KH Said Aqil: Agresi Israel ke Palestina Timbulkan Nestapa Kemanusiaan

loading...
KH Said Aqil: Agresi Israel ke Palestina Timbulkan Nestapa Kemanusiaan
Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siradj menyebut agresi militer Israel ke Palestina timbulkan nestapa kemanusiaan. Foto/SINDOnews/komaruddin bagja arjawinangun
JAKARTA - Ketua Umum Pengurus Besar Nadhlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Sirad j menjelaskan bagaimana kekejaman zionis Israel terhadap warga Palestina. Ia menyatakan, penjajahan tersebut sudah berlangsung selama seabad lebih.

"Agresi Israel terhadap Palestina, untuk kesekian kalinya, telah menimbulkan nestapa kemanusiaan Konfiik telah berusia seabad dihitung sejak Deklarasi Balfour 1917, bersumber dan klaim bermasalah Israel atas tanah yang dijanjikan," kata Said di rumah dinas Dubes Palestina untuk Indonesia, Senin (17/5/2021). Baca juga: Ketua PBNU Desak Israel Hentikan Agresi Militer di Palestina

Ia menambahkan, Inggris mendukung national home bagi warga Yahudi di tanah yang telah ditempati bangsa Palestina. Konflik berdarah terus berlangsung sejak Israel secara sepihak, memproklamasikan berdirinya negara Israel pada 14 Mei 1948 tanpa batas wilayah yang jelas Dengan dukungan negara-negara Barat, Israel menegaskan batas wilayahnya melalui perang melawan negara-negara Arab, berturut turut pada 1949, 1967, dan 1973. Baca juga: Wakil Ketua BKSAP DPR RI Ajak Komunitas Global Hentikan Arogansi Israel

"Dengan kekuatan senjata, Israel menduduki Yerusalem Timur, Tepi Barat, Dataran Tinggi Golan, Gaza, dan Semenanjung Sinai. Klaim teritorial ini tidak diakui mayoritas negara, kecuali Amerika yang mengakui klaim Israel atas seluruh wilayah tersebut. Selama 50 tahun terakhir, Israel terus mengukuhkan pendudukannya dengan membangun permukiman bagi ratusan ribu warga Yahudi Yahudi, yang sebelumnya minoritas, kini menjadi mayoritas populasi yang menggusur bangsa Palestina," urainya.



Said menjelaskan, sayangnya dalam menghadapi Israel, para pejuang Palestina terbelah Fatah setuju solusi dua negara, sebagaimana disepakati dalam Perjanjian Oslo 1993, tetapi Hamas menolak dan tetap ingin mendirikan Palestina berdasarkan Islam, Fatah berhaluan nasionalis sekuler. Kedua faksi terkunci dalam perang saudara sejak 2006, Hamas menguasai Gaza, Fatah menguasa Tepi Barat. "Polarisasi faksi-faksi pejuang Palestina ikut menyulitkan proses penyelesaian konflik Israel-Palestina," tambahnya.

Saat ini dikabarkan ada 188 orang warga sipil, termasuk wanita dan anak anak yang meninggal dunia, serta 1.000 lebih korban luka-uka dan bangunan yang porak-poranda.
(cip)
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top