19 yang masih tinggi, diperlukan pengertian dari semua pelaku ekonomi mulai dari pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat luas untuk menahan hasrat ekonominya. Semua pelaku ekonomi harus memiliki kesadaran dan kesabaran yang sama bahwa kita masih hidup di masa pandemi yang menuntut adanya perilaku sederhana dan perilaku saling menolong antarsesama. Aktivitas dan roda perekonomian masih belum berjalan dengan baik, pengangguran dan kemiskinan meningkat, dan ketimpangan semakin melebar, namun dengan keyakinan dan usaha bersama maka beban pandemi ini bisa lebih ringan. Budaya tanggung renteng harus kembali ditingkatkan, perilaku gotong-royong harus kembali digalakkan, dan asas tolong-menolong harus kembali digairahkan. Dengan semua langkah tersebut maka kasus yang terjadi di India tidak perlu menular ke Indonesia. Indonesia akan mampu keluar dari pandemi Covid-19 sekaligus keluar dari zona resesi ekonomi tanpa harus melonggarkan protokol kesehatan dan membiarkan masyarakat bertaruh nyawa demi ekonomi.
(war)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Jokowi: Indonesia Salah...
Jokowi: Indonesia Salah Satu Negara Terbaik Atasi Covid-19 dan Dampak Ekonominya
SDGs Kesehatan dan Litbang
SDGs Kesehatan dan Litbang
Mendeteksi Sinyal Pemulihan...
Mendeteksi Sinyal Pemulihan Ekonomi
Saatnya Ekonomi Indonesia...
Saatnya Ekonomi Indonesia Bangkit
Stagflasi Menghantui
Stagflasi Menghantui
Langkah Pasti Indonesia...
Langkah Pasti Indonesia dalam Konferensi G20
Kepala Perpusnas: Program...
Kepala Perpusnas: Program TPBIS Jadi Solusi Pemulihan Ekonomi Pascapandemi
Indonesia Dinilai Cukup...
Indonesia Dinilai Cukup Kuat di Tengah Perlambatan Ekonomi Dunia
Diliputi Antusiasme...
Diliputi Antusiasme Audiens, Kuliah Umum Menko Airlangga di Singapura Tuai Pujian
Rekomendasi
Pengadilan Inggris Butuh...
Pengadilan Inggris Butuh 300 Tahun untuk Selesaikan Tumpukan Kasus
BSSN, ABI dan PINTU...
BSSN, ABI dan PINTU Perkuat Sinergi Jamin Keamanan Transaksi Digital
MNC University Bersama...
MNC University Bersama MNC Peduli Salurkan 2 Ton Beras untuk Warga Kelurahan Kebon Sirih
Berita Terkini
Lima Korban SPPI dan...
Lima Korban SPPI dan Momentum Membenahi Program Bela Negara bagi Sipil
Pilihan Praperadilan...
Pilihan Praperadilan untuk Roy Suryo dan Sidang untuk dr Tifa dalam Polemik Ijazah Jokowi
DPR: Kasus Chromebook...
DPR: Kasus Chromebook Adalah The New White Collar Crime Terbaik Tanpa Kriminalisasi
5 Peserta Meninggal...
5 Peserta Meninggal Dunia, Kemhan Evaluasi Latsarmil Calon Manajer Kopdes Merah Putih
Peserta SPPI Meninggal...
Peserta SPPI Meninggal Akibat TBC, Tim Seleksi Ungkap Pemeriksaan Awal hanya Terdeteksi Infeksi Paru
Demokrasi Belum Utuh...
Demokrasi Belum Utuh Jika Perempuan Masih Minim Keterwakilan
Infografis
Sensus Ekonomi 2026:...
Sensus Ekonomi 2026: Data untuk Memperkuat UMKM dan Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved