Pemuda Penanda Zaman

loading...
Pemuda Penanda Zaman
Zaedi Basiturrozak, Bendahara Umum PP. Pemuda Muhammadiyah.Foto/Istimewa
Zaedi Basiturrozak
Bendahara Umum PP. Pemuda Muhammadiyah

SESUNGGUHNYA pemuda adalah orang yang berkata “Inilah aku”. Bukan seseorang yang berkata “Inilah ayahku”. Ungkapan bijak tersebut merupakan bentuk pengakuan tentang siapa sesungguhnya jati diri sosial seorang pemuda. Mereka adalah sosok yang mampu mendefinisikan diri serta membentuk identitasnya tanpa bersandar kepada orang lain.

Dalam makna primer berarti orang yang masih muda secara fisiologis. Sementara itu, dalam makna sekunder adalah individu yang sedang mengalami fase perkembangan yang mengarah kepada kematangan psikologis.

Pemuda seyogyanya mengambil inspirasi dari sosok-sosok ayah lainnya yang memiliki spirit untuk berthan hidup bersama kelurganya. Pemuda belajar dari kisah inspiratif Bilal yang teguh dan gigih dalam mempertahankan pondasi ketauhidan, belajar dari kisah inspiratif para pemarkasa bangsa Indonesia seperti Soekarno, Bung Hatta dll. Mengambil mengambil teladan serta hikmah tokoh-tokoh pendahulu sampai yang populer dalam mengajarkan makna hidup.



Mengutip Istilah Yudi Latif dalam bukunya negara paripurna, Para pendiri bangsa adalah mereka yang menjadi teladan jenius nusantara yang telah merumuskan konsep dasar negara yang pada masa pembuahannya melahirkan konsep kesatuan nasional. Sebuah konsep yang muncul dari para negarawan jenius untuk mempersatukan keragaman yang dirumuskan dengan ideologi Pancasila (Yudi Latief 2011).

Pemuda Sebagai Inspirator

Seiring bergeraknya waktu dengan melintasi zamannya, pemuda selalu belajar dari inspirator-inspirator kehidupan. Karya serta gagasan pemuda menjadi corak disetiap masanya. Sikap keteladanan yang diajarkan Rasulullah saat hijrah ke Madinah dapat dijadikan tonggak peletakan konsep kenegarawanan. Keberhasilannya dalam mempertemukan dua kelompok berbeda yakni kelompok Anshor dan Muhajirin sesungguhnya tersimpan suatu nilai pengetahuan bahwa apapun latar belakang yang menempel pada jati diri manusia jika saling menghargai perbedaan akan melahirkan keharmonisan hidup yang damai. Inilah keteladanan sang Rasul sebagai sosok negarawan jika dilihat dalam konteks yang lebih luas.

Negarawan merujuk pada Plato adalah merupakan kebijaksanaan yang melahirkan kebajikan dari seorang ahli yang mampu menerjemahkan pengetahuan tentang negara dalam suatu ikhtiar menegakkan keadilan, kehormatan dan martabat manusia. Berani menghadapi kematian dengan kesederhanaan yang dapat merangkul segenap teman-teman kebajikan.

Teladan hikmah dari Timur juga bisa ditelusuri dari inspirator negara utama yaitu Al-Farabi. Negara dalam pandangannya harus memiliki tujuan utama yakni kebahagiaan. Karena itu negara harus dipimpin oleh orang yang jujur, amanah, cerdas dan mampu menyampaikan kabar dengan baik dan benar meskipun pahit. Tentu masih banyak pencerahan dari inspirator-inspirator lain yang tidak bisa disebutkan satu-persatu.

Seorang pemuda musti mengerti akan konsep negarawan sebagai suatu pengetahuan yang perlu dijadikan sumber referensi dalam setiap gerak sosialnya. Sehingga pemuda dalam ruang publik dapat mendefinisikan dan merumuskan arah politik sebagai tujuan kebahagiaan untuk mengelola keragaman cara pandang dan kepentingan yang majemuk.



Bahkan merebut ruang publik juga menjadi sebuah keniscayaan seorang pemuda meski harus berhadapan dengan masalah dan konsensus sosial yang ada. Namun demikian bukan berarti tunduk pada suatu kekuasaan politik, dan lebih jauh lagi ikut andil dalam diskursus yang praktis.

Pemuda memahami diskursus praktis dengan prosedur komunikasi yang mempertimbangkan umpan-balik sebagai kepatuhan dan konsensus bersama. Prasyaratnya menurut Habermas dalam (Menuju Masyarakat Komunikatif, F. Budi Hardiman: 1993), yang perlu dikantongi oleh para pemuda adalah mengimplementasikan idealisme komunikasi. Menurutnya, idealisasi ini merupakan proses komunikasi yang dibangun berdasarkan tujuan sebagai diskursus praktis. Maka diskursus ini memerlukan pola komunikasi yang baik berdasarkan proses yang mensyaratkan berlakunya prosedur komunikasi.

Disamping itu agar mencapai konsensus rasional, maka komunikasi itu harus terlaksana secara inklusif, egaliter dan bebas-dominasi. Penggunanaan bahasa komunikasi yang disepakati bersama secara konsisten akan menampilkan diskursus yang logis dan bergizi. Sejalan dengan itu, akses untuk memperoleh kesempatan yang sama, komunikasi yang diimplementasikan tidak berat sebelah, bahkan menghindari untuk menganggap pribadi-pribadi lainnya hanya sebatas sarana komunikasi.
halaman ke-1
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top