Publik Menanti Saham Gojek

loading...
Publik Menanti Saham Gojek
Pelepasan saham perdana Gojek diperkirakan akan meraup dana segar di atas Rp10 triliun. (Ilustrasi: SINDOnews/Wawan Bastian)
MESKI belum ada jadwal pasti kapan Gojek melepas saham di lantai bursa, calon investor baik besar atau institusi maupun ritel kini ramai membahasnya. Wajar saja investor menantikan saham Gojek yang berada di bawah bendera PT Aplikasi Karya Anak Bangsa karena statusnya sebagai perusahaan decacorn. Apalagi sebelumnya Gojek ramai diberitakan segera merger dengan Tokopedia sehingga semakin membuat ngiler untuk mendapatkan sahamnya. Sehubungan dengan itu, konsultan keuangan telah mewanti-wanti kepada investor milenial yang kini mulai ramai berinvestasi di pasar modal untuk membeli saham initial public offering (IPO) Gojek tidak dengan cara berutang. Karena itu siapkan dana dari sekarang bila memang ingin berinvestasi di Gojek.

Benarkah Gojek segera melepas saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) dalam waktu dekat? Sebelumnya telah berembus kabar bahwa PT Aplikasi Karya Anak Bangsa akan IPO pada awal semester dua tahun ini. Apabila Gojek jadi melantai di BEI, hal itu akan tercatat dalam sejarah sebagai IPO terbesar di Indonesia. Pasalnya pelepasan saham perdana Gojek diperkirakan akan meraup dana segar di atas Rp10 triliun. Apalagi setelah Gojek merger dengan Tokopedia. Kabar yang berkembang di kalangan analis pasar modal, dokumen IPO Gojek kini dalam proses di Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Namun manajemen Gojek memilih minim bicara seputar rencana IPO.

Sebelumnya rekor IPO terbesar dipegang oleh PT Adaro Energy Tbk. Perusahaan batu bara yang mencatatkan IPO pada 2008 itu berhasil mengumpulkan dana Rp 12,24 triliun. Lantas apakah Gojek akan mencatat rekor baru alias menumbangkan rekor IPO Adaro? Kalangan analis meyakini rekor IPO Adaro akan mudah dilewati apabila didahului merger Gojek dan Tokopedia. Saat ini valuasi Gojek berdasarkan versi CB Insights mencapai USD10,5 miliar dan Tokopedia sebesar USD 7,5 miliar. Nah, kalau berhasil merger, valuasinya sebesar USD 18 miliar atau setara Rp252 triliun pada kurs Rp 14.000 per USD. Bila menggunakan valuasi merger dengan target IPO 10%, hal itu akan meraup dana sedikitnya Rp25 triliun.

Karena itu pelaku pasar meyakini kepastian IPO Gojek menunggu terealisasinya rencana merger dengan Tokopedia. Bagaimana dengan kondisi pasar yang masih lesu sepanjang pandemi korona (Covid-19)? Lagi-lagi kalangan pelaku pasar modal tidak mengkhawatirkan kondisi pasar modal. Pasalnya saham Gojek kabarnya sebagian besar sudah ditawarkan kepada anchor investor yang berminat. Jadi pasar lesu bukan hal yang mengkhawatirkan karena porsi saham yang akan ditawarkan ke publik sebagian sudah terserap oleh anchor investor.

Sementara itu proses merger Gojek dan Tokopedia semakin santer. Bahkan isu yang berkembang ada yang mengatakan dokumen merger sudah ditandatangani, tetapi kabar lain mengabarkan dokumen merger akan diteken menjelang go public. Sayangnya informasi ini semakin berkembang liar di publik karena manajemen kedua perusahaan digital itu memilih irit bicara.



Chief of Corporate Affairs Gojek Nila Marita tidak membantah soal kabar Gojek dan Tokopedia merger. Ia hanya mengatakan bahwa ini hanya isu yang beredar. Sementara VP of Corporate Communications Tokopedia, Nuraini Razak, menyatakan belum ada info yang bisa dibagi. Hal itu disampaikan beberapa waktu lalu.

Namun lagi-lagi kabar yang berembus di publik semakin kencang. Bukan lagi persoalan jadi atau tidak merger kedua perusahaan karya anak bangsa itu. Kabar terbaru yang beredar, perusahaan hasil merger antara Gojek dan Tokopedia yang bernama Go To akan dinakhodai Andre Soelistyo yang kini menjabat Co-CEO Gojek. Andre sendiri adalah salah seorang motor di Gojek yang sukses melakukan diversifikasi layanan kepada konsumen. Dia berperan besar dalam penggalangan dana USD5 miliar dari sejumlah investor, di antaranya Google, Tencent Holdings, Astra International hingga Warburg Pincus. Sebelum gabung dengan Gojek, Andre Soelistyo bekerja di Northstar Group, salah satu investor awal Gojek. Lalu dia berkarier di Gojek pada 2015 dan empat tahun kemudian menjabat sebagai co-CEO Gojek.

Sekadar menyegarkan ingatan, Gojek hadir pada 2010 yang dibidani Nadiem Makarim. Awalnya Nadiem yang kini menjabat sebagai menteri pendidikan dan kebudayaan (mendikbud) mendirikan Gojek untuk memperbaiki transportasi di Indonesia, yang diawali dengan 20 pengemudi ojek. Namun tidak ada yang menyangka karya lulusan magister bisnis administrasi Harvard itu dapat menciptakan lapangan pekerjaan buat jutaan orang dan menjadi perusahaan dengan status decacorn. Kini perusahaan karya anak bangsa ini akan melepas saham dan menjadi incaran banyak investor pasar modal.
(bmm)
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top